Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan
oleh Abdullah, ia berkata, “Pernah aku
bertanya kepada Nabi Saw. Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?” Nabi Saw
menjawab, “Engkau menjadikan tandingan untuk Allah, padahal Dialah penciptamu,”
aku lalu berkata, “Jika demikian, berarti syirik adalah dosa besar!” Kemudian
aku bertanya lagi, “Lalu apa lagi ya Rasul?” Nabi menjawab, “Engkau membunuh
anakmu karena khawatir (miskin).” Kemudian aku bertanya, “Lantas apa lagi ya
Rasul?” Nabi Saw menjawab, “Engkau berzina dengan isteri tetanggamu.” (HR
Bukhari; 7520)
Allah Al-Ghaffar; Allah menamai
Dzat-Nya dengan Ghaffar yang berarti Maha Pengampun. Bukan tanpa alasan
tentunya, sebab manusia senantiasa melakukan berbagai macam kesalahan dan dosa,
maka dengan nama tersebut, mengindikasikan bahwa sepatutnya hanya kepada-Nyalah
kita memohon ampunan.
Tiga dosa besar di atas yaitu syirik,
membunuh anak karena takut miskin dan terakir berzina, masuk ke dalam
sebesar-besarnya dosa yang Allah murkai. Namun, bukan berarti Allah tidak mau
mengampuni. Dalam beberapa surah, Allah juga meletakkan dua asmaaul husna
sekaligus dengan Al-Ghafur Ar-Rahiim;
yang berarti Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Ini dapat diartikan bahwa
setelah manusia menyerahkan dirinya dengan taubat nasuha dan terus memperbaiki
diri, maka setelah itu ia pasti merasakan bahwasannya Allah-lah Maha Penyayang
yang kasih sayangnya tak berbilang. Seperti dalam firman-Nya pada surah Al-An’am
di bawah ini.
“.........Allah telah menetapkan atas diri-Nya sifat kasih sayang, bahwasannya
siapa saja di antara kalian berbuat kejahatan karena kebodohan kemudian dia
bertaubat dan (setelahnya) memperbaiki diri maka sesungguhnya Dia Maha
Pengampun dan Maha Penyayang,” (Qs. Al-An’aam: 54)
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan
oleh Abu Hurairah ra, ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda, ‘Ketika Allah menciptakan makhluk, maka Dia
menuliskan dalam kitab-Nya (Lauhul Mahfudz) di sisi-Nya yang berada di atas
Arsy dan ia berfirman, ‘Sesunggunya, rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku,” (HR
Bukhari dan Muslim)
Menurut Abu Usamah Salim bin Idul
Hilali dalam Bahjatun Nazirina Syaru
Riyadis Shalihina, hadits tersebut memiliki beberapa faidah, di antaranya pertama, sebagai bukti bahwa Allah Maha
Tinggi di atas makhluk-Nya. Dia berada di atas Arsy terpisah dari makhluknya. Kedua, menetapkan bahwa Allah memiliki
sifat rahmat (kasih sayang) dan murka. Dua sifat ini tidak boleh ditakwilkan
dengan kehendak memberikan pahala dan hukuman. Ketiga, Menerangkan bahwa rahmat Allah sangat luas meliputi semua
hamba-Nya, tanpa pilih kasih dan rahmat Allah mengalahkan murka-Nya.
Kesalahan dan dosa memang tempatnya
manusia, tapi, selalu ada Allah Yang Maha Pengampun dosa yang senantiasa
menanti pertaubatan semua hamba-Nya. Tetaplah berkhusnudzan akan kebaikan-Nya;
sebab rahmat Allah, mengalahkan murka-Nya.
Allahu a’lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar