“Sesungguhnya dalam penciptaan langit
dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi Ulil Albab. (Yaitu) orang-orang yang mengingat
Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka
memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan
kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka
peliharalah kami dari siksa neraka". (Qs. Ali Imran: 190-191)
Al-insaanu
hayawaanun naathiq—demikian
istilah yang disebut dalam kajian ilmu manthiq
(logika) tentang perbedaan manusia. Istilah itu dapat kita artikan bahwa
manusia adalah hewan yang dapat berpikir. Secara anatomis, memang banyak anggota
tubuh manusia yang sama dengan hewan yang bahkan; kemampuan melahirkan pada
mamalia juga terjadi dalam diri manusia. Namun, kesamaan ini sifatnya tentu
tidak menyeluruh. Ada esensi vital yang cukup membuat manusia itu berbeda
dengan binatang. Perbedaan mendasar itu ialah kemampuan manusia yang
dianugerahi akal untuk berpikir.
Ulû albâb
terdiri dari kata ulul yang merupakan
kata benda jamak; yaitu kata tunggal yang bermakna jamak; seperti kata “dzû”
yang merupakan kata tunggal yang bermakna pemilik. Menurut Husain bin Muhammad Raghib Isfahani, al-Mufradât fi Gharib al-Qur’ân Ulû bermakna para pemilik. Albâb bermakna akal-akal, bentuk
jamaknya adalah lubb. Dan lubb artinya adalah akal murni dan tidak
ternoda.
Istilah ulul albab dapat ditemukan dalam teks Alqur’an
sebanyak 16 kali di beberapa tempat dan topik yang berbeda, yaitu dalam QS.
Al-Baqoroh: 179,197, 269; QS. Ali Imran: 7, 190; al-Maidah: 100; Yusuf: 111; Al
ra’d: 19; Ibrahim: 52; Shad: 29,43; Al-Zumar: 9, 18, 21; Al-Mu’min: 54 dan Thalaq: 10.
· Adapun
mengenai definisi Ulul Albab, Quraish
Shihab menyatakan bahwa ditinjau dari etimologis, kata albab adalah bentuk plural (jamak) dari kata lubb, yang artinya saripati sesuatu.
Misalnya kacang, memiliki kulit yamg menutupi isinya. Isi kacang disebut lubb.
Berdasarkan definisi pengertian etimologi ini, dapat kita ambil pengertian
terminologi bahwa ulul albab adalah
orang yang memiliki akal yang murni, yang tidak diselubungi kulit.
Sedangkan
definisi Ulul Albab menurut Al-Quran
terjawab dalam ayat berikutnya yakni ayat 191, “orang-orang yang mengingat Allah sambil
berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang
penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah
Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami
dari siksa neraka".
Menurut
definisi di atas, ulul albab berarti
generasi yang diharapkan dapat menjadi hamba Allah yang senantiasa memujiNya
dengan hati yang bersih, selalu mengingatNya baik dalam kondisi berdiri, duduk
bahkan berbaring. Namun, selain mampu menggunakan akal pikiran untuk merenung
berpikir terhadap kebesaran Allah, generasi ulul
albab juga diharapkan mampu menjaga sikap; sikap zhalimnya terhadap Allah,
apalagi terhadap sesama. Jika perasaan khauf
sudah mendarah daging dalam diri ulul
albab, maka ia selalu merasa disaksikan oleh Allah sehingga menjaga dirinya
dalam bersikap.
Perasaan
takut yang melahirkan ketaatan pada Allah juga sikap berkasih sayang pada
sesama tidak akan tumbuh begitu saja, ia perlu dipupuk dalam serangkaian proses
yang memakan waktu cukup lama. Maka, keluarga ialah institusi pertama
pembentukan dan pengukuhan sikap tersebut. Anak-anak yang mendapatkan bimbingan
ruhani langsung dari kedua orangtuanya, akan jauh berbeda karakternya dengan
anak-anak yang diterlantarkan oleh orangtuanta.
Generasi
inilah yang diharapkan oleh kita saat ini. Wajah generasi Indonesia yang selalu
memuji kebesaran Tuhannya dengan hati yang tulus dan takut melukai sesama. Hati
yang tulus bersih itulah akan melahirkan perbuatan-perbuatan baik yang mendatangkan
manfaat bagi sesama, bukan justeru perbuatan-perbuatan anarkis nan mengerikan
yang membekas menjadi dosa dan penyesalan.
Semoga Allah memampukan kita menjadi
insan ulul albab, Aamiin....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar