Senin, 04 Januari 2016

Raih Bahagia via S3



Bahagia; setiap orang pasti mendambanya. Namun, tak sedikit dari kita yang justru tak pernah merasakannya apalagi meraihnya. Kebahagiaan seolah jauh dirasa untuk orang-orang yang belum menyadari sepenuhnya bahwa kebahagiaan itu dekat. Bahagia sejatinya ialah terletak pada hati kita. Ya, hati yang di dalamnya terdapat S3; Sabar dan Syukur, dan senantiasa berbagi melalui Sedekah.
Pertama, sabar. Allah menggandeng sabar dengan shalat karena keterikatan antara dua aktivitas ini. Shalat dilihat dari ibadah jasmani, sedangkan bersabar dalam menjalani shalat agar istiqamah tepat waktu dan kekhusyuannya, diperlukan kesabaran. Sabar juga menjadi kebutuhan yang vital dalam setiap sendi kehidupan agar manusia bisa berlapang dada menerima suratan takdir Tuhan. Keterkaitan antara sabar dan shalat, Allah ungkap dalam surah Al-Baqarah ayat 45,“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu',”
Mendirikan shalat tentu maknanya lebih dalam dari melaksanakan. Artinya, mendirikan berarti menjaga shalat sesuai dengan waktu yang telah Allah perintahkan untuk kita. Karena sifatnya yang wajib, maka Allah mewajibkannya kendati dalam keadaan genting, misalnya dalam kondisi perang. Seperti yang tertera pada ayat di bawah ini.
Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (Qs An-Nisaa: 103)
Sebagai ibadah yang telah diatur waktunya, dalam surah Al-Mu’minuun ayat 2, Allah menjadikan shalat yang khusyu sebagai salah satu ibadah yang akan diwariskan surga yang penuh kenikmatan. Pewarisan surga ini, Allah setarakan dengan orang-orang yang pandai menjaga amanah, menjaga kemaluan, meninggalkan ucapan tiada guna, dan terakhir, Allah menutupnya (lagi-lagi) bagi orang yang menjaga waktu shalat.
Kedua, syukur. Dalam surah Ibrahim ayat 7, Allah mengurai bahwa Dia akan melipatgandakan ni’mat-Nya bagi orang-orang yang mau bersyukur. Bersyukur berarti menggunakan seluruh potensi diri untuk melaksanakan seluruh perintah-Nya, begitu Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab memaparkan arti syukur dalam kitab tafsirnya, Al-Mishbah. Sebagai contoh, jika Allah menganugerahkan kita kepandaian, itu artinya Allah Swt menghendaki kita untuk berbagi ilmu—dan itu merupakan satu bentuk kesyukuran untuk-Nya. 
Allah disebut juga Asy-Syakuur, yakni Dia menerima rasa terimakasih dari segenap hamba-Nya. Yang dengan bersyukur, maka kita akan selalu merasa cukup dan percaya bahwa rizqi telah diatur sehingga tak perlu beriri hati, dengki, hasad dan sejenisnya dengan rizki yang Allah limpahkan kepada orang lain.
Imam Al-Ghazali mendefinisikan syukur sebagai usaha untuk menghidupkan nikmat Allah dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang selalu bersyukur disebut ‘syakuur’. Namun, syakuur berarti peraasaan untuk selalu berterimakasih yang berkesinambungan, terus menerus, manis ataupun pahit atas apa yang Allah berikan untuk kita. Jika itu takdir yang tak dikehendaki, maka ‘Syakuur’ akan tetap memuji Allah dan bersyukur.
Pada akhirnya, sabar, syukur dan sedekah menjadi tiga dimensi yang bersinergi –tidak hanya-- untuk mempererat hubungan kita pada Allah, tapi juga hubungan kita pada sesama.
Jika kita mau merenung, kebahagiaan sejati sesungguhnya sangat dekat, bahkan sangat dekat. Ia terletak di hati orang-orang yang sabar ketika diuji, syukur ketika ni’mat datang membanjiri, dan menjaga sedekah dalam tiap kondisi.
Untuk semua hamba-Nya, semoga kita senantiasa berbahagia dalam kebaikan!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar