Allah Al-Wahhab; Dia menamai diri-Nya dengan sebutan Wahhab sebagai akar kata dari wa-ha-ba yang artinya Maha Pemberi. Dia memberi
tidak sebatas apa yang dipinta hamba-Nya, tapi juga apa-apa yang tidak dipinta
hamba-Nya yang tak terbatas pada kepentingan demi kemaslahatan manusia misalnya
kesehatan, rezeki, ni’mat menggunakan panca indera dan lain sebagainya. Tak terbayangkan
bukan jika sedetik saja Allah menghentikan ni’mat sehat, misalnya. Sekali Dia
menghentikan ni’mat itu, niscaya keni’matan-keni’matan yang lain pun akan
sirna. Sama halnya dengan ni’mat bernafas. Jika saja kita harus membayar betapa
ni’matnya bisa bernafas, niscaya satu manusia terkaya sekalipun takkan sanggup
membayar nafas harian yang telah dihirup olehnya.
Namun sayangnya,
ni’mat-ni’mat yang telah disebutkan di atas tadi sering abai untuk disyukuri
sebagaian besar manusia. Manusia terkadang terhalau oleh pesona harta dunia
sehingga ia hanya mensyukuri yang dzahir saja; harta maupun tahta. Padahal,
jika kita mau merenung sejenak dengan hati yang bersih dan tenang, nimat
memiliki harta yang berlimpah, gaji yang menjulang tinggi, anak-anak banyak
yang cerdas, semua itu tidak bisa kita rasakan ketika sedikit saja rasa sakit
menghampiri tubuh ini. Oleh karenanya, dengan santun, Allah mengajarkan
hamba-Nya do’a terbaik yang telah terpatri dalam firman surah Thaha ayat 114 di
bawah ini,
“Dan katakanlah,
Wahai Tuhanku, tambahkan untukku ilmu,” (Qs Thaha: 114)
Dalam hidup, kita memang membutuhkan harta, kedudukan, kekayaan, tapi itu semua tidak
diminta sebagai doa yang diperbanyak. Sebab harta, kekuasaan dan sebagainya itu bisa menjadi sia-sia bahkan menjadi boomerang tatkala si empunya harta (lebih
tepat yang dititipkan harta oleh Allah) itu tidak memiliki ilmunya.
Qarun adalah satu contoh manusia dimana ia diamanahi banyak sekali harta;
hingga keledainya saja tak sanggup memanggul kunci-kunci perbendaharaan harta
Qarun. Ia yang dulunya sangat fakir, kemudian didoakan oleh Nabiyallah Musa as
dan diajarkan mengolah emas. Hingga suatu ketika usahanya itu laris dan berbuah
manis; Qarun justru makin sinis dan bengis; ia enggan berzakat. Bahkan, ia
menyombongkan diri bahwa hartanya itu ia peroleh karena ketekunannya. Bukan seizin
Allah.
Tapi, cukupkah hanya dengan ilmu? Ilmu saja tidak cukup. Ilmu adalah ni’mat tapi juga bencana. Bagaimana bisa? Kita memahami bahwa betapa ni’matnya orang yang berilmu.
Karena setiap perbuatan didasarkan pada ilmu sehingga tidak sesat. Tapi ilmu
yang tidak didasari pada keimanan kepada Allah, akan membawa kepada bencana. Oleh karenanya, ilmu juga harus dilandasi dengan keimanan kepada Allah. Dengan
kata lain, ilmu adalah atap dari sebuah bangunan, sedangkan keimanan adalah
pondasinya. Karena, jika hanya berilmu, belum menjamin seseorang akan takut
kepada Rabbnya. Sedangkan dalam Qs Fathir Allah berfirman bahwa sesungguhnya
orang-orang yang takut kepada Allah adalah ulama’ (yakni orang-orang yang
berilmu).
Oleh karenanya, sudah sepatutnya, kita lakukan perubahan dimulai dari doa;
memohon keimanan yang kokoh, badan yang sehat dan ilmu yang bermanfaat. Jika ketiganya
sudah ada dan diseimbangkan, insyaAllah kita akan selamat dunia akhirat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar