Senin, 15 Februari 2016

Meraih Kebaikan via Ujian



            Proses kehidupan manusia di muka bumi tak terlepas dari kekuasaan Allah Yang Maha Tak Terbatas. Kekuasaan Allah meliputi apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Salah satu bentuk kuasa-Nya adalah Allah ciptakan segala sesuatunya berpasang-pasangan. Keberadaan siang dan malam, panas dan hujan, lelaki dan perempuan, hitam dan putih, matahari dan bulan, termasuk di dalamnya ujian dan kebahagiaan. Sungguh, tiada satu pun kesia-siaan dalam hidup ini, meskipun bentuknya adalah ujian. Namun kadangkala, manusia kerap menyalahartikan bentuk cinta-Nya yang datang berupa ujian. Prasangka pun datang, padahal ujian datang sebagai bentuk kasih sayang.
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan pada dirinya, maka Dia akan mengujinya,” (HR Bukhari)
Dr Musthafa Sa’id Al-Khin dalam Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyadis Shalihina, hadits di atas memberikan faedah bahwa orang yang beriman tidak akan terlepas dari ujian. Sesungguhnya, apa yang menimpanya itu tiada lain adalah kebaikan bagi dirinya, karena ketika itu ia berlindung kepada Allah Swt dan jadilah ujian-ujian itu sebagai penghapus kesalahan-kesalahannya.
Jika kita mau merenungkan ujian-ujian yang Allah berikan, sepertinya belum seberat ujian yang datang kepada para Nabi Allah—lebih khusus ujian yang Allah berikan kepada Rasul Ulul Azmi— dan secara umum ujian yang dikirim kepada Nabi-nabi yang Allah abadikan dalam Al-Quran. Salah satu contohnya ialah cobaan yang Allah berikan kepada Nabi Yunus as.
Allah berfirman, “Kemudian dia ikut diundi ternyata dia termasuk orang-orang yang kalah (dalam undian),” (Qs Ash-Shaffaat: 141)
Firman Allah dalam surah Ash-Shaffat ayat 141 di atas adalah peristiwa saat Nabi Yunus as harus ditenggelamkan ke tengah laut. Ada peristiwa yang terjadi sebelumnya kenapa pada akhirnya Yunus as harus mengalami hal tersebut. Yunus as yang diutus kepada kaum Ninawa yang gemar menyembah patung singa, harus merasakan pedih yang teramat sangat tatkala kaumnya tersebut menolak dakwahnya mentah-mentah. Tidak sekali dua kali Yunus as menyerukan untuk menyembah Allah saja, tidak selain-Nya, tapi berulang kali pula kaumnya tersebut membantah. Hingga suatu hari, Yunus as pun kurang kesabaran. Ia pun berniat meninggalkan kaumnya, sebelum dakwahnya usai. Ia pun memutuskan untuk pergi begitu saja tanpa ada perintah dari Allah karena kekesalan yang tidak mampu ia bendung lagi kepada kaumnya. Akhirnya, ia pun menumpang suatu perahu agar dapat menyebrang lautan.
Ibnu Katsir dalam dalam Tafsirul Quran’l Adzhimmengungkapkan ketika perahu itu mulai terombang ambing oleh ombak di sekelilingnya dan hampir tenggelam, mereka langsung saja mengadakan undian. Barangsiapa di antara mereka yang mendapatkan undian itu, ia mesti dilemparkan ke laut supaya beban perahu menjadi ringan dan seimbang kembali. Ternyata undian itu jatuh pada Nabi Allah, yaitu Yunus as. Setelah diulang sampai ketiga kali, ternyata undian itu tetap saja jatuh pada Yunus as, tetapi mereka tidak mengingkan Yunus as dilemparkan di antara mereka.
Tanpa menunggu lama, dengan kesedihan sekaligus kepasrahannya pada Allah, Yunus as melepas bajunya dan langsung terjun ke laut, padahal mereka tidak mengharapkan hal itu terjadi. Lalu Allah Swt memerintahkan seekor ikan paus yang berasal dari laut biru agar membelah lautan dan menelan Yunus as tanpa meremukan dagingnya dan memecahkan tulangnya. Dibawalah Yunus as oleh paus mengelilingi lautan. Di saat Yunus as berada di perut ikan paus, ia mengira dirinya sudah mati, namun kemudian bergeraklah kepala dan kedua kaki serta ujung-ujung jarinya, ternyata bersyukur ia masih hidup. Lalu ia pun berdiri dan melaksanakan shalat di perut ikan paus, dan sejumlah doa dipanjatkannya, yaitu, “Wahai Tuhanku, aku jadikan tempat ini sebagai tempat sujud kepada-Mu, yang mana tidak ada seorang pun dari manusia mengalaminya,”
Allah berfirman, “Maka sekiranya dia (Yunus) tidak termasuk orang yang banyak berzikir (bertasbih) kepada Allah niscaya dia akan tetap tinggal di perut itu sampai hari berbangkit,” (Qs Ash-Shaaffat: 143-144). Ibnu Abbas ra, Sa’id bin Jubair, Adh-Dhahak, Atha bin As-Saib, As-Sudi, Al-Hasan, dan Qatadah berkata, “Yang dimaksud dengan orang-orang yang yang senantiasa bertasbih itu ialah orang-orang yang senantiasa melaksanakan shalat, karena dijelaskan bahwa Nabi Yunus gemar melaksanakan shalat sebelumnya,”
            Tidak hanya shalat di dalam ikan, Nabi Yunus juga membaca doa yang ia ulang-ulang agar Allah mau mengampuninya, Tiada Tuhan melainkan Engkau (ya Allah) Maha Suci Engkau (daripada melakukan aniaya, tolonglah aku). Sesungguhnya aku adalah dari orang-orang yang menganiaya diri sendiri” (QS Al-Anbiya’ : 87). Kala itu, Yunus as benar-benar kepayahan dan tiada daya upaya. Ia pasrah jika pada akhirnya, harus wafat di dalam perut ikan. Tapi ia pun menyesal dan memikirkan bagaimana kabar kaumnya setelah ia tinggal dalam keadaan yang masih kafir?
            Akhirnya, Allah tak tinggal diam. Keberadaan Yunus as dalam perut ikan ternyata bersamaan dengan musibah angin besar dan banjir bah yang melanda kaum Ninawa. Mereka akhirnya menyadari bahwa musibah itu datang karena mereka tak mengiraukan ajakan Nabi Yunus untuk menyembah Allah. Setelah sembuh berkat pertolongan Allah, Nabi Yunus as pun diperintahkan kembali kepada kaumnya. Maha Besar Allah, betapa takjubnya Yunus as tatkala mendapati seluruh kaumnya yang berjumlah 100 ribu lebih akhirnya beriman kepada Allah.
            “”Dan Kami utus dia (Yunus) kepada seratus ribu lebih dari mereka. Lalu mereka beriman dan Kami berikan kesenangan hingga waktu tertentu,” (Qs Ash-Shaffat 147-148)
            Nabi Yunus as pun menangis. Ia menyadari betapa baiknya Allah, padahal ia telah meninggalkan kaumnya sebelum ada perintah dari Allah dan dakwahnya belum usai. Hingga akhirnya Allah pun memberikan cobaan dengan tinggal puluhan hari di dalam perut ikan yang sungguh gelap. Ternyata, dalam cobaan itulah, Allah telah menyiapkan hadiah kebaikan untuknya; hadiah keimanan yang menyelimuti dada kaumnya. Semoga ujian-ujian yang Allah berikan, akan pula berbuah kebaikan.. Aamiin

Dahsyatnya Kalimat Pujian



Siapa yang tak suka dipuji? Pada umumnya, manusia bahagia ketika dipuji. Pujian adalah sesuatu yang menyenangkan dan sangat diidamkan manusia pada umumnya. Ketika dipuji atas kebaikan atau prestasi, misalnya, maka hal itu dapat menjadi pemicu kita agar bisa memberikan yang lebih baik.  Namun sebaiknya, sebagai makhluk yang tidak mampu berbuat apa-apa selain atas izin-Nya, maka hendaknya kita kembalikan segala bentuk pujian itu kepada Allah; Yang Maha Menghendaki segala hal agar bisa terjadi.
Berbicara tentang pujian, Allah menamai Zatnya sebagai al-Hamid yang berarti Maha Terpuji. Sedangkan dalam banyak ayat, Allah juga menuliskan al-Hamid pada beberapa surah. Di antaranya ialah Hai manusia, kamulah yang butuh (tergantung) kepada Allah dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji” (QS Faathir: 15). “Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) Yang Maha Terpuji” (QS al-Hajj: 24). “Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS Luqmaan: 12). Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Mulia” (QS Huud: 73). Juga di surah Al-Kahfi dan Fathir, Allah membuka kedua surah ini dengan pujian atas-Nya atas segala ciptaan dan kehendak-Nya.
Makna al-hamdu (memuji) hampir sama dengan makna asysyukru (bersyukur atau berterimakasih), akan tetapi al-hamdu lebih luas, karena kita bisa memuji seseorang karena sifat-sifat baik yang ada pada dirinya dan pemberiannya, tetapi kita tidak menempatkan asy-syukru pada sifat-sifatnya, seperti diurai dalam kitab An-Nihaayah fii Gariibil hadits wal atsar (1/1043). Atau Imam Ibnul Atsir mengatakan bahwa al-Hamiid berarti (Dia-lah Ta’ala) Yang Maha Terpuji dalam semua keadaan. Sedangkan di dalam Tafsir Ibnu Katsir menguraikan bahwa al-Hamid artinya Dialah yang maha terpuji dalam firman-Nya, perbuatan-Nya, ketentuan syariat-Nya dan ketetapan takdir-Nya.
Karena begitu luar biasa ciptaan dan kehendak-Nya, maka selayaknya kita sebagai makhluk, berusaha dengan tulus memberikan pujian untuk-Nya. Tak hanya memuji ketika kita memeroleh ni’mat dan kesenangan, tapi tetapkanlah pujian ketika kita pun tertimpa hal yang tidak kita inginkan.
Dalam hadits yang diriwayatkan Anas ra, ada kisah menarik tentang malaikat yang saling berebut ketika mereka mendengarkan kalimat pujian yang terlontar dari seorang hamba Allah.
Dari Anas ra ia berkata, seorang laki-laki datang ketika Nabi Saw sedang shalat, lalu lelaki tadi mengucapkan, "Alhamdulillah hamdan katsiran thayyiban mubaarakan fiihi," kemudian, setelah Rasul selesai shalat, beliau bersabda, "Siapakah tadi yg mengucapkan kalimat pujian?" Para sahabat terdiam dan saling tatap hingga Rasul mengulang pertanyaan tersebut tiga kali. Akhirnya, salah seorang sahabat yang mengucapkan kalimat pujian tadi menjawab, "Saya ya Rasul yang tadi mengucapkanya dengan niat untuk kebaikan," kemudian Rasul bersabda, "Tahukah engkau dua belas malaikat saling berebut ingin menuliskan kebaikan itu untukmu hingga merekapun bertanya kepada Allah 'Wahai Allah bagaimana kami harus menulisnya?' Lalu Allah berfirman, "Tulislah sebagaimana yang dikatakan hambaku tadi," (HR Ahmad)
Subhaanallah, begitu luar biasanya kalimat pujian yang tertuju untuk-Nya hingga belasan malaikat pun berebut ingin menuliskannya lebih dulu tapi mereka bingung apa yang harus mereka tuliskan karena teramat berharganya kalimat yang diucapkan sahabat Rasul di atas.

Allahu A'lam

Hakikat Zuhud



            Merasa cukup (qanaah) terhadap apapun yang kita peroleh memang gampang-gampang susah. Ego diri, kurang bersyukur serta melihat seseorang yang lebih tinggi dan memiliki dari kita adalah penyakit-penyakit yang semestinya harus kita obati. Kendati demikian, tak sedikit pula orang-orang di sekeliling kita yang memilih untuk zuhud meski ia memiliki banyak harta, jabatan yang tinggi dan kekayaan yang tak ada habisnya. Lalu, apa definisi zuhud yang sebenarnya?
Zuhud dalam sesuatu (al-zuhd fi al-sya’i) menurut bahasa artinya berpaling dari sesuatu yang bersifat duniawi karena menganggapnya hina, remeh, dan yang lebih baik adalah tidak membutuhkannya. Di dalam Al-Quran banyak disebutkan tentang zuhud di dunia, kabar tentang kehinaan dunia, kefanaan dan kemusnahannya yang begitu cepat, perintah memperhatikan kepentingan akhirat, dan kabar tentang kemuliaan dan keabadiannya. Jika Allah menghendaki suatu kebaikan pada diri seorang hamba, maka Dia menghadirkan di dalam hatinya bukti penguat yang membuatnya bisa membedakan hakikat dunia dan akhirat, lalu dia memprioritaskan mana yang lebih penting.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata zuhud artinya meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat untuk kepentingan akhirat. Sedangkan wara’ ialah meninggalkan apa-apa yang mendatangkan mudharat untuk kepentingan akhirat. Sedangkan menurut Sufyan Ats-Tsaury zuhud di dunia artinya tidak mengumbar harapan tetapi bukan pula memakan makanan yang sudah kering atau mengenakan pakaian yang kurang layak (lusuh).
Sedangkan pengertian zuhud yang paling baik dan menyeluruh menurut Hasan bin Ali bin Abu Thalib, seperti dikutip oleh Ibnul Qayyim Al Jauziyah ialah zuhud di dunia bukan hanya berarti mengharamkan yang halal dan menyia-nyiakan harta tetapi jika engkau meyakini bahwa apa yang ada di tangan Allah itu lebih baik daripada apa yang ada di tanganmu, dan jika ada musibah yang menimpamu maka pahala atas musibah itu lebih engkau sukai daripada tidak tertimpa musibah sama sekali.
Definisi terakhir inilah yang dinilai paling baik dan menyeluruh oleh Ibnul Qayyim sebab di dalamnya ada keridhaan seorang hamba terhadap takdir yang menghampirinya; baik maupun buruk. Itu artinya, Ibnul Qayyim tidak hanya memberikan pandangan bahwa secara fisik zuhud itu harus miskin dan lusuh, tapi juga lebih dari itu. Hakikat zuhud ialah membuahkan keridhaan terhadap takdir Allah dan Allah pun akhirnya meridhai kita.
Menurut Imam Ahmad zuhud menunjukkan tiga perkara. Pertama, meninggalkan yang haram dan ini merupakan zuhudnya orang-orang awam. Kedua, meninggalkan berlebih-lebihan dalam hal yang halal, dan ini merupakan zuhudnya orang-orang khas atau khusus. Ketiga, meninggalkan kesibukan selain mengingat Allah dan inilah zuhudnya orang-orang yang ma’rifatullah (orang-orang yang memahami betul zat Allah dan kekuasaan-Nya).
Sehubungan dengan keutamaan zuhud, hadits berikut ini menggambarkan tentang anjuran Rasulullah untuk bersikap zuhud. Dari Abul Abbas, Sahl bin Sa’ad as-Sa’idi ra, ia berkata, seorang lelaki datang kepada Rasulullah Saw lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah padaku suatu perbuatan yang jika aku mengerjakannya maka saya akan dicintai Allah dan manusia,” maka Rasulullah bersabda, “Zuhudlah engkau di dunia niscaya Allah mencintaimu dan zuhudlah engkau dalam hal yang dicintai manusia, niscaya manusia mencintaimu,” (HR Ibnu Majah)
Hadits ini memberikan penjelasan kepada kita bahwa seutama-utamanya perbuatan yang dapat mendatangkan cinta Allah dan manusia ialah zuhud. Rasulullah melalui hadits ini juga menganjurkan kita supaya menahan diri dari memperbanyak harta dunia dan bersikap zuhud. Beliau bersabda, ‘Jadilah kamu di dunia ini laksanan orang asing atau pengembara,’ dan beliau juga besabda, ‘Cinta kepada dunia menjadi pangkal perbuatan dosa,’ atau dalam hadits lain Rasul juga bersabda, ‘Orang yang zuhud dari kesenangan dunia menjadikan hatinya nyaman di dunia dan di akhirat. Sedangkan orang yang mencintai dunia hatinya menjadi resah di dunia dan di akhirat,’
Menurut Ibn Daqiqil dalam Syarhul Arba’in Nawawiyyah, melalui beberapa hadits tentnag zuhud di atas, bahwa Rasul menasehati (khususnya) salah seorang sahabat yang bertanya di atas dan umumnya untuk para umatnya agar menjauhkan diri dari menginginkan sesuatu yang berlebih-lebihan, yang dimiliki orang lain. Jika seseorang ingin dicintai lalu meninggalkan kecintaanya kepada dunia, mereka tidak akan berebut dan bermusuhan hanya karena mengejar kesenangan dunia yang sifatnya sementara.
Rasulullah Para ulama sudah sepakat bahwa zuhud itu merupakan perjalanan hati dari negeri dunia dan menempatkannya di akhirat. Dengan pengertian inilah orang-orang terdahulu menyusun kitab-kitab zuhud seperti Ibnul Mubarak, Imam Ahmad, Waki’, Hanad bin As-Siry dan lain-lainnya.
Perkara-perkara yang berkaitan dengan zuhud ada enam macam, dan seseorang tidak layak mendapat sebutan zuhud kecuali menghindari enam macam yakni harta, wajah, kekuasaan, manusia, nafsu dan hal-hal selain daripada Allah. Namun, menghindari enam macam disini bukan berarti menolak hal milik atau sengaja memiskinkan diri. Kita tahu bahwa Nabi Daud as dan Sulaiman as adalah orang yang paling zuhud pada zamannya tapi dua Nabi Allah ini memiliki harta yang tak terbilang banyaknya, kekuasaan dan juga isteri yang tidak dimiliki orang lain selain mereka. Dan hal-hal yang telah kita ketahui pula bahwa pastilah Rasulullah Saw ialah orang yang paling zuhud tapi beliau dianugerahi sembilan isteri. Para sahabat pun; semisal Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Az-Zubair dan Utsman termasuk orang-orang yang zuhud tetapi mereka memiliki harta-harta yang melimpah ruah. 

Rabu, 03 Februari 2016

Tiga Cinta di Surah Thaha




            Ar-rahmaan dan Ar-rahiim, dua asmaaul husna yang akrab di telinga kita. Dua nama baik Allah yang senantiasa pula kita baca dan kita ulang dalam surah al-fatihah lima kali sehari semalam. Itulah mengapa Allah menyebut surah al-faatihah sebagai sab’ul matsaani yang berarti tujuh ayat yang (selalu) diulang-ulang. Jika mau diresapi, lafadz bismillahirrahmaanirrahiim memiliki makna yang teramat luar biasa. Selain penamaan khusus dari diri-Nya bahwa Dialah Zat Penebar Cinta, belas kasih dan sayang, secara tersirat juga terdapat keyakinan kuat dari-Nya, bahwa manusia tak perlu risau dan gelisah mengejar kasih sayang atau cinta dari makhluk; sebab sifat kasih sayang dan cinta-Nya sudah melampaui kasih sayang dari para makhluk.
            Rahmaan dan rahiim kedua-duanya memiliki energi tersendiri bahwa sifat Allah itulah yang mampu membuat seluruh makhluk ciptaan-Nya; tak terkecuali manusia masih mampu hidup, bernafas, menghembuskan udara segar, berkumpul dengan orang-orang terkasih atau bahkan seluruh organ yang Dia ciptakan berfungsi sebagaimana mestinya. Maka, ni’mat Tuhanmu yang mana lagikah duhai (Jin dan Manusia) yang masih dapat kalian dustakan? Demikian, Allah ulangi lagi dan lagi firman-Nya dengan lafadz yang senada dalam surah Ar-Rahmaan kurang lebih hingga 33 kali sebagai anjuran untuk sepenuhnya menyadari bahwa apa yang kita miliki dan peroleh adalah benar-benar karena izin, ridha dan kemurahan-Nya.
            Berbicara tentang cinta; pasti berbicara tentang rasa. Ya, lebih tepatnya ada tiga cinta di surah Thaha. Surah Thaha, yang terletak di antara surah Maryam dan Al-Anbiya’ ini memiliki 135 ayat yang di dalamnya memuat dukungan dan keyakinan penuh dari Allah untuk Rasulullah Saw. Cinta kedua, terlimpah kepada Nabiyallah Musa as hingga dalam beberapa ayat, Allah Swt berfirman langsung kepada Musa sebagai bukti bahwa Allah takkan pernah meninggalkannya seorang diri menghadapi kekejaman Fir’aun. Lalu cinta yang ketiga, Allah limpahkan untuk Nabiyallah Adam as.
            Surah yang diturunkan di Kota Makkah ini disebut surah Thaha (sesuai dengan ayat pertama surah ini) dengan beberapa alasan yaitu Thaha adalah juga salah satu nama mulia yang ditujukan kepada Nabi Muhammad. Dipanggil demikian sebagai penghormatan dan penghibur hati beliau atas segala pertentangan dan pembangkangan dari kaum kafir Quraisy. Oleh karenanya, surah ini dibuka dengan Thaha sebagai panggilan lembut dari Sang Pecinta kepada yang dicinta.
            “Thaha. Tidaklah Kami menurunkan kepadamu Al-Quran agar kamu menjadi susah (celaka). Melainkan sebagai peringatan bagi orang-orang yang takut,” (Qs Thaha 1-3)
            Gambaran cinta surah Thaha dalam ayat 1-3 di atas tentu sangat berpengaruh kepada sisi psikologis Rasulullah yang saat masa-masa wahyu diturunkan, kerap merasa ketakutan, gelisah dan khawatir akan keselamatan dirinya dan umat islam saat itu. Tentu perasaan yang dialami beliau sangatlah wajar. Sama halnya dengan kondisi psikis kita saat nyawa terancam, kelaparan, kekurangan uang, terlilit hutang, dan ketakutan-ketakutan manusiawi yang juga sering kita alami.
Dengan panggilan-Nya yang lembut itulah, Rasulullah Saw kembali yakin dan percaya bahwa Allah memang tidak pernah meninggalkan dirinya sekedip matapun. Allah meyakini bahwa proses turunnya Al-Quran sama sekali bukan untuk menyusahkan beliau, melainkan sebagai basyiiran (kabar gembira) bagi orang-orang beriman juga nadziiran (peringatan) agar kita menjaga diri dari perilaku yang kurang baik dan tidak diridhai-Nya.
            Bentuk cinta-Nya yang kedua, yaitu untuk Nabi Musa as, tertera dalam surah Thaha ayat 11-16, Allah berfirman, “Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: Hai Musa. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku. Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan. Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi binasa”.
            Dialog luar biasa yang berhasil membuat Musa as gentar kala itu mampu menumbuhkan keyakinan baru dalam diri Nabi Musa sebab sebelumnya beliau ketakutan karena sempat membunuh salah satu kaum Bani Israil karena ketidaksengajaannya. Di lembah Thuwa itulah Allah memperkenalkan diri-Nya sekaligus memproklamirkan pangkat kenabian untuk Nabi Musa bahwa dirinya telah terpilih menjadi utusan Allah. Kepada Nabi Musa, Allah juga memberikan peringatan tentang keesaan-Nya sekaligus pula menegaskan bahwa hari kiamat pasti terjadi.
            Pada ayat berikutnya, yaitu ayat 17-20, ini adalah bentuk dukungan penuh dan pembekalan langsung dari Allah bagaimana agar kelak Nabi Musa as nanti sanggup menghadapi Fir’aun dan bala tentaranya, “Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa? “Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya”. Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat.
            Pemberian cinta dari Allah berupa mu’jizat ini adalah bentuk kebesaran Allah Swt untuk salah satu hamba-Nya yang terpilih menjadi Nabi agar Nabi Musa pun meyakini bahwa Allah takkan pernah tinggal diam. Allah pasti akan memberikan dukungan, pendampingan, kekuatan dan kemampuan untuk menghadapi orang-orang yang zalim.
Namun pertanyaannya, apakah setelah pertemuan dan dialog di lembah Thuwa Nabi Musa berani total dan tidak lagi ketakutan? Jawabannya, tidak. Sebab, ketika perhelatan ular digelar—sebagai tantangan dari Fir’aun atas pembuktian kenabian Musa as—Nabi yang berada dalam pengawasan Allah sejak ia dihanyutkan ke sungai ini mengalami ketakutan luar biasa. Hingga akhirnya Allah membisikkan dengan lembut, “... Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamu lebih tinggi (unggul). Lemparkanlah tongkat yang ada di tangan kananmu, maka ia akan menelan sihir yang mereka buat, sungguh itu hanyalah tipu daya tukang sihir. Dan tidak mungkin menang tukar sihir, darimanapun ia datang,”
            Sedangkan bentuk cinta-Nya yang ketiga, ialah terlimpah untuk manusia sekaligus nabi pertama; Nabi Adam as, “Dan sungguh telah Kami janjikan kepada Adam agar tidak memakan buah khuldi sejak dahulu. Lalu dia (Adam) lupa akan janjinya dan tidak kami dapati baginya kemauan yang kuat,” (Qs Thaha: 115)
            Kita semua tahu bahwasannya iblis menggelincirkan Nabi Adam dari surga karena godaan dan ajakannya untuk mencicipi buah yang dilarang Allah. Kemudian Nabi Adam menangis dan bertaubat kemudian ia temukan bahwa Allah Maha Pengampun, sehingga Dia mengampuni dosa Nabi Adam serta mengutuskan untuk menjadi khalifah di muka bumi.
Cinta ketiga inilah sebagai refleksi cinta dari Allah. Bukti cinta yang tertuju tidak hanya kepada Nabi Adam as berupa pengampunan kesalahan tapi juga kepada umat Nabi Muhammad. Jika umat-umat terdahulu, sebut saja umat Nabi Luth, Nabi Hud, Nabi Musa, langsung diazab Allah karena dosa-dosa mereka, maka bukti cinta-Nya untuk kita (umat akhir zaman) adalah pengampunan; yang jika kita melakukan kesalahan dan dosa, lalu bertaubat, maka Allah akan hapuskan segala kesalahan, tak peduli meski dosa sebanyak buih-buih di lautan.

Allahu a’lam.