Kamis, 28 April 2016

Filosofi Hujan


Bismillahirrahmaanirrahim, dengan menyebut nama Engkau Yaa Rabb, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.. 

Kamu tahu hujan? Meski pun sakit karena jatuh berulang, ia akan tetap turun karena sebuah tujuan mulia; membasahi dan menyuburkan bumi-Nya-- itulah salah satu petikan kalam sejuk dari seorang isteri kawan (dengan perubahan redaksi) dan saat itu pula saya berpikir dan membenarkan!

Iya, ya.. terkadang hidup itu selayaknya hujan dan banyak rintangan untuk mencapai kesuksesan. Kita punya plan A, maka Allah membelokkan dan memberikan rencana B. Kita ingin meraih C, tapi Allah alihkan dengan pilihan D. Yaa, semacam puzzle yang mesti kita selesaikan serpihan-serpihannya dengan penuh kesabaran-- tanpa kita pernah tahu bagaimana akhir dari perjuangan kita.Nah, dalam penyusunan puzzle kehidupan itulah tak jarang kita harus jatuh- bangun- jatuh lagi, bangun lagi-- agar lebih kuat dan terus bertahan.

"Membangun bisnis dari nol dan tanpa bantuan Mama," begitu tulis para wartawan pada media online yang telah saya baca tentang Kakak—yang meski Kakak dibesarkan dengan Ibu designer terkenal, tak lantas membuat Kakak menjadikan hal itu untuk melambungkan nama Kakak. Kakak mulai segalanya dari awal, bukan? dan pasti ada banyak kisah jatuh-bangun Kakak juga sehingga bisa sesukses sekarang. Selamat ya, Kak! 

Sebenarnya saya belum tahu persis Kak Jenahara. Penasaran, akhirnya saya follow Kakak via IG dan menemukan pula kontes menulis blog dalam rangka 5 tahun brand Jenahara. Akhirnya saya coba untuk ikut dan semoga cerita yang akan saya bagi ini menginspirasi. Seperti Kakak yang memiliki passion kuat pada bidang rancangan busana, maka passion saya dalam bidang tulis menulis, Kak. Karenanya, saat saya baca foto kiriman Kakak mengadakan kontes menulis cerita, saya excited sekali, hihi :) 

Sejujurnya, menjadi penulis adalah impian yang sangat lama, Kak. Kira-kira saat masih pesantren.Tapi karena dulu merasa belum mampu ilmu dan malu, sehingga mimpi itu sempat terabaikan, hingga akhirnya saya mantap setelah lulus mondok, mengambil jurusan Ilmu Komunikasi (Jurnalistik) di Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta. Lulusan Pesantren ambil komunikasi? Ya, pilihan saya ini sebelumnya menjadi perdebatan panjang bersama Appa (Ayah) karena beliau ingin saya ambil jurusan Dirasat Islamiyah yang sejujurnya saya tidak mau dan kurang suka (entah karena mungkin saat itu saya jenuh; enam tahun di pesantren memperdalam Ilmu Agama dan harus kuliah lagi-lagi di bidang yang sama :( ). Alhasil, Appa saya luluh juga dan dengan berat menerima keputusan saya.

Segala proses untuk menjadi ‘seseorang’ berusaha saya ikuti, Kak selama kuliah. Meski saya buta sekali dengan ilmu jurnalistik, sepertinya lambat laun saya mulai tertarik. Di jurusan ini saya akui ini saya banget! belajar bicara, meliput, motret, menulis berita, dan lain-lain. Hingga suatu hari saya memberanikan diri untuk ikut menjadi wartawan kampus. Saya diterima dan mulai liputan. Saya pun bersiap mengatur pertemuan dengan narasumber dan lain sebagainya. Ketika saya berusaha mengirim tulisan kemudian rapat redaksi, satu ‘cobaan’ muncul.
“Tulisan kamu tidak jelas! jelek dan tidak berkualitas! untuk apa saya mempekerjakan mahasiswi seperti kamu kalau kerjanya nggak bagus kayak gini? Silahkan kamu ulang! deadline lusa!” tegas pemimpin redaksi saya kala itu di hadapan belasan kawan saya.
Saat itu rasanya saya malu dan sekuat tenaga menahan tangis yang hampir tumpah. Segitu jelekkah tulisan saya? tapi di saat yang sama, semangat saya terpacu. Hati saya berontak dan berujar, “Ini jembatan menuju kesuksesan!” hiks, meski sebenarnya betul-betul pengen nangis. Tapi akhirnya, cercaan itu adalah hadiah terindah bagi saya untuk bisa menjadi lebih baik lagi dan tidak pernah merasa baik dan cepat puas.

Setelah berjuang kurang dari empat tahun, saya pun tertarik (kepengen banget, red) menjadi wartawan. Untuk mencapainya, saya mengambil judul penelitian dengan sasaran media yang saya inginkan, berharap saya mendapatkan wawasan di luar perkuliahan tentang kewartawanan, Ya, Allah pun mengabulkan. Saya diizinkan magang bergaji dan menyelesaikan kuliah dengan baik. Profesi wartawan akhirnya tetap saya jalani kendati pulang selalu larut malam, dengan gaji tak seberapa, tulisan yang masih jarang dimuat karena belum berkualitas, juga teguran-teguran agak keras dari pemimpin redaksi (Alhamdulillah, meski pahit, saya telan semuanya dengan lapang dada, hihihi). Nah, karena rutinitas pekerjaan yang sangat menyita waktu inilah, konflik dimulai. Appa dengan tegas menolak pekerjaan ini. Selain menyita waktu, perempuan sangat rentan bekerja sebagai wartawan. Appa kekeuh ingin saya melanjutkan sekolah lagi :(

Dengan berat hati saya pun berhenti di bidang yang sebenarnya masih sangat saya inginkan; dengan tetap berharap bahwa Allah memberi jalan lain untuk mewujudkan cita-cita saya memiliki hasil tulisan dan buku yang dapat bermanfaat nantinya. Dengan tanpa menolak, saya pun menuruti beliau. Saya ikut test S2 di kampus yang sama saat S1 dan sempat ikut test pula di UI. Dan hasilnya? SAYA BELUM LULUS!

Yeyeyeye, tidak ada drama tangis-tangisan kala itu, hihi.. karena saya justeru senang dan terpikirkan ingin KABUR! haaaa?? Iya, saya ingin tambah-tambah ilmu dengan merantau ke kampung Inggris. Bagaimana dengan kedua orangtua saya? Ya, mereka dengan berat hati menyetujui lantaran penjelasan saya bahwa mungkin kelulusan saya ini belum bisa terwujud lantaran score TOEFL yang masih rendah (mungkin ada benarnya juga sih ya), dan PARE-lah menjadi tujuan saya untuk belajar sekaligus travelling (hihi, hobi terpendam) dengan satu syarat dari mereka; saya tidak mendapatkan ongkos SEPESERPUN.. hihi menyedihkan ya. Dengan bekal gaji terakhir praktik kerja di media tersebut (kalau tidak salah 2 juta rupiah), saya memberanikan diri untuk merantau seorang diri. Singkat cerita, di Pare saya tetap melaksanakan passion saya, mengamati Pare dan sekelilingnya, perilaku penduduk setempat, cara mentor mengajar, latar belakang mereka hingga mengajak satu demi satu teman-teman saya mengobrol tentang budaya mereka, motivasi mereka belajar bahasa Inggris di Pare, dan tentang kehidupan. Poin-poin dari cerita itupun saya catat dengan rapi dalam diary dan saya ketik di malam hari saat program belajar selesai—sambil tetap menulis dan mengirimkan tulisan-tulisan Islami (Hikmah) ke media dimana saya pernah mengabdi.
Tahun pun berganti, saya tidak pernah berpikir bahwa kisah hidup saya dan beberapa puzzle tulisan dari kawan-kawan saya di Pare akan menghasilkan sebuah tulisan yang konon kata para pembacanya ‘menyentuh dan menginspirasi’. Tidak pernah. Satu hal yang tertanam kuat dalam batin saya adalah, saya harus tetap menulis; apapun kondisinya!
Ketika tulisan itu dibaca dan menginspirasi jutaan mata; itu adalah buah manis dari usaha panjang yang sebetulnya tidak mudah untuk diraih. Dan di saat karya itu mengundang penerbit untuk membukukannya, itu adalah ANUGERAH dari keridhaan Allah atas segala upaya yang telah kita lakukan.
And it likes a dream, Kak. Kini dua buku dan satu tesis penelitian (S2) saya telah rampung dibukukan. Adapun tulisan-tulisan Islami yang saya ungkap di atas, juga membuat salah satu penerbit (tanpa saya letih mencari-cari penerbit yang sudi membukukan) tertarik membukukan dan melaunchingnya dalam event yang sangaaaat dan dari dulu saya impikan; Islamic Book Fair, Februari 2016 silam.
Semuanya seperti mimpi, Kak. Seperti layaknya karya karya tangan emas Kakak yang telah mampu mendesign baju muslimah dan membentuk komunitas hijab, seperti itu pula mungkin dulu, Kakak juga pernah mengalami ‘keseruan’ jatuh bangun di bidang designer.
Satu kata yang sangat memotivasi saya dan saya ingin menangis dibuatnya adalah saat sahabat saya menuliskan pesan singkat, “Terharu melihat buku kamu bersanding dengan buku karya Asma Nadia di Gramedia, Na. Aku bangga sama kamu!” L

Demikian, Kak...
Untuk meraih kesuksesan, memang kita perlu belajar dari hujan—yang ikhlas turun dan jatuh berulang kali dengan satu tujuan mulia; ingin membasahi dan menyuburkan bumi-Nya.
Kak Jehan, semoga Allah selalu menyehatkan Kakak dan keluarga dengan sehat yang bermanfaat lahir batin. Teruslah berkarya ya, Kak. Kita saling mendoakan satu sama lain. InsyaAllah, Allah Maha Baik dan senantiasa bersama orang-orang yang berbuat kebaikan. Aamiin

Salam Sayang,
Ina Salma Febriany (InSaf)
0896 35897573 (@inasalmafebriany)