Senin, 04 Januari 2016

Rabby Zidnii 'Ilman



Allah Al-Wahhab; Dia menamai diri-Nya dengan sebutan Wahhab sebagai akar kata dari wa-ha-ba yang artinya Maha Pemberi. Dia memberi tidak sebatas apa yang dipinta hamba-Nya, tapi juga apa-apa yang tidak dipinta hamba-Nya yang tak terbatas pada kepentingan demi kemaslahatan manusia misalnya kesehatan, rezeki, ni’mat menggunakan panca indera dan lain sebagainya. Tak terbayangkan bukan jika sedetik saja Allah menghentikan ni’mat sehat, misalnya. Sekali Dia menghentikan ni’mat itu, niscaya keni’matan-keni’matan yang lain pun akan sirna. Sama halnya dengan ni’mat bernafas. Jika saja kita harus membayar betapa ni’matnya bisa bernafas, niscaya satu manusia terkaya sekalipun takkan sanggup membayar nafas harian yang telah dihirup olehnya.
Namun sayangnya, ni’mat-ni’mat yang telah disebutkan di atas tadi sering abai untuk disyukuri sebagaian besar manusia. Manusia terkadang terhalau oleh pesona harta dunia sehingga ia hanya mensyukuri yang dzahir saja; harta maupun tahta. Padahal, jika kita mau merenung sejenak dengan hati yang bersih dan tenang, nimat memiliki harta yang berlimpah, gaji yang menjulang tinggi, anak-anak banyak yang cerdas, semua itu tidak bisa kita rasakan ketika sedikit saja rasa sakit menghampiri tubuh ini. Oleh karenanya, dengan santun, Allah mengajarkan hamba-Nya do’a terbaik yang telah terpatri dalam firman surah Thaha ayat 114 di bawah ini,
Dan katakanlah, Wahai Tuhanku, tambahkan untukku ilmu,” (Qs Thaha: 114)
Dalam hidup, kita memang membutuhkan harta, kedudukan, kekayaan, tapi itu semua tidak diminta sebagai doa yang diperbanyak. Sebab harta, kekuasaan dan sebagainya itu bisa menjadi sia-sia bahkan menjadi boomerang tatkala si empunya harta (lebih tepat yang dititipkan harta oleh Allah) itu tidak memiliki ilmunya.
Qarun adalah satu contoh manusia dimana ia diamanahi banyak sekali harta; hingga keledainya saja tak sanggup memanggul kunci-kunci perbendaharaan harta Qarun. Ia yang dulunya sangat fakir, kemudian didoakan oleh Nabiyallah Musa as dan diajarkan mengolah emas. Hingga suatu ketika usahanya itu laris dan berbuah manis; Qarun justru makin sinis dan bengis; ia enggan berzakat. Bahkan, ia menyombongkan diri bahwa hartanya itu ia peroleh karena ketekunannya. Bukan seizin Allah.
Tapi, cukupkah hanya dengan ilmu? Ilmu saja tidak cukup. Ilmu adalah nimat tapi juga bencana. Bagaimana bisa? Kita memahami bahwa betapa nimatnya orang yang berilmu. Karena setiap perbuatan didasarkan pada ilmu sehingga tidak sesat. Tapi ilmu yang tidak didasari pada keimanan kepada Allah, akan membawa kepada bencana. Oleh karenanya, ilmu juga harus dilandasi dengan keimanan kepada Allah. Dengan kata lain, ilmu adalah atap dari sebuah bangunan, sedangkan keimanan adalah pondasinya. Karena, jika hanya berilmu, belum menjamin seseorang akan takut kepada Rabbnya. Sedangkan dalam Qs Fathir Allah berfirman bahwa sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Allah adalah ulama’ (yakni orang-orang yang berilmu).
Oleh karenanya, sudah sepatutnya, kita lakukan perubahan dimulai dari doa; memohon keimanan yang kokoh, badan yang sehat dan ilmu yang bermanfaat. Jika ketiganya sudah ada dan diseimbangkan, insyaAllah kita akan selamat dunia akhirat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar