Bahagia; setiap orang pasti mendambanya. Namun, tak
sedikit dari kita yang justru tak pernah merasakannya apalagi meraihnya.
Kebahagiaan seolah jauh dirasa untuk orang-orang yang belum menyadari
sepenuhnya bahwa kebahagiaan itu dekat. Bahagia sejatinya ialah terletak pada hati
kita. Ya, hati yang di dalamnya terdapat S3; Sabar dan Syukur, dan senantiasa
berbagi melalui Sedekah.
Pertama, sabar. Allah menggandeng sabar dengan
shalat karena keterikatan antara dua aktivitas ini. Shalat dilihat dari ibadah
jasmani, sedangkan bersabar dalam menjalani shalat agar istiqamah tepat waktu
dan kekhusyuannya, diperlukan kesabaran. Sabar
juga menjadi kebutuhan yang vital dalam setiap sendi kehidupan agar manusia
bisa berlapang dada menerima suratan takdir Tuhan. Keterkaitan antara sabar dan
shalat, Allah ungkap dalam surah Al-Baqarah ayat 45,“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang
demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu',”
Mendirikan shalat tentu maknanya lebih dalam dari
melaksanakan. Artinya, mendirikan berarti menjaga shalat sesuai dengan waktu
yang telah Allah perintahkan untuk kita. Karena sifatnya yang wajib, maka Allah
mewajibkannya kendati dalam keadaan genting, misalnya dalam kondisi perang.
Seperti yang tertera pada ayat di bawah ini.
“Maka apabila
kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu
duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka
dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah
fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (Qs
An-Nisaa: 103)
Sebagai ibadah yang telah diatur waktunya, dalam
surah Al-Mu’minuun ayat 2, Allah menjadikan shalat yang khusyu sebagai salah
satu ibadah yang akan diwariskan surga yang penuh kenikmatan. Pewarisan surga
ini, Allah setarakan dengan orang-orang yang pandai menjaga amanah, menjaga
kemaluan, meninggalkan ucapan tiada guna, dan terakhir, Allah menutupnya
(lagi-lagi) bagi orang yang menjaga waktu shalat.
Kedua, syukur. Dalam surah Ibrahim ayat 7, Allah
mengurai bahwa Dia akan melipatgandakan ni’mat-Nya bagi orang-orang yang mau
bersyukur. Bersyukur berarti menggunakan seluruh potensi diri untuk
melaksanakan seluruh perintah-Nya, begitu Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab memaparkan
arti syukur dalam kitab tafsirnya, Al-Mishbah.
Sebagai contoh, jika Allah menganugerahkan kita kepandaian, itu artinya Allah
Swt menghendaki kita untuk berbagi ilmu—dan itu merupakan satu bentuk
kesyukuran untuk-Nya.
Allah disebut juga Asy-Syakuur, yakni Dia menerima rasa terimakasih dari segenap hamba-Nya.
Yang dengan bersyukur, maka kita akan selalu merasa cukup dan percaya bahwa
rizqi telah diatur sehingga tak perlu beriri hati, dengki, hasad dan sejenisnya
dengan rizki yang Allah limpahkan kepada orang lain.
Imam Al-Ghazali mendefinisikan syukur sebagai usaha
untuk menghidupkan nikmat Allah dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang selalu
bersyukur disebut ‘syakuur’. Namun, syakuur berarti peraasaan untuk selalu
berterimakasih yang berkesinambungan, terus menerus, manis ataupun pahit atas
apa yang Allah berikan untuk kita. Jika itu takdir yang tak dikehendaki, maka ‘Syakuur’ akan tetap memuji Allah dan
bersyukur.
Pada akhirnya, sabar, syukur dan sedekah menjadi
tiga dimensi yang bersinergi –tidak hanya-- untuk mempererat hubungan kita pada
Allah, tapi juga hubungan kita pada sesama.
Jika kita mau merenung, kebahagiaan sejati
sesungguhnya sangat dekat, bahkan sangat dekat. Ia terletak di hati orang-orang
yang sabar ketika diuji, syukur ketika ni’mat datang membanjiri, dan menjaga
sedekah dalam tiap kondisi.
Untuk semua hamba-Nya, semoga kita senantiasa
berbahagia dalam kebaikan!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar