“Telah dekat kepada manusia dari menghisab
segala amalan mereka sedang mereka dalam keadaan lalai lagi berpaling,” (Qs
Al-Anbiya: 1)
Surah
Al-Anbiya di atas diawali oleh satu petikan ayat yang mengingatkan kita kepada
peristiwa mendatang yang pasti terjadi. Yaumul
hisab atau hari perhitungan amal, digambarkan dalam Al-Quran akan terjadi
secara tiba-tiba (baghtah) hingga
peristiwa itu pun berat (tsaqulat) dilalui
bagi seluruh makhluk langit dan bumi. Yaumul
hisab juga berarti hari diperhitungkannya semua amalan manusia selama di
dunia tanpa ada satupun yang terlewat; seluruhnya terhitung dengan amat cepat
dan sempurna.
Setelah
Allah menghitung amalan manusia seluruhnya, manusia pun akan menerima buku
catatan amal mereka dengan berbagi cara pula: ada yang menerima dengan tangan
kanan yang menandakan ia ada di posisi aman, ada pula yang menerima dengan memalingkan
tubuh (balik punggung) karena ketakutan bahkan ia berteriak, ‘Celakalah aku!’.
Kejadian ini diuraikan Allah dalam surah Al-Insyiqaq ayat 7-11.
Begitulah,
peristiwa yang kelak akan terjadi. Namun, pada hakikatnya, semua orang ingin
masuk surga. Semua orang ingin merasakan kenikmatan yang kekal abadi itu,
Bahkan, pelaku maksiat pun tahu bahwa perbuatannya hanya berujung pada
kesengsaraan, tapi mereka tak segera bertaubat. Mengapa?
Hal itu
terjadi— kata Imam Al Ghazali—karena kebodohan dan panjang angan-angan. Dia bodoh
dan berangan-angan bahwa masih ada hidup di hari esok, bulan esok, tahun esok
yang bisa ia gunakan untuk bertaubat. Satu hal yang tidak disadari ialah bahwa
kematian telah mengintainya; siap atau tidak siap.
Menurut Imam
Ghazali pula, dua penyebab panjang angan-angan adalah kebodohan dan cinta dunia.
Adapun bodoh, yaitu bahwa kadang-kadang manusia menggantungkan diri kepada masa
mudanya, ia memandang bahwa masa muda jauh dari kematian. Kadang-kadang pula ia
merasa jauh dari kematian karena ia sehat, padahal kematian bisa datang kapan
saja ; tak peduli seorang hamba sedang sakit atau sehat sekalipun. Adapun cinta
dunia, apabila hati seseorang cenderung mengikuti nafsu dan syahwatnya,
kesenangan-kesenangan dan hubungannya dengan dunia sehingga hatinya berat
berpisah dengannya dan menjadi penghalang untuk memikirkan kematian yang
menjadi sebab perpisahannya. Jika seseorang mengingatkannya tentang kematian,
maka ia benci dengannya.
Oleh
karenannya, terapi terbaik untuk menyembuhkan panjang angan-angan adalah
mencegah penyebabnya; yaitu menyadari kematian akan datang kapan saja ia datang
menghampiri dan mencegah diri untuk tidak berlebihan mencintai dunia.
Rasulullah Saw pun bersabda, “Cintailah
sesuatu yang kamu cintai, tetapi kamu harus ingat bahwa kamu pasti akan
berpisah dengannya,”. Melalui sabda ini, Rasulullah mengininkan umatnya
agar meyakini benar bahwa harta dan anak-anak yang kita miliki dan kumpulkan
selama di dunia takkan pernah kekal. Ia akan pergi meninggalkan begitu ruh
meninggalkan jasadnya. Berbuat baik dan senantiasa menyiapkan bekal menghadapi
kematian –yang akan mendatangi kita kapan saja—adalah salah satu cara
menghindari diri dari pedihnya kematian yang buruk (suul khatimah). Wallahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar