Senin, 04 Januari 2016

Generasi Ulul Albaab



“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi Ulil Albab. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka". (Qs. Ali Imran: 190-191)
Al-insaanu hayawaanun naathiq—demikian istilah yang disebut dalam kajian ilmu manthiq (logika) tentang perbedaan manusia. Istilah itu dapat kita artikan bahwa manusia adalah hewan yang dapat berpikir. Secara anatomis, memang banyak anggota tubuh manusia yang sama dengan hewan yang bahkan; kemampuan melahirkan pada mamalia juga terjadi dalam diri manusia. Namun, kesamaan ini sifatnya tentu tidak menyeluruh. Ada esensi vital yang cukup membuat manusia itu berbeda dengan binatang. Perbedaan mendasar itu ialah kemampuan manusia yang dianugerahi akal untuk berpikir.
 Ulû albâb terdiri dari kata ulul yang merupakan kata benda jamak; yaitu kata tunggal yang bermakna jamak; seperti kata “dzû” yang merupakan kata tunggal yang bermakna pemilik. Menurut Husain bin Muhammad Raghib Isfahani, al-Mufradât fi Gharib al-Qur’ân Ulû bermakna para pemilik. Albâb bermakna akal-akal, bentuk jamaknya adalah lubb. Dan lubb artinya adalah akal murni dan tidak ternoda.
Istilah ulul albab dapat ditemukan dalam teks Alqur’an sebanyak 16 kali di beberapa tempat dan topik yang berbeda, yaitu dalam QS. Al-Baqoroh: 179,197, 269; QS. Ali Imran: 7, 190; al-Maidah: 100; Yusuf: 111; Al ra’d: 19; Ibrahim: 52; Shad: 29,43; Al-Zumar: 9, 18, 21; Al-Mu’min: 54 dan  Thalaq: 10.
· Adapun mengenai definisi Ulul Albab, Quraish Shihab menyatakan bahwa ditinjau dari etimologis, kata albab adalah bentuk plural (jamak) dari kata lubb, yang artinya saripati sesuatu. Misalnya kacang, memiliki kulit yamg menutupi isinya. Isi kacang disebut lubb. Berdasarkan definisi pengertian etimologi ini, dapat kita ambil pengertian terminologi bahwa ulul albab adalah orang yang memiliki akal yang murni, yang tidak diselubungi kulit.
Sedangkan definisi Ulul Albab menurut Al-Quran terjawab dalam ayat berikutnya yakni ayat 191, “orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka". 
Menurut definisi di atas, ulul albab berarti generasi yang diharapkan dapat menjadi hamba Allah yang senantiasa memujiNya dengan hati yang bersih, selalu mengingatNya baik dalam kondisi berdiri, duduk bahkan berbaring. Namun, selain mampu menggunakan akal pikiran untuk merenung berpikir terhadap kebesaran Allah, generasi ulul albab juga diharapkan mampu menjaga sikap; sikap zhalimnya terhadap Allah, apalagi terhadap sesama. Jika perasaan khauf sudah mendarah daging dalam diri ulul albab, maka ia selalu merasa disaksikan oleh Allah sehingga menjaga dirinya dalam bersikap.
Perasaan takut yang melahirkan ketaatan pada Allah juga sikap berkasih sayang pada sesama tidak akan tumbuh begitu saja, ia perlu dipupuk dalam serangkaian proses yang memakan waktu cukup lama. Maka, keluarga ialah institusi pertama pembentukan dan pengukuhan sikap tersebut. Anak-anak yang mendapatkan bimbingan ruhani langsung dari kedua orangtuanya, akan jauh berbeda karakternya dengan anak-anak yang diterlantarkan oleh orangtuanta.
Generasi inilah yang diharapkan oleh kita saat ini. Wajah generasi Indonesia yang selalu memuji kebesaran Tuhannya dengan hati yang tulus dan takut melukai sesama. Hati yang tulus bersih itulah akan melahirkan perbuatan-perbuatan baik yang mendatangkan manfaat bagi sesama, bukan justeru perbuatan-perbuatan anarkis nan mengerikan yang membekas menjadi dosa dan penyesalan.
Semoga Allah memampukan kita menjadi insan ulul albab, Aamiin....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar