Minggu, 31 Januari 2016

Allah Tak Pernah Menunda Niat Baik Kecuali Dia Ganti Dengan Yang Lebih Baik


"Maaf, Na. Sepertinya acara kita tunda. Area pondok pesantren terkena musibah kebakaran. Nanti kita jadwalkan lagi tanggalnya ya," Demikian isi pesan singkat dari salah satu Ustadzah sekaligus Kakak kelas saya, Winda Fevlona, memberi informasi sekaligus meminta penjadwalan ulang acara Bedah Novel yang jauh-jauh hari telah kami atur.

"Semua santri selamat, Kak?" tanya saya. Kak Winda pun merespon tangkas bahwa tidak ada korban jiwa dalam musibah kebakaran di Kawasan Pulo Nangka Barat Jakarta Timur, Desember 2015 silam. Kebakaran yang melahap ratusan rumah itu kini hancur tak bersisa, dengan kebijakan ponpes, dengan amat sayang santripun dipulangkan, tindakan antisipatif untuk mengamankan mereka pula.

"Acara tetap harus ada ya, Na. Kapannya, nanti kita bahas lagi," demikian Ka Winda akhirnya menegaskan bahwa ini adalah penundaan bukan pembatalan yang takkan pernah terealisasi :)

Karena santri dipulangkan, acara bedah novel pun terpaksa ditunda karena sasaran acara ini adalah santri. Ya, santri puteri Al-Kenaniyah yang sudah saya anggap adik saya sendiri. Enam tahun saya hidup di ponpes ini; tidur, makan, belajar, mencuci, menyetrika, sekolah, bercengkrama, bersahabat, sampai kabur-kaburan tanpa izin (yang terakhir tolong jangan dicontoh ya :) ))

Ya, masa-masa yang menurut saya begitu indah dan berkesan adalah masa-masa pesantren. Sejak SMP/MTs sampai SMA/ MA, kedua orangtua saya, Appa dan Mama mempercayakan Al-Kenaniyah sebagai tempat belajar kami. Bukan karena memang harganya yang relatif murah dengan fasilitas wah, tapi juga karena jarak yang tidak terlalu jauh, memberuat keduanya mantap mengurung kami di penjara suci ini.. (Makasih Ma, Pa.. mungkin kalau De nggak mondok, entah De bagaimana sekarang :(, cukuplah Allah saja yang Maha Membalas kebaikan-kebaikan Mama dan Appa) ahaa #mewek!

Lanjut ke acara bedahnovel yang tertunda. sejujurnya saya sempat sedih dan down waktu itu, secara semangat lagi membara sekali ditambah semua persiapanpun sudah 90%. tapi  apa daya, Allah-lah yang punya kuasa..

selang beberapa minggu, menunggu santri selesai liburan.. alhasil rencana yang sempat tertundapun dijadwalkan kembali tepat di tanggal 17 Januari 2016..

---------Hari berjalan seperti biasa, tapi H-5, baby sakit dan harus dirawat----------

"Gimana, Na? Tetap diadakan?" tanya Ka Winda lagi. Saya berpikir lebih lama, jika memaksa untuk tetap diadakan, sepertinya terkesan dadakan, ditambah baby yang belum pulih benar. AKhirnya, dengan amat sedih, kali ini saya yang menunda acara tersebut..

Dalam hati sempat terbersit rasa buruk sangka kepada-Nya; Rabb, adakah ENgkau belum meridhai rencana ini? 

Hati terasa hampa tapi nurani mencoba menguatkan dan membisikkan bahwa 'Allah tidak pernah menunda niat baik, kecuali Dia ganti dg yg lebiiiiih baik,'

Berbekal keyakinan di atas, saya pun berusaha untuk membuang semua virus-virus pikiran negatif atas takdirNya dan mulai meyakini bahwa ada rahasia di balik penundaan-Nya..

Acara pun kami jadwalkan ulang mjd 31 Januari 2016. Dengan basmalah, kali ini saya pasrah... berharap rencana kali ini benar-benar berbuah barakah..

Pembicara yang dari jauh-jauh hari telah saya undang pun H-1 akhirnya memberikan jawaban bahwa beliau menyanggupi untuk menjadi motivator! ya, beliau adalah dosen sekaligus sudah saya anggap spt kakak saya sendiri. Di tengah kesibukan beliau mengajar dan terbang kesana sini untuk urusan kampus, meski baru tiba dari Sulawesi dini hari, belum sempat pula bertemu sang suami, ba'da subuh minggu pagi beliau pun bergegas ke Ponpes kami

Nampaknya, secercah harapan mulai bersinar. Ditambah pagi itu cuaca benar-benar cerah meski musim penghujan tiba.

Bismillah, bismillah dan bismillah....
akhirnya, rencana Launching, Bedah Novel, Kuliah Motivasi dan syukuran hari ini Alhamdulillah berjalan dengan lancar.. untuk kali ini, saya mengutuk diri saya sendiri yang sempat bersuudzhan kepada-Nya..

Pelajaran yang benar-benar bisa saya ambil adalah: Allah menunda launching ini karna Dia ingin memberikan kejutan untuk saya; buku kedua yang INSYAALLAH akan juga dibukukan (benar-benar tanpa harus letih mencari penerbit) dan ada tawaran untuk dibedah di tempat yang saya impikan :(

Allah, i feel ashame!
saya malu kepada-Nya. ketika prasangka saya dibalas dengan begitu santun oleh-Nya. Dan sesuatu kejutan lain yang tak pernah saya duga atas penundaan bedah novel saya adalah ketika dosen saya berkata,

"Siapkan berkas. Beasiswa 5000 doktor dari Kementerian Agama menanti. Ada permintaan khusus dari Prof dan Ibu langsung ingat kamu, Na!"

------Allahu Akbar--------
Sekali lagi, Allah berhasil membuat saya malu..
:(
:(

SEmoga tulisan ini mampu menginspirasi sahabat2 semua. Bahwa sebagai hamba, tak layak bagi kita untuk menaruh prasangka kurang baik pada-Nya. Percayalah, jika sudah waktunya, Allah akan mewujudkan semua keinginan kita; asal kita tak pernah putus doa, berharap, berbagi, berusaha dan tentu saja; berbuat baik!

Sebab Allah, tak pernah menunda sesuatu atau niat baik, kecuali Dia ganti dengan Yang Lebih Baik..

Salam Inspirasi!

Jumat, 29 Januari 2016

Tebarlah Kebaikan (InsyaAllah) Ada Balasan


"De, kamu diminta buat jadi penulis sejarah Islam. Redakturnya yang minta langsung,"

Isi pesan singkat suami suatu sore. Jleb! Penulis sejarah Islam? Kayaknya berat banget bayangannya, hehe..

"Lho? Kenapa?" jawab pesan singkat saya ke suami
"Iya, mungkin sudah saatnya kamu beralih ke konten yang lain. Jangan HIKMAH terus, hehe," jawabnya
"Lho kok redaktur tau kamu suamiku?"
"Eh iya ya, aku juga nggak tau kenapa dia bisa tau. Tau-tau aku ditegor. Gila ya, isteri Lo rajin banget nulis!"

hahaha, ketauan kan, mungkin iya tu redaktur mau muntah saya kirimin tulisan terus :)
----Saya pun berpikir sejenak----
Ada banyak jalan berlika liku sehingga saya ---dengan seizin Allah--- bisa sampai di titik ini..
Ya, setelah dipikir-pikir sudah hampir empat tahun ini (setelah saya putuskan mengubur mimpi menjadi wartawati), saya kerap menulis catatan singkat berupa pesan-pesan Al-Quran dan Hadits, lalu saya kirimkan ke sebuah media dimana sempat saya freelance untuk keperluan karya akhir strata satu; waktu itu.

Media Islam Nasional pertama yang berkantor di kawasan Warung Buncit, tepat berhadapan dengan mall esar nan elite sekitaran Pejaten. Apakah selama menulis saya dibayar? hehe, tentu tidak. Semua bisa dan boleh menulis hingga mungkin jika mau mengirimkan hasil tulisannya tapi harus siap bahwa jika tulisan dipublish, penulis tidak mendapatkan hal-hal yang berbau materi.

Pertimbangan saya bagaimana? Kok mau menulis tanpa menerima bayaran?

Sering sekali saya mendapat pertanyaan-pertanyaan bagus seperti di atas. Kalau saya diminta untuk menjawab, maka saya akan jawab bahwa menulis adalah berbagi. Ketika kita mampu menulis (tentu dengan izin dan ilmu dari Allah), itu berarti kita sedang berjuang melawan kemalasan) dan ketika tulisan kita pula menginspirasi banyak orang; itulah hakikat kehidupan sebenarnya; yakni berbagi.

Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang memberi manfaat kepada manusia lainnya?

Sejak karya saya dimuat di kolom HIKMAH (versi online) pertama kali, saya jadi ketagihan. Yang saya pikirkan waktu itu hingga kini adalah menulis dan menulis, tanpa memikirkan hadiah-hadiah atau kejutan di akhirnya..

Tibalah suatu hari, saya mencoba mencopy semua karya yang pernah dimuat dan saya print out satu persatu; Alhamdulillah, tak terasa hampir 100 tulisan termuat tapi hanya mampu saya print 60 tulisan saat itu. Dan akhirnya, saya berikan tulisan itu kepada salah satu rekan saya di Pusat Studi Al-Quran sewaktu saya berkesempatan mendapatkan beasiswa AL-Quran dengan bisa belajar langsung tafsir Al-Quran bersama pakar dan tentu saja dengan Prof Dr Muhammad Quraish Shihab.

Saat itu pun sama; saya hanya murni memberikan hasil tulisan saya saja tanpa berpikir akan bagaimana nasib puluhan artikel itu..

Dan awal tahun 2016 inilah jawabannya..
"Bisa datang ke penerbit Mbak? Kami tertarik membukukan kumpulan tulisan yang pernah Mbak kasih ke saya. Salam. Zayadi,"

Saya berpikir ulang, "Karya yang mana ya?" hampir lupa karena hampir dua tahun berlalu. AKhirnya tanpa mau bingung berkepanjangan, saya pun memenuhi undangan. Ternyata benar! kumpulan tulisan di media online yang pernah saya berikan ke beliau. HIKMAH.

Semua mengalir apa adanya...
Bismillah, saya setujui jika kumpulan tulisan itu dibukukan dengan harapan: mungkin akan memberikan banyak kebaikan.
Beberapa minggu berlalu, pihak editor manager pun akhirnya menghubungi saya lebih lanjut via mail.

"Bu, insyaAllah buku Ibu akan kami terbitkan di pertengahan bulan depan 2016 dan kalau Ibu tidak berkeberatan untuk launching sekaligus dibedah di Islamic Book Fair 2016. Ibu bersedia?"

-------Subhaanallah---------
Saya terima email itu, tepat saat anak saya masih opname di RS. Entah harus apa saya saat itu. Luapan bahagia yang sulit saya lukiskan. Antara senang dan ingin menangis. Betapa Allah selalu menepati janji-janji-Nya. Betapa dulu, saat saya ke IBF saya hanya mampu menatap para speaker di depan panggung dan berkhayal, "Kapan ya saya bisa duduk di sana?" ya, khayalan yang iseng-iseng belaka, namun akhirnya Allah-lah yang Maha Memberi Jalan dan membuka segala kemungkinan di tengah pikiran-pikiran saya yang merasa 'tidak mungkin'.

Akhirnya, pada Allah-lah saya berharap. Semoga hari H itu tiba, Allah masih memberi saya usia dan kesehatan..

Teruslah berbuat baik..
Sebab Allah Maha Baik..
Jangan pernah risau akan balasan..
Sebab Allah Maha Menyaksikan
Cukup Allah saja..
Ya, benar-benar cukuplah hanya Dia; yang Maha Membalas, dengan seindah-indahnya balasan...

Salam inspirasi!

Rabu, 27 Januari 2016

Rahmat-Nya Mengalahkan Murka



Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah, ia berkata, “Pernah aku bertanya kepada Nabi Saw. Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?” Nabi Saw menjawab, “Engkau menjadikan tandingan untuk Allah, padahal Dialah penciptamu,” aku lalu berkata, “Jika demikian, berarti syirik adalah dosa besar!” Kemudian aku bertanya lagi, “Lalu apa lagi ya Rasul?” Nabi menjawab, “Engkau membunuh anakmu karena khawatir (miskin).” Kemudian aku bertanya, “Lantas apa lagi ya Rasul?” Nabi Saw menjawab, “Engkau berzina dengan isteri tetanggamu.” (HR Bukhari; 7520)
Allah Al-Ghaffar; Allah menamai Dzat-Nya dengan Ghaffar yang berarti Maha Pengampun. Bukan tanpa alasan tentunya, sebab manusia senantiasa melakukan berbagai macam kesalahan dan dosa, maka dengan nama tersebut, mengindikasikan bahwa sepatutnya hanya kepada-Nyalah kita memohon ampunan.
Tiga dosa besar di atas yaitu syirik, membunuh anak karena takut miskin dan terakir berzina, masuk ke dalam sebesar-besarnya dosa yang Allah murkai. Namun, bukan berarti Allah tidak mau mengampuni. Dalam beberapa surah, Allah juga meletakkan dua asmaaul husna sekaligus dengan Al-Ghafur Ar-Rahiim; yang berarti Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Ini dapat diartikan bahwa setelah manusia menyerahkan dirinya dengan taubat nasuha dan terus memperbaiki diri, maka setelah itu ia pasti merasakan bahwasannya Allah-lah Maha Penyayang yang kasih sayangnya tak berbilang. Seperti dalam firman-Nya pada surah Al-An’am di bawah ini.
“.........Allah telah menetapkan atas diri-Nya sifat kasih sayang, bahwasannya siapa saja di antara kalian berbuat kejahatan karena kebodohan kemudian dia bertaubat dan (setelahnya) memperbaiki diri maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang,” (Qs. Al-An’aam: 54)
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda, ‘Ketika Allah menciptakan makhluk, maka Dia menuliskan dalam kitab-Nya (Lauhul Mahfudz) di sisi-Nya yang berada di atas Arsy dan ia berfirman, ‘Sesunggunya, rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku,” (HR Bukhari dan Muslim)
Menurut Abu Usamah Salim bin Idul Hilali dalam Bahjatun Nazirina Syaru Riyadis Shalihina, hadits tersebut memiliki beberapa faidah, di antaranya pertama, sebagai bukti bahwa Allah Maha Tinggi di atas makhluk-Nya. Dia berada di atas Arsy terpisah dari makhluknya. Kedua, menetapkan bahwa Allah memiliki sifat rahmat (kasih sayang) dan murka. Dua sifat ini tidak boleh ditakwilkan dengan kehendak memberikan pahala dan hukuman. Ketiga, Menerangkan bahwa rahmat Allah sangat luas meliputi semua hamba-Nya, tanpa pilih kasih dan rahmat Allah mengalahkan murka-Nya.
Kesalahan dan dosa memang tempatnya manusia, tapi, selalu ada Allah Yang Maha Pengampun dosa yang senantiasa menanti pertaubatan semua hamba-Nya. Tetaplah berkhusnudzan akan kebaikan-Nya; sebab rahmat Allah, mengalahkan murka-Nya.
Allahu a’lam

Selasa, 26 Januari 2016

Menyembuhkan Panjang Angan



Telah dekat kepada manusia dari menghisab segala amalan mereka sedang mereka dalam keadaan lalai lagi berpaling,” (Qs Al-Anbiya: 1)
Surah Al-Anbiya di atas diawali oleh satu petikan ayat yang mengingatkan kita kepada peristiwa mendatang yang pasti terjadi. Yaumul hisab atau hari perhitungan amal, digambarkan dalam Al-Quran akan terjadi secara tiba-tiba (baghtah) hingga peristiwa itu pun berat (tsaqulat) dilalui bagi seluruh makhluk langit dan bumi. Yaumul hisab juga berarti hari diperhitungkannya semua amalan manusia selama di dunia tanpa ada satupun yang terlewat; seluruhnya terhitung dengan amat cepat dan sempurna.
Setelah Allah menghitung amalan manusia seluruhnya, manusia pun akan menerima buku catatan amal mereka dengan berbagi cara pula: ada yang menerima dengan tangan kanan yang menandakan ia ada di posisi aman, ada pula yang menerima dengan memalingkan tubuh (balik punggung) karena ketakutan bahkan ia berteriak, ‘Celakalah aku!’. Kejadian ini diuraikan Allah dalam surah Al-Insyiqaq ayat 7-11.
Begitulah, peristiwa yang kelak akan terjadi. Namun, pada hakikatnya, semua orang ingin masuk surga. Semua orang ingin merasakan kenikmatan yang kekal abadi itu, Bahkan, pelaku maksiat pun tahu bahwa perbuatannya hanya berujung pada kesengsaraan, tapi mereka tak segera bertaubat. Mengapa?
Hal itu terjadi— kata Imam Al Ghazali—karena kebodohan dan panjang angan-angan. Dia bodoh dan berangan-angan bahwa masih ada hidup di hari esok, bulan esok, tahun esok yang bisa ia gunakan untuk bertaubat. Satu hal yang tidak disadari ialah bahwa kematian telah mengintainya; siap atau tidak siap.
Menurut Imam Ghazali pula, dua penyebab panjang angan-angan adalah kebodohan dan cinta dunia. Adapun bodoh, yaitu bahwa kadang-kadang manusia menggantungkan diri kepada masa mudanya, ia memandang bahwa masa muda jauh dari kematian. Kadang-kadang pula ia merasa jauh dari kematian karena ia sehat, padahal kematian bisa datang kapan saja ; tak peduli seorang hamba sedang sakit atau sehat sekalipun. Adapun cinta dunia, apabila hati seseorang cenderung mengikuti nafsu dan syahwatnya, kesenangan-kesenangan dan hubungannya dengan dunia sehingga hatinya berat berpisah dengannya dan menjadi penghalang untuk memikirkan kematian yang menjadi sebab perpisahannya. Jika seseorang mengingatkannya tentang kematian, maka ia benci dengannya.
Oleh karenannya, terapi terbaik untuk menyembuhkan panjang angan-angan adalah mencegah penyebabnya; yaitu menyadari kematian akan datang kapan saja ia datang menghampiri dan mencegah diri untuk tidak berlebihan mencintai dunia. Rasulullah Saw pun bersabda, “Cintailah sesuatu yang kamu cintai, tetapi kamu harus ingat bahwa kamu pasti akan berpisah dengannya,”. Melalui sabda ini, Rasulullah mengininkan umatnya agar meyakini benar bahwa harta dan anak-anak yang kita miliki dan kumpulkan selama di dunia takkan pernah kekal. Ia akan pergi meninggalkan begitu ruh meninggalkan jasadnya. Berbuat baik dan senantiasa menyiapkan bekal menghadapi kematian –yang akan mendatangi kita kapan saja—adalah salah satu cara menghindari diri dari pedihnya kematian yang buruk (suul khatimah). Wallahu a’lam.

Minggu, 24 Januari 2016

Adab Makan Ala Rasulullah



Sebagai makhluk yang membutuhkan makan dan minum untuk bertahan hidup, Allah Swt mengatur dengan sedemikian rupa agar makanan yang dikonsumsi manusia mampu menyehatkan jasmani dan ruhaninya. Salah satu pengaturanNya ialah dengan memakan makanan yang halal (tidak ada syariat yang mengharamkannya) juga makanan yang baik yaitu gizi yang seimbang. Tak hanya menyehatkan, diharapkan dari makanan itu ada keberkahan di dalamnya berkat rasa syukur dari seorang hamba kepada Rabbnya. Dalam Qs An Nahl ayat 114 Allah berfirman, “Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah
            Selain dianjurkan makan dengan makanan yang halal dan baik, Rasulullah Saw juga menganjurkan adab-adab makan agar makanan tersebut bisa dicerna dengan baik. Salah satunya adalah makan dengan tidak bersandar.
Dari Abu Juhaifah ra, ia berkata, “Suatu ketika aku berada di sisi Nabi Saw kemudian beliau bersabda kepada seorang laki-laki yang berada di sampingnya, “Aku tidak akan makan sambil (mutakki) bersandar,” (HR Al-Bukhari). Dalam hadits lain yang diriwayatkan dari Ibnu Umar ra ia berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Rasulullah telah melarang dua sikap makan yaitu duduk di hadapan makanan yang di depannya terdapat khamr dan seseorang yang  makan dalam keadaan tengkurap,” (HR Abu Daud)
Syaikh Ibnul Qayyim Al Jauziyah menuturkan bahwa dalam hadits di atas terdapat redaksi mutakki (bersandar). Ada beberapa penafsiran dari kata tersebut yaitu diantaranya; duduk bersila, ada pula yang menafsirkan dengan bersandar kepada sesuatu; atau ada pula yang mengartikan dengan telentang dengan posisi miring. Salah satu sikap makan yang telah tersebut di atas ialah tidak dianjurkan oleh Rasulullah. Bukan karena tanpa alasan, sudah tentu cara makan seperti itu membahayakan bagi orang yang makan. Sedangkan makan dengan posisi duduk diberi alas lalu bersandar adalah cara duduk para raja. Sedangkan dalam sabda Rasul yang lain, “Aku makan sebagaimana seorang hamba makan,” dan beliau makan dengan cara duduk di lantai, tanpa alas kain, bantal atau sejenisnya.
 Maka posisi duduk terbaik ketika makan apabila anggota-anggota tubuh berada pada posisi tabiatnya (asalnya) yaitu yang dianjurkan Rasulullah dengan duduk tegak di lantai, tidak membungkuk, mencuci tangan, menggunakan tangan kanan, berdoa, tidak terburu-buru, dan berhenti sebelum kenyang. Sedangkan jika kita makan dalam keadaan duduk miring, maka saluran makanan dari tenggorokan sampai usus besar dan organ-organ pencerna lainnya dalam keadaan menyempit.
Cara Rasulullah makan ini diperkuat oleh hadits Umar bin Abi Salamah “Ketika aku masih kecil dalam didikan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam, dan tanganku mengambil makanan dari segala sisi piring. maka berkata kepadaku Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam. “Wahai anakku, bacalah basmalah, dan makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah apa yang dekat darimu.” (HR Bukhori, Muslim, Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah)
Atau dalam hadits lain, “Sesungguhnya aku makan dengan tidak duduk bersandar pada bantal ataupun tidak meletakkan alas di bawah dubur, sebab cara seperti itu ialah duduknya para raja. Aku juga makan dalam keadaan sederhana, tidak lahap tidak juga lambat,” (HR Bukhari)
Sabda Rasulullah ratusan ribu tahun yang lalu tentang anjuran makan di lantai tanpa alas ini ternyata didukung oleh berbagai penemuan ilmiah, dua di antaranya ialah menurut PS Venkateshwara, penulis buku Yoga for Healing, duduk di lantai tak hanya membantu sistem pencernaan, tapi juga membantu sendi tetap lentur, fleksibel, dan kurang rentan terhadap cedera serta penyakit degeneratif seperti arthritis dan osteoporosis. Hal ini terjadi karena lutut, pergelangan kaki, dan sendi pinggul lentur sehingga membantu menjaga tetap fleksibel serta bebas dari penyakit. 
Kedua, sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal European Journal of Preventive Cardiology menemukan, orang yang duduk di lantai bisa bangun tanpa dukungan cenderung lebih lama hidup. Ini karena bisa bangun dari posisi duduk membutuhkan fleksibilitas yang cukup banyak dan kekuatan tubuh bagian bawah.
Studi ini menemukan, mereka yang tak bisa bangun tanpa dukungan berisiko 6,5 kali meninggal dalam enam tahun ke depan.
Subhaanallah, semoga Allah senantiasa memberikan kita kesehatan; melalui adab makan yang telah Rasulullah anjurkan. Aamiin

Rabu, 20 Januari 2016

Menuai Berkah Dari Musibah



Rasulullah Saw bersabda, “Tidaklah seseorang yang tertimpa musibah lalu dia mengucapkan Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun serta mengucapkan ‘Ya Allah, berilah aku pahala karena musibah ini dan berilah aku ganti yang lebih baik darinya,’ melainkan Allah memberikannya pahala atas musibah itu dan memberikan ganti yang lebih baik,” (HR Ahmad)
Sabda Nabi saw sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Muslim, menunjukkan bahwa kalimat yang diajarkan Nabi Saw tersebut merupakan pengobatan yang tepat bagi orang yang mendapat musibah, bermanfaat baginya di dunia dan di akhirat, yang apabila benar-benar dipahami maka dia akan terhibur karenanya. Kalimat ini mengandung dua dasar yang agung: pertama, seseorang hamba; keluarga dan harta bendanya adalah milik Allah. Semua itu diberikan kepada hamba sebagai pinjaman dari orang yang dipinjaminya. Kedua, tempat kembalinya hamba ialah kepada Allah yang berarti dia harus meninggalkan dunia, datang kepada Allah sendirian, sebagaimana dia menciptakannya pertama kali tanpa harta dan keluarga. Jika begini keadaannya, maka buat apa dia bergembira karena sesuatu yang ada dan sedih karena sesuatu yang lepas dari tangannya? demikian penuturan Ibnul Qayyim Al-Jauziyah.
Pernyataan Ibnul Qayyim ini diperkuat oleh ayat-ayat Allah dari beberapa surah dalam Al-Quran dengan sedikit penegasan bahwa dunia adalah sementara dan akhirat adalah yang utama (Qs Adh-Dhuha: 4). Atau dalam ayat lain menyatakan bahwa alam akhirat adalah kekal adanya, tidak seperti dunia yang fana keberadaannya (Qs Al-A’la: 17), yang pada intinya, kedua surah ini memberikan manusia pelajaran bahwa karena dunia tidak kekal abadi, maka manusia tak perlu bersedih hati—baik harta yang telah hilang darinya atau sanak saudara yang terlebih dulu dipanggil-Nya.
Terkadang, karena begitu indahnya dunia bagi sebagian manusia, ia dibuai dalam kelalaian terhadap dunia; ia pun terlena dan akhirnya banyak menumpuk harta. Kekayaan menjadi visi hidup dan akhirnya ia lupa bahwa jika saja yang Maha Memiliki berkehendak mengambil apa yang ia punya, niscaya Allah sanggup melakukannya. Dari uraian tersebut, Islam bukan tidak menganjurkan pemeluknya kaya materi, tapi, Islam lebih menganjurkan agar manusia memiliki kaya hati dan jiwa agar mereka sanggup menerima dengan lapang dada; cobaan Allah yang datang tak diduga.
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw bersabda, “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta dunia akan tetapi kekayaan yang hakiki adalah kaya akan jiwa,” (HR Bukhari Muslim).
Faishal bin Abd Aziz dalam Tathriz Riyadhi Shalihiina Hadits di atas menunjukkan bahwa kaya hakiki bukan banyaknya harta dunia disertai sikap rakus terhadapnya, tetapi kaya hakiki itu orang yang merasa cukup dengan sesuatu yang Allah berikan dan merasa rela dengan bagiannya. Kaya jiwa itu terpuji karena akan menjaga diri dari propaganda kerakusan, sehingga ia menjadi orang yang lemah.
Berkaitan dengan kaya, Ibnul Qayyim Al Jauziyah lebih lanjut memaparkan bahwa kaya (al-ghina’) terdiri atas dua macam. Kaya dengan Allah dan tidak membutuhkan yang lain selain Allah. Sebab, hakikat kecukupan ialah kaya hati dan jiwa, bukan kaya harta.
Semoga Allah mengaruniakan kita pahala dari sebuah musibah dan menjadikan hati  kita kaya; apapun kondisinya, Aamiin

Selasa, 19 Januari 2016

Sabar Menahan Lapar



Abu Hurairah ra pernah mengatakan, “Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, aku pernah menempelkan lambungku di atas tanah karena rasa lapar. Aku juga pernah mengikatkan beberapa batu di perutku karena rasa lapar. Pada suatu hari, aku pernah duduk di jalan yang biasa para sahabat lewati. Kemudian lewatlah Abu Bakar ra lalu aku bertanya tentang ayat dari Kitabullah (Al-Quran) dan aku tidaklah menanyakannya selain agar Abu Bakar menjamuku, namun ia tidak melakukannya. Setelah itu, lewatlah Umar bin Khattab ra, kemudian aku bertanya kepadanya tentang ayat dari Kitabullah (Al-Quran) dan aku tidaklah menanyakannya selain agar Abu Bakar menjamuku, namun ia tidak melakukannya. Setelah itu lewatlah Abul Qasim (Rasulullah Saw). Ketika melihatku, beliau tersenyum dan mengetahui apa yang tergambar di wajah dan hatiku. Beliau lalu bersabda, “Wahai Abu Hurairah,”. Aku menjawab, “Aku penuhi panggilanmu, wahai Rasulullah Saw.” Beliau bersabda, “Ikutlah,”. Lalu aku mengikuti beliau. Aku lalu meminta izin untuk masuk dan beliau mengizinkanku. Ternyata, aku mendapatkan susu di dalam mangkuk,” (HR Al- Bukhari, Shahih Bukhari, Juz 4, No 6452)
Hadits berisikian penuturan sederhana dari periwayat hadits ini, Abu Hurairah memberikan gambaran tentang perasaan hayaa’ (malu) meminta kepada manusia. Betapapun sang imam sangat merasakan lapar, beliau tidak serta merta meminta untuk dijamu atau diberi makanan. Beliau justeru mengalihkan keadaan dengan mengajukan pertanyaan kepada dua khalifah tentang suatu ayat, dan dua sahabat itupun rupanya belum peka terhadap rasa lapar luar biasa yang dirasakannya.
Allah Swt akhirnya Maha Mengetahui apapun yang dirasakan para hamba-Nya. Melalui Rasulullah Saw—yang juga tahu bahwa Abu Hurairah ra kelaparan, beliau dengan santun memberi semangkuk susu tanpa harus bertanya apakah ia lapar atau tidak. Sebab biasanya, orang lapar tergambar dari raut wajahnya.
Betapapun, melalui hadits ini, Abu Hurairah mengajarkan kita tiga kesabaran yaitu: sabar menahan lapar, sabar untuk tidak meminta kepada manusia dan sabar (sebab Allah tidak tinggal diam) menunggu jamuan-Nya.
Sikap dan sifat Abu Hurairah ra ini tak lepas dari akhlak yang diajarkan Rasulullah ra ajarkan kepada para sahabat. Rasulullah adalah utusan-Nya yang paling malu dalam meminta kepada selain-Nya. Bahkan dalam suatu hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah Saw terbiasa untuk berpuasa jika tidak memiliki makanan yang dapat dimakan hari itu. Bukan karena Rasulullah Saw irit dan miskin, beliau justeru memilih untuk tidak banyak mengisi perut untuk menghindari kekenyangan. Sebab, banyak dampak ketika kita terlalu kenyang.
Ibnul Qayyim Al-Jauziyah pernah menuturkan bahwa kebanyakan menyebabkan kemalasan, mengundang rasa kantuk, menghilangkan konsentrasi dan membuat kita malas beribadah. Oleh karenanya, sudah sepatutnya kita memulai untuk mengikuti adab Rasulullah Saw makan yakni berhenti sebelum kenyang dan kalau mampu, perbanyak berpuasa. Sebab berpuasa, membuat kita sehat.

Kamis, 14 Januari 2016

Belajar Tak Berbayar

Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu'alaikum , selamat pagi semua!
Semoga selalu dalam kesehatan prima, bs makan minum enak, nafas nikmat, bebas beraktivitas, juga terus menebar manfaat.. Aamiin

Being parents is being patient!
Yap .. itu kata terpantas buat saya saat ini.. huhu.. :(
Setelah hari minggu lalu (10 Jan 2016) anak terserang muntah-muntah hebat (dari siang malam itu sekitar 8 kali muntah), cukup membuat psikis saya melemah. Hmm.. gimana nggak, saya khawatir sangaaaaat. Anak yg biasanya cengengesan, main cap cip cup pakai jari dan telapak tangan, nunjuk nunjuk cicak dan lampu. Tetiba.... eng ing eng... dia melemah. Diajak ngomong susah, ketawa aplagi..

Btw mom n dad, abi n umi, ayah n bunda, ayah n ibu.. samakah perasaan kita ketika melihat anak sakit tak berdaya??

Saya yakin sama ya. Pasti kita engga tega. Kalau bs transfer sakitnya, pindah aja dehh huhuhu, ehehe jgn deh ya entar siapa yg ngrawat anak yg sakit :(

Well,
Saya dan suami utk antisipatif, langsung ke klinik langganan terdekat. Krn bidan idaman baby lg nanganin yg melahirkan, kami pun akhirnya ke dok umum yg kebetulan praktik malam itu. Bapak paruh baya berkulit hitam manis. Selesai hafiyya diperiksa, beliau cuma komen hafiyya makan apa.. yaa spt biasa dia sarapan, makan siang drumah neneknya dg bawa sayur dr rumah, tibatiba sj ini anak muntah, tepat bangun boo2..

Yasudah sprei tante2nya kotor deh gegara ini anak hahahaha...
Hbs itu yaa spt biasa, dy main2 lg mski kondisi melemah. Ketika sy coba kasi mam dan pisang... hafiyya muntah lagii! Dan itu berlanjut lho smp malam ketika kami berusaha ngasi makan smp tengah malam meski minum obat dr dokter klinik itu..
----------------------------****------------------------------------------------------------


Seninm 11 Januari 2016
RSUK Tebet, dr Ridha Tedjasari, Sp.A, M.Kes

Hafiyya pun langsung ke sp.A bulanannya di RSUK Tebet. Diagnosa beliau sama, mgkn krn makanan.. tp perhari ini.. Hafiya pakai tambahan demam.. pas disuhu itu sampe 38,9.. langsung deh ini anak dikasi paracetamol dan diresepi obat pereda mual..

Mendingankah???

Hehehe belum..
Ternyata., virus di tubuhnya masih ngajak becanda nih!!
Oke kami layani, hahahaha...

Di rumah.. smp tengah malam panas hafy turun naik moms.. sampe 40 derajat celcius. Tp keesokan harinya turun lagi.. dan perselasa 12 Jan, pup hafy mulai cair, bergas, bauuunya makin bau.. dan dia makiin lemes. Tp krn sy ga mau trll buru2, sy masih bertahan dg obat dr dokter dl dan waiting for reaction..

Smp selasa dini hari, hafy pupnya masi sama, bahkan smp tembus2 d pampers dan dia nungging tengkurep ga mau boboan..

Rabu 13 Januari, kami pun cek up lanjutan krn dia kembali muntah jam 10 pagi. Pagi itu suami lgsg bergegas pulang dr kantor dan kami cuss ke RSUK. Alhamdulillah pg itu sepi, dr Ridha dan asistennya yg udah hafallll bgt sm Hafy-- secara ya 7 bukan hafy eczema, usia 10 bulan dia mulai therapy daaan 12 bulan ini kesehatannya naik turun..

O Allah, trnyata ga ada ketenangan stlh mjd orgtua selain melihat anak yg sehat :(

Dg tanpa pikir panjang, dr Ridha lgsg menyarankan kami agar Hafy diopname, fifty opinion sih, tp utk keselamatan Hafy, kami pun bismillah.... ambl keputusan utk rawat Hafy dsini..

Akhrnya, per hari rabu.. hafy masuk UGD, si mungil diambil darahnya. Awalnya dia biasa aja, tp saat jarum masuk menusuùk.... diapun nangis meronta, jejeritan, smp dokter UGD Kewalahan..

Abinya?
Hmmm, sang perkasa itu ngumpet di luar daun pintu. Ngapain? Antara kasian, sayang dan ga tega pastinya, beliau menangiiiiss :( sdg saya? Sibuk menguatkan hafy, menguatkan dia bhw insyaallah semuanya fii amaanillah...

Saya lirik suami saya, dia masih sibuk menyeka airmatanya. Tapi skrg sdh mau mendekat ke puterinya

Hati kami mmg terguncang hebat mgkn saat itu, lbh tepatnya kami blm rela tangan mungil Hafiyya dtusuk2 oleh benda tajam hingga selang infus pun mengalirkan ringer lactat, antisipatif takut Hafy dehidrasi..

Dari peristiwa ini saya baru tersadar
Bahwz hidup adalah belajar
Dan ada saat dimana Allah langsung mjd pengajar
Mengetes sebuah sabar
Benar2 belajar gratis yang tak berbayar
Saat kami ditakdirkan mjd sepasang ayah dan ibu yang masih harus terus bersabar

Dan pelajaran berharga yg sy dapatkan dr selama hafiyya dirawat adalah pola asuh orangtua..
Disini, ada lima anak yg dirawat. Satu diare, dua tipes dan satu DBD.. dimana ketiga dari empat orgtua mrk mengutus keras, kasar dg ancaman ketika anaknya menolak makan atau minum obat.. entah knp saya nyeri dengernya. Liat anak sakit sj ga tega, apalagi membentak2 nya?

Ah, smoga Allah teruuuuus mengaruniakan sabar... aamiin

Saya yakin ini baru *gerbang*. Perjalanan mjd seorg tua belumlah usai. Masih akan sangat banyak kejutan kado kadoNya yang harus kita buka bersama..

Insyaallah kita kuat ya Nak..
Apapun kondisinya, Allah tak pernah tega meninggalkan kita

Hasbunallahu wani'mal wakiil. Ni'mal maulaa wani'man nashiir. Walaahaula walaa quwwata illa Billahil 'aliyyil 'adzhiim..

#StoryOfHafiyya

Selasa, 12 Januari 2016

Menyempurnakan Jihad



Dan barang siapa yang berjihad maka sesungguhnya ia berjihad untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya dari seluruh alam,” (Qs Al-Ankabut: 6)
 Jihad adalah satu kata yang berhasil membuat deskripsi pada benak manusia tentang seseorang yang bersemangat membawa alat perang, melawan orang-orang kafir di medan peperangan. Penggambaran tentang jihad seperti itu ialah potret minor dari makna jihad. Sedangkan jika kita memaknai jihad dari lingkup yang lebih luas adalah usaha diri untuk melawan hal-hal yang tidak baik—boleh jadi hal tersebut bersumber dari dalam diri (internal) maupun dari sisi eksternal yang datang dari godaan dan gangguan orang-orang kafir maupun munafik.
Dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al Khudry ra, ia berkata, seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw lalu bertanya, “Siapakah manusia yang paling utama?” Rasulullah Saw pun menjawab, “Seorang mukmin yang berjihad di jalan Allah Swt dengan jiwa dan hartanya....” (HR Bukhari dan Muslim). Menurut Dr Musthafa Sa’d Al-Khiin dalam Nuzhatul Muttaqiina Syarhu Riyaadhis Shaalihiina, hadits ini merupakan hadiah dari Allah betapa orang-orang yang berjihad adalah seutama-utamanya manusia. Sebab tentu saja, bagi sebagian besar orang, jihad itu tidaklah mudah—terlebih jihad melawan hawa nafsu diri sendiri.
Mengenai jihad, Syaikh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dalam Zaadul Ma’aadi fii Hadyi Khayril Ibaadi, menguraikan bahwa jihad terbagi menjadi empat tingkatan yaitu pertama, jihad melawan hawa nafsu, yang terdiri atas empat tingkatan pula; yaitu memerangi hawa nafsu dengan petunjuk agama yang benar, berjihad melawan hawa nafsu dengan amal setelah ilmu, berjihad melawan hawa nafsu dengan mendalami ilmu dan mengajarkannya kepada oranglain dan terakhir ialah berjihad melawan hawa nafsu dengan cara bersabar menghadapi kesulitan dakwah kepada Allah dan gangguan manusia. Jika empat tingkatan ini telah terwujud dengan sempurna dalam diri seseorang, maka dia termasuk Rabbaniyyiin sehingga dia mengetahui kebenaran dan mengamalkannya.
Kemudian, jihad tingkatan kedua yakni jihad melawan  setan; terdiri atas dua tingkatan yaitu berjihad melawan setan dengan cara menolak apa-apa yang disusupkan kepada seorang hamba seperti syubhat dan keraguan yang dapat menodai keimanan. Kedua, berjihad melawan setan dengan menolak keinginan-keinginan nafsu yang buruk, Jihad yang pertama menghasilkan keyakinan sementara jihad yang kedua menghasilkan kesabaran.
Ketiga, Jihad melawan orang-orang kafir. Keempat, Jihad melawan orang-orang munafik. Kedua jenis jihad ini terdiri atas empat tingkatan yaitu memerangi mereka dengan hati, lisan, harta dan jiwa. Jihad melawan orang kafir lebih khusus menggunakan tangan sedangkan jihad melawan orang munafik lebih khusus menggunakan lisan.
Hamba yang paling sempurna di sisi Allah Swt ialah mereka yang menyempurnakan seluruh tingkatan jihad ini. Oleh karenanya, manusia tingkatan pertama yang mampu menyempurnakan seluruh jihad ini adalah para Nabi dan Rasul dan yang paling sempurna dari di antara mereka adalah Rasulullah Saw. Beliau sanggup menyempurnakan semua jenis tingkatan jihad ini. Beliau telah diperintahkan berjihad setelah diabgkat menjadi Rasul hingga meninggal dunia.
Lalu bagaimana dengan kita hamba Allah yang masih banyak melakukan dosa? Jihad adalah salah satu upaya untuk meraih ridha dan ampunan-Nya. Memang sulit, tapi kesulitan itu insyaAllah berbuah pahala dan ketenangan yang luar biasa.
Mari, sempurnakan jihad.. J

Senin, 11 Januari 2016

Memaksimalkan Dua Penglihatan



Allah Swt telah menciptakan  manusia dengan kesempurnaan yang luar biasa dibandingkan dengan makhluk hidup yang lain. Penciptaan serangkaian indera hasil Maha Karya-Nya itu berfungsi dengan baik juga sesuai dengan kondisi manusia itu sendiri. Dari ujung rambut, hingga ujung kaki, tidak ada penciptaan yang dapat kita dustai manfaatnya; sekecil apapun. Namun, seringkali manusia lalai untuk mensyukurinya. Padahal, andai saja manusia mau merenung, mereka temukan bahwa jika satu saja panca indera ciptaan-Nya enggan untuk berfungsi, pasti mereka tidak mampu untuk memaksimalkan potensi diri.
Tak ubahnya dengan mata. Pemberian indera dua penglihatan ini sangatlah bermanfaat bagi seluruh makhluk hidup tak terkecuali manusia. Jika salah satunya saja sakit atau hilang fungsinya, manusia akan merasa tidak berdaya. Selain memang banyak yang ditakdirkan untuk tidak dapat melihat betapa indah-Nya ciptaan Allah melalui fungsi mata, Allah tetap tidak membedakan manusia dari fisiknya. Inna akramakum indallahi atqaakum—Sungguh Allah memuliakan kalian karena ketaqwaan, demikian Allah uraikan dalam Qs Al Hujuraat: 6, bukan saja karena sempurna dan lengkapnya fisik manusia. Oleh karenanya, meski ada beberapa saudara kita yang kurang sempurna secara fisik, tidak sedikit dari mereka justeru sangat giat beribadah dan istimewa di hadapan-Nya.
Dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw bersabda, “Ada dua mata yang dihindarkan Allah dari siksa api neraka, yakni mata yang menangis ketakutan karena dosa dan mata yang terjaga demi jihad di jalan-Nya,” (HR Tirmidzi)
Poin penting dari hadits di atas adalah bentuk kemaksimalan manusia dalam mensyukuri ni’mat penglihatan pemberian Tuhan. Hadits tersebut tidak menyebutkan bentuk mata, keindahannya, jenis mata siapa, melainkan bagaimana sebaiknya mata difungsikan demi kebaikan. Ada dua mata yang telah disebutkan di atas yakni mata yang senantiasa menangisi dosa-dosa karena saking banyak dan takut tak diampuni Allah. Juga mata yang terjaga pada waktu peperangan atau jihad di jalan-Nya berupa bangun malam (qiyamullalil) dan tadarus. Dimana dua rutinitas ibadah itu adalah seutama-utamanya ibadah dimana doa-doa pasti diijabah. Bacaan quran pun demikian, langsung disaksikan oleh para malaikat Allah, demikian intisari dari firman Allah Qs Al-Muzzammil ayat 1-6.
Setidaknya, jika diri kita belum sanggup memaksimalkan dua penglihatan, ada usaha sungguh-sungguh untuk benar-benar menggunakan dua mata kepada hal-hal yang diridhai Allah. Berusaha untuk mengurangi atau melihat hal-hal negatif adalah salah satu cara agar mata mudah menangis; baik menangis karena hati yang terharu akan kebesaran-Nya maupun diri yang malu karena betapa banyak dosa yang dilakukan akibat lemahnya menjaga pandangan.
Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk memaksimalkan potensi penglihatan. Aamiin

Rabu, 06 Januari 2016

Berkah Menahan Amarah



Marah; siapa yang tak mengenal istilah ini? Sebagai makhluk yang dibekali hawa nafsu, tentu semua manusia pernah mengalami sebab marah juga termasuk luapan emosi. Marah juga merupakan satu bentuk ekspresi manusia ketika ada seseorang yang berbuat salah maupun sesuatu yang tidak dikehendakinya. Marah adalah manusiawi, namun ketika luapan emosi ini tak sanggup mengontrol diri, maka akibat yang kurang baik pun akan sangat mungkin menghampiri.
Semua orang mampu marah sebab marah itu sangatlah mudah. Namun, marah terhadap orang yang tepat, dalam situasi yang benar, dengan cara yang sesuai, tentu bukanlah perkara yang mudah, demikian uraian filsuf Yunani, Aristoteles. Karena mudah itulah, banyak manusia tergelincir dan berlomba mengumbar amarahnya kendati kesalahan itu kecil.
Dalam surah surat Ali Imran, Allah berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik pada waktu lapang maupun sempit, serta orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS Ali Imran [3]: 134)”
Disebutkan dalam firman Allah SWT mengenai lafadz wa al-kâzhimîn al-ghayzh (dan orang-orang yang menahan amarahnya). Kalimat ini ma’thûf (bersambung) dengan kalimat sebelumnya. Adanya perubahan shîghah dari yang sebelumnya berbentuk al-fi’l menjadi al-fâ’il mengandung makna li al-istimrâr, yakni keadaan yang berlangsung terus-menerus. Artinya, perilakunya yang dapat menahan marah itu tidak hanya dilakukan sekali atau dua kali, namun telah menjadi bagian dari karakter yang melekat pada diri mereka.
Menurut sebagian besar para mufassir, kata al-ghayzh berarti al-ghadhab (marah). Hayyan al-Andalusi dalam Tafsîr al-Bahr al-Muhîth, mengatakan bahwa Perasaan marah biasanya dilampiaskan dalam bentuk ucapan seperti umpatan, celaan, dan semacamnya; atau dalam bentuk perbuatan seperti memukul, menendang, dan semacamnya. Menahan marah berarti menahan diri dari ucapan atau perbuatan yang menjadi bentuk pelampiasan marah tersebut.
Al-Khazin menjelaskan, kata al-kazhm berarti menahan sesuatu ketika sesuatu itu telah penuh. Dengan demikian, ungkapan al-kâzhimîn al-ghayzh memberikan makna bahwa ketika seseorang dipenuhi oleh kemarahan, maka kemarahan itu hanya tertahan dalam rongga perutnya; tidak ditampakkan dalam ucapan dan perbuatan; tetap bersabar dan diam atasnya. Artinya, ayat ini mengandung makna, “Mereka menahan diri untuk melampiaskan kemarahannya dan mampu menahan kemarahan hanya dalam rongga perutnya. Ini adalah salah satu jenis sifat sabar dan al-hilm (sabar, murah hati).”
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa suatu saat ada seorang laki-laki yang datang kepada Rasulullah saw. untuk meminta nasihat. Beliau pun bersabda, “Lâ taghdhab (Jangan marah)!” Ketika pertanyaan itu diulangi, Beliau pun memberikan jawaban yang sama. Dengan demikian, menahan marah merupakan akhlak terpuji yang diperintahkan. Sebagai balasannya, pelakunya dijanjikan mendapat pahala yang amat besar. Sahal bin Muadz, dari Anas al-Jahni, dari bapaknya, menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Siapa saja yang menahan marah, padahal dia mampu melampiaskannya, maka Allah akan memanggilnya pada Hari Kiamat di atas kepala para makhluk hingga dipilihkan baginya bidadari yang dia sukai (HR at-Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah)”.
Berkenaan dengan marah, Islam tak hanya memerintahkan umatnya untuk menahannya. Lebih dari itu, syariah juga mengajarkan metode untuk meredakan kemarahan. Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya marah itu dari setan dan sesungguhnya setan itu diciptakan dari api, sementara api bisa dipadamkan oleh air. Karena itu, jika salah seorang di antara kalian sedang marah, hendaklah dia berwudhu (HR Abu Dawud dari Athiyah)”.
Rasulullah saw. juga bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian sedang marah dalam keadaan berdiri, hendaklah dia duduk jika kemarahan itu dapat hilang. Apabila (kemarahan) itu tidak hilang, hendaklah dia berbaring (HR Abu Dawud dari Abu Dzar)”.
Menahan marah itu memang tidak mudah mengingat sumber amarah itu berasal dari setan. Namun, kabar baiknya, selain menyehatkan badan dan pikiran, menahan marah mampu mendatangkan barakah.. Seperti kata-kata Umar bin Khattab, “Aku mencari keberkahan dari sebagian besar pintu-pintu rezeki dan tidaklah kutemukan keberkahan itu selain dari sabar, “ (Umar bin Khattab ra).


Senin, 04 Januari 2016

Raih Bahagia via S3



Bahagia; setiap orang pasti mendambanya. Namun, tak sedikit dari kita yang justru tak pernah merasakannya apalagi meraihnya. Kebahagiaan seolah jauh dirasa untuk orang-orang yang belum menyadari sepenuhnya bahwa kebahagiaan itu dekat. Bahagia sejatinya ialah terletak pada hati kita. Ya, hati yang di dalamnya terdapat S3; Sabar dan Syukur, dan senantiasa berbagi melalui Sedekah.
Pertama, sabar. Allah menggandeng sabar dengan shalat karena keterikatan antara dua aktivitas ini. Shalat dilihat dari ibadah jasmani, sedangkan bersabar dalam menjalani shalat agar istiqamah tepat waktu dan kekhusyuannya, diperlukan kesabaran. Sabar juga menjadi kebutuhan yang vital dalam setiap sendi kehidupan agar manusia bisa berlapang dada menerima suratan takdir Tuhan. Keterkaitan antara sabar dan shalat, Allah ungkap dalam surah Al-Baqarah ayat 45,“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu',”
Mendirikan shalat tentu maknanya lebih dalam dari melaksanakan. Artinya, mendirikan berarti menjaga shalat sesuai dengan waktu yang telah Allah perintahkan untuk kita. Karena sifatnya yang wajib, maka Allah mewajibkannya kendati dalam keadaan genting, misalnya dalam kondisi perang. Seperti yang tertera pada ayat di bawah ini.
Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (Qs An-Nisaa: 103)
Sebagai ibadah yang telah diatur waktunya, dalam surah Al-Mu’minuun ayat 2, Allah menjadikan shalat yang khusyu sebagai salah satu ibadah yang akan diwariskan surga yang penuh kenikmatan. Pewarisan surga ini, Allah setarakan dengan orang-orang yang pandai menjaga amanah, menjaga kemaluan, meninggalkan ucapan tiada guna, dan terakhir, Allah menutupnya (lagi-lagi) bagi orang yang menjaga waktu shalat.
Kedua, syukur. Dalam surah Ibrahim ayat 7, Allah mengurai bahwa Dia akan melipatgandakan ni’mat-Nya bagi orang-orang yang mau bersyukur. Bersyukur berarti menggunakan seluruh potensi diri untuk melaksanakan seluruh perintah-Nya, begitu Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab memaparkan arti syukur dalam kitab tafsirnya, Al-Mishbah. Sebagai contoh, jika Allah menganugerahkan kita kepandaian, itu artinya Allah Swt menghendaki kita untuk berbagi ilmu—dan itu merupakan satu bentuk kesyukuran untuk-Nya. 
Allah disebut juga Asy-Syakuur, yakni Dia menerima rasa terimakasih dari segenap hamba-Nya. Yang dengan bersyukur, maka kita akan selalu merasa cukup dan percaya bahwa rizqi telah diatur sehingga tak perlu beriri hati, dengki, hasad dan sejenisnya dengan rizki yang Allah limpahkan kepada orang lain.
Imam Al-Ghazali mendefinisikan syukur sebagai usaha untuk menghidupkan nikmat Allah dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang selalu bersyukur disebut ‘syakuur’. Namun, syakuur berarti peraasaan untuk selalu berterimakasih yang berkesinambungan, terus menerus, manis ataupun pahit atas apa yang Allah berikan untuk kita. Jika itu takdir yang tak dikehendaki, maka ‘Syakuur’ akan tetap memuji Allah dan bersyukur.
Pada akhirnya, sabar, syukur dan sedekah menjadi tiga dimensi yang bersinergi –tidak hanya-- untuk mempererat hubungan kita pada Allah, tapi juga hubungan kita pada sesama.
Jika kita mau merenung, kebahagiaan sejati sesungguhnya sangat dekat, bahkan sangat dekat. Ia terletak di hati orang-orang yang sabar ketika diuji, syukur ketika ni’mat datang membanjiri, dan menjaga sedekah dalam tiap kondisi.
Untuk semua hamba-Nya, semoga kita senantiasa berbahagia dalam kebaikan!


Rabby Zidnii 'Ilman



Allah Al-Wahhab; Dia menamai diri-Nya dengan sebutan Wahhab sebagai akar kata dari wa-ha-ba yang artinya Maha Pemberi. Dia memberi tidak sebatas apa yang dipinta hamba-Nya, tapi juga apa-apa yang tidak dipinta hamba-Nya yang tak terbatas pada kepentingan demi kemaslahatan manusia misalnya kesehatan, rezeki, ni’mat menggunakan panca indera dan lain sebagainya. Tak terbayangkan bukan jika sedetik saja Allah menghentikan ni’mat sehat, misalnya. Sekali Dia menghentikan ni’mat itu, niscaya keni’matan-keni’matan yang lain pun akan sirna. Sama halnya dengan ni’mat bernafas. Jika saja kita harus membayar betapa ni’matnya bisa bernafas, niscaya satu manusia terkaya sekalipun takkan sanggup membayar nafas harian yang telah dihirup olehnya.
Namun sayangnya, ni’mat-ni’mat yang telah disebutkan di atas tadi sering abai untuk disyukuri sebagaian besar manusia. Manusia terkadang terhalau oleh pesona harta dunia sehingga ia hanya mensyukuri yang dzahir saja; harta maupun tahta. Padahal, jika kita mau merenung sejenak dengan hati yang bersih dan tenang, nimat memiliki harta yang berlimpah, gaji yang menjulang tinggi, anak-anak banyak yang cerdas, semua itu tidak bisa kita rasakan ketika sedikit saja rasa sakit menghampiri tubuh ini. Oleh karenanya, dengan santun, Allah mengajarkan hamba-Nya do’a terbaik yang telah terpatri dalam firman surah Thaha ayat 114 di bawah ini,
Dan katakanlah, Wahai Tuhanku, tambahkan untukku ilmu,” (Qs Thaha: 114)
Dalam hidup, kita memang membutuhkan harta, kedudukan, kekayaan, tapi itu semua tidak diminta sebagai doa yang diperbanyak. Sebab harta, kekuasaan dan sebagainya itu bisa menjadi sia-sia bahkan menjadi boomerang tatkala si empunya harta (lebih tepat yang dititipkan harta oleh Allah) itu tidak memiliki ilmunya.
Qarun adalah satu contoh manusia dimana ia diamanahi banyak sekali harta; hingga keledainya saja tak sanggup memanggul kunci-kunci perbendaharaan harta Qarun. Ia yang dulunya sangat fakir, kemudian didoakan oleh Nabiyallah Musa as dan diajarkan mengolah emas. Hingga suatu ketika usahanya itu laris dan berbuah manis; Qarun justru makin sinis dan bengis; ia enggan berzakat. Bahkan, ia menyombongkan diri bahwa hartanya itu ia peroleh karena ketekunannya. Bukan seizin Allah.
Tapi, cukupkah hanya dengan ilmu? Ilmu saja tidak cukup. Ilmu adalah nimat tapi juga bencana. Bagaimana bisa? Kita memahami bahwa betapa nimatnya orang yang berilmu. Karena setiap perbuatan didasarkan pada ilmu sehingga tidak sesat. Tapi ilmu yang tidak didasari pada keimanan kepada Allah, akan membawa kepada bencana. Oleh karenanya, ilmu juga harus dilandasi dengan keimanan kepada Allah. Dengan kata lain, ilmu adalah atap dari sebuah bangunan, sedangkan keimanan adalah pondasinya. Karena, jika hanya berilmu, belum menjamin seseorang akan takut kepada Rabbnya. Sedangkan dalam Qs Fathir Allah berfirman bahwa sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Allah adalah ulama’ (yakni orang-orang yang berilmu).
Oleh karenanya, sudah sepatutnya, kita lakukan perubahan dimulai dari doa; memohon keimanan yang kokoh, badan yang sehat dan ilmu yang bermanfaat. Jika ketiganya sudah ada dan diseimbangkan, insyaAllah kita akan selamat dunia akhirat.