Sabtu, 18 April 2020

Belajar Membatik di Taman Pintar Yogyakarta: Alternatif Berlibur Penuh Makna


Belajar Membatik di Taman Pintar Yogyakarta:
Alternatif Berlibur Penuh Makna
Ina Salma Febriany

           
Libur (akan) segera tiba nih! By the way, sudah ada to-go-list untuk libur panjang akhir tahun ini? Jika belum, mungkin Taman Pintar Yogyakarta bisa menjadi pilihan. Terletak di pusat kota yang dilalui oleh Trans Yogya, Taman Pintar Yogyakarta (TPY) nyaris tak pernah sepi pengunjung. Siang terik itu menjadi jawaban betapa tempat ini sangat laris dipenuhi banyak pendatang baik anak-anak sekolah maupun masyarakat sekitar yang sengaja ingin menghabiskan libur akhir pekan di tempat penuh makna ini! Kenapa sih, tempat ini layak masuk ke dalam holiday-list?


Adalah Taman Pintar Yogyakarta, tempat wisata rekreatif yang menyajikan banyak wahana edukatif; sesuai keinginan dan minat bakat anak. Gerbang Taman Pintar Yogyakarta yang terletak di depan jalan tak jauh dari Benteng Vredeburg, Jalan Panembahan, Senopati, menyambut kedatangan kami. Bendera merah putih terkibar megah melawan panas siang itu. Meski terik, TPY siang tadi tetap membludak. Anak-anak usia SMP SMA mulai memadati tempat itu dari beberapa sekolah yang ada di Yogyakarta. Terlihat sekitar sepuluh bis besar terparkir tepat di seberang TPY. Btw, mengapa disebut Taman Pintar?

Ada tujuan tersendiri mengapa wahana edukatif ini dinamai Taman Pintar. Alasan utamanya adalah agar anak-anak pra-sekolah sampai sekolah menengah bisa dengan leluasa memperdalam pemahaman soal pelajaran di sekolah sambil berekreasi. Dengan demikian, pemerintah daerah DI Yogyakarta sangat concern terhadap pengenalan science dan teknologi sedini mungkin untuk anak-anak agar kreatifitas anak-anak mudah diasah dan mereka bisa memahami perkembangan teknologi melalui alat peraga yang saat ini berjumlah kurang lebih 3500 alat peraga. Luar biasa, bukan?
Memasuki depan gerbang TPY, bagian sebelah kanan ada taman PAUD yang dikhususkan untuk anak usia 3-7 tahun. Tempat ini bersebelahan persis dengan Taman Lalu Lintas. Taman kecil yang didesain agar anak bisa mengendarai mobil sambil mengenal simbol-simbol lalu lintas. Bergeser ke arah kiri, ada wahana lain, Kampung Kerajinan namanya. Di dalam taman ini terdapat empat jenis wahana edukatif; rumah gerabah tempat membuat kerajinan dari tanah liat sekaligus mewarnai gerabah. Kedua, rumah seni melukis kaos dan ketiga rumah membatik! Setiap harga wahana edukatif ini berbeda-beda kisaran 12-45 ribu rupiah saja dan hasil dari kerajinan itu bisa dibawa pulang. Wow, menarik ya! Nah, sebelum masuk ke kawasan Kampung Kerajinan, pastikan kalian sudah membeli tiket di loket yang  tersedia ya. Dari depan gerbang,  kita hanya perlu berjalan lurus dan nanti tertera bacaan Loket Tiket tepat bersebelahan dengan Planetarium.


Nah, kembali ke Kampung Kerajinan. Kegiatan apa yang diajarkan di kampung ini? Selain kegiatan membentuk gerabah menjadi sebuah wadah siap pakai yang terlebih dulu dikeringkan, anak-anak minimal usia 2 tahun boleh ikut mewarnai hasil gerabah yang sudah kering dan siap diberi warna. Pilihan warna disesuaikan dengan keinginan sang anak. Selain membentuk kerajinan dari tanah liat dan mewarnai hasil kerajinan tersebut, seni yang tak kalah menarik yaitu membatik! membatik menjadi wahana edukatif pilihan yang dikhususkan bagi anak-anak di atas usia 8 tahun hingga dewasa. Ibu-ibu, hingga usia kakek-nenek pun diperbolehkan ikut kelas membatik ini.
Mbak Lely, petugas yang melayani kami di Rumah Batik menjelaskan, kelas ini dikhususkan minimal 8 tahun mengingat membatik ini butuh ketelitian dan kehati-hatian. Teliti dalam membuat pola dan hati-hati saat menggunakan canting karena wadah untuk meletakkan lilin cokelat dalam kendi itu terdapat api dan bersifat panas, khawatir melukai anak-anak jika kurang hati-hati. Di pelataran galeri rumah batik yang dipenuhi hasil karya pengunjung di berbagai sudut tembok, Mbak Lely langsung mempersilakan membuat pola pada kain putih kecil dan sebuah pensil lalu boleh memulai membuat pola sederhana. Mbak Lely menganjurkan untuk membuat pola agak besar, bisa motif batik atau lainnya sesuai keinginan. Mengapa harus besar dan tidak perlu detail bagi pemula? Agar memudahkan saat nanti mengaplikasikan lilin pada kain putih yang sudah terpola tadi.




Selesai membuat pola, mbak Lely memandu kami masuk ke dalam galeri. Kursi kecil bercat cokelat  dipersilakan olehnya, Mbak Lely langsung duduk berhadapan dan mengajarkan cara membatik secara perlahan. Pertama-tama, canting (alat untuk meletakkan lilin) dicelupkan perlahan dan diisi oleh lilin secukupnya. Untuk hasil yang tak terlalu tebal, canting boleh disisihkan terlebih dahulu di pinggir kendi, baru diaplikasikan ke dalam kain putih. Sungguh bukan pekara mudah karena berulang kali lilin bertebaran dimana-mana! Ternyata benar, membatik itu butuh ketelitian, ketelatenan, kesabaran dan kehati-hatian. Sekitar lima sampai delapan menit lebih, lilin cokelat sudah menghiasi pinggiran bunga besar yang saya buat. Setelah selesai, Mbak Lely mengajak kami berpindah tempat untuk mewarnai kain putih di bagian luar galeri rumah batik. Waw, mengapa diberi warna?
“Agar lebih hidup hasilnya nanti. Sebab, membatik tak hanya soal mengaplikasikan canting (lilin) itu ke dalam kain putih. Banyak proses yang harus dilakukan, agar hasil batik menjadi lebih bagus. Salah satunya diberi warna,” Saya yang awam dan baru memulai belajar membatik, bertanya penasaran, “Nanti, apa nggak basah Mbak, lilin yang sudah terbentuk di kain putih ini?” Dengan jawaban penuh meyakinkan, Mbak Lely menjelaskan, “Justeru lilin itulah yang menghalangi warna yang kita poles dalam kain ini agar tidak tercampur,” wah, sungguh menarik! Nah, setelah diberi warna, batik terlebih dulu harus dijemur beberapa saat hingga kering, baru boleh dibawa pulang sebagai oleh-oleh membatik di wahana edukatif ini. Nah, bagi kalian yang belum punya rencana liburan, mungkin TPY bisa menjadi wahana alternative pengisi liburan nanti. Sebab di tempat ini, kita bukan hanya dimanjakan oleh banyak mainan rekreatif namun juga sarat nilai-nilai edukatif di dalamnya.







Bubur Ayam Khas Bandung di Jogja ini Laris Banget! Apa sih Rahasianya?


Bubur Ayam Khas Bandung di Jogja ini Laris Banget!
Apa sih Rahasianya?
Ina Salma Febriany


                Pagi hari di akhir pekan, pengujung November ini sangat berkesan! Selain udara di sudut kota Jogja ini sejuk sekali lengkap dengan keramahtamahan penduduknya, kesan lainnya, kami berkesempatan ke sebuah pesantren terbesar di kawasan Jalan KH Ali Maksum, KrapyakWetan, Yogyakarta. Kota santri dengan segala kekhasannya; berpeci, bersarung, membawa kitab—terasa segala hiruk pikuk di  kota ini sungguh berkualitas. Belum lagi, masjid Jogokriyan yang dengan segala aktivitas tak  pernah berhenti hingga larut malam tiba, kawasan ini tetap banyak yang berjaga (ronda). Ada lagi kekhasan daerah ini. Apa itu? Kuliner! So, disini kami tak perlu takut lapar. Kanan kiri homestay yang kami tempati, dikelilingi aneka ragam kuliner. Kupat tahu, nasi ayam opor, angkringan, nasi goreng seafood, nasi telur, nasi goreng tahajjud (unik sekali penamaannya, ya!), one day one jus (sajian es jus buah) juga jajanan milenial kekinian (cheese tea, sozis, bakso bakar dan banyak lagi!). Nah, kalau kawan-kawan rindu sajian lokal, kita bisa loh menikmati bubur ayam khas Bandung! Lho kok  Bandung? Kenapa nggak bubur khas Jogja, ya?






Adalah Bapak-Ibu paruh baya sepasang suami isteri yang memulai usaha bubur ayam ini sejak 15 tahun yang lalu. Ibu Murti (bukan nama sebenarnya) asli Jogja yang kemudian dinikahi oleh suaminya, berdarah Bandung. Keduanya akhirnya bersepakat untuk memulai usaha kuliner mengingat pangsa pasar yang sedemikian strategis disini; dikelilingi pesantren besar, Al-Munawwir Krapyak dan sekolah SMP, SMK dan SMA KH. Ali Maksum. Kesempatan ini tak disia-siakan oleh pasutri yang sangat ramah ini. Kalau kuliner Joga mungkin terlalu mainstream, maka mereka  memelopori kuliner khas Bandung! Tak hanya bubur ayamnya yang menggoyang lidah. Kupat tahu, lontong sayur Bandung dan beberapa sajian sate maupun gorengan raos pisan! So, bagi kamu warga Bandung yang menetap or lagi liburan ke Jogja, jangan khawatir, bubur ayam ini teh ngangenin!
Sekilas dari luar warung ini sudah eye catching. Bercat orang dan tulisan baliho besar ‘Bubur Ayam’ menarik pandangan kami untuk berkunjung masuk, membeli dan mencicipi bubur ayam ini. Heum, harumnya bubur, ramainya pembeli pagi itu, kesibukan pramusaji yang hampir tak pernah berhenti; membuat kami yakin cita rasa bubur ini pasti enak! Begitu kami  masuk, kami  langsung menyasar kursi  bagian pojok, sebab hanya itu yang masih kosong. Selebihnya, semua kursi terisi pembeli yang sedang menikmati sajian bubur ini. Karena kursi kurang satu, seorang pembeli lekas memboyong satu kursi untuk kami. Ibu Murti tersenyum pada kami dan mempersilakan kami duduk. Sejurus kemudian, sang suami, mendekati kami dan bertanya ramah, “Sudah terlayani, Teteh?” seraya tersenyum. Tak butuh waktu tunggu yang lama, kami langsung mendapatkan dua porsi bubur di mangkuk ukuran cukup besar (bukan mangkuk ayam ya, hehe), plus dua bowl plastik berisi kerupuk.
            “Silahkan, Teh. Itu kecap manisnya, kecap asinnya di botol kuning, sambel, tisu, daun bawang, semua ada disitu. Silahkan dicampur sesuai selera, yah!” ucap beliau ramah, senyuman tersungging tulus dari bapak berpeci dan berkacamata itu.




Sekilas tampak, bubur ini sama seperti bubur pada umumnya. Pembedanya hanya daun bawang yang teriris besar dan kerupuk yang disediakan pada mangkuk terpisah. Seporsi bubur ayam cukup merogoh kocek Rp. 8000 saja, gorengan 2000 rupiah/ 3 buah, sajian usus maupun telur puyuh yang masih terjangkau, minuman beragam variasi di bawah 5000 rupiah, harga terjangkau inilah yang membuat warung bubur ini tak pernah sepi pembeli. Namun, tak cukup hanya soal harga sebenarnya! Ada rahasia lain yang dipraktikkan betul-betul oleh sepasang suami isteri ini agar warung khas Bandungnya ini selalu laris manis! Apa ya? Keramahan!





Keramahan atau sikap mau menyapa dan menservis pembeli dengan baik terkadang bukan dianggap hal penting oleh pedagang. Padahal, jika pedagang ramah dan melayani pembeli dengan sebaik mungkin juga jujur (amanah) seperti yang dipraktikkan cara berniaga Rasulullah, itu bisa menjadi nilai ‘lebih’ bagi usaha tersebut. Terlebih, jika cita rasa kuliner yang dijual pun lezat, itu bisa menjadi nilai tambah yang membuat pembeli enggan ke lain hati. Nah, pagi tadi, kami berkesempatan mengobrol dengan Bapak penjual bubur yang malu-malu hingga enggan menyebutkan namanya. Beliau mengaku, warung buburnya buka setiap hari. Ia isteri dan ketiga karyawan laki-lakinya mulai menjajakan buburnya sejak jam 6 pagi hingga jam 12 siang. Semua kalangan dari mulai anak sekolah, masyarakat umum, mahasiswa, santri, anak-anak, guru, backpacker, menyantap bubur ini karena ramah penjualnya dan tentu…  ramah di kantong!

Nah, bagi kalian yang memang berkecimpung dalam usaha kuliner atau apapun jenis usahanya (baik usaha offline terlebih online), keramah tamahan Bapak-Ibu penjual bubur khas Bandung ini patut dicontoh nih! Percayalah, bahwa keramahan (juga tentu kejujuran) terhadap orang lain nggak ada ruginya. Malah bikin kita untung terus. Selain bisa menggaet pembeli untuk repeat order, dagangan kita insyaAllah akan berkah terus karena banyak lisan dan jari jemari yang tulus merekomendasi! Di akhir pertemuan, Bapak memohon doa dan berterimakasih kepada kami, “Haturnuhun, Alhamdulillah. Doakeun ya Neng,” 

Menyusuri Jejak Sejarah Masjid Jogokariyan; Masjid Sebagai Pusat Peradaban

Jum’at, 22 November 2019, panas terik siang itu sama sekali tidak menyurutkan langkah ratusan orang untuk menunaikan shalat Jum’at berjamaah di sebuah masjid bersejarah kawasan Jalan Jogokariyan, Kec. Mantrijeron, Yogyakarta atau yang lebih kita kenal dengan Masjid Jogokariyan. Jamaah siang itu cukup  membludak. Mereka berdatangan dari luar Yogya. Bis-bis wisata berjejeran. Selepas shalat Jum’at, jamaah tak lekas pulang, mereka terlebih dulu mencicipi menu angkringan di pelataran masjid, kupat tahu di sebelah kiri masjid atau juga sekedar mencoba dan membeli blangkon yang dijual persis di toko sebelah masjid.
            Ada perjalanan panjang mengapa masjid ini seolah memiliki ‘magnet’ sehingga banyak orang dari berbagai penjuru datang; tak tanggung-tanggung mereka menyewa bis-bis besar dengan berbagai macam tujuan. Ada yang sekedar singgah sejenak untuk ikut merasakan kekhusyu’an shalat  jama’ah di masjid bersejarah ini, ada yang ingin hadir menyimak kajian, ada yang ingin berfoto-foto mengabadikan momen bertuliskan ‘Masjid Jogokariyan’ bewarna-warni di depan masjid, bahkan ada yang rela jauh-jauh untuk studi banding, bahkan rutin  mengikuti i’tikaf ramadhan yang diadakan masjid.






Di balik kegemaran dan kecintaan yang tinggi masyakarat terhadap masjid ini, tahukah Anda bahwa masjid ini sungguh menyejarah! Sejak masjid dibangun, sudah banyak usulan “nama” terhadap masjid yang tengah dalam proses pembangunan yang dimulai pada tanggal 20 September 1966 dikampung Jogokariyan ini. Bahkan hingga hari ini masih selalu saja ada orang yang mempertanyakan tentang nama masjid yang terletak di tengah-tengah kampung ini. Tetapi para Pendiri dan Perintis Dakwah di Jogokariyan telah sepakat memberi nama Masjid ini dengan nama “Masjid Jogokariyan” dengan harapan bahwa masjid diharapkan mampu menjadi perekat dan pemersatu masyarakat Jogokariyan yang sebelumnya terkotak-kotak dalam aliran politik dan gerakan politik dimasa-masa pergolakan sebelum peristiwa 1965.
Masjid Jogokariyan sebagai saksi bisu bagaimana perubahan atau istilah hijrah betul-betul teraktualisasi di wilayah ini. Masjid ini pula telah menjadi alat pemersatu ummat dan masyarakat bebasis kultur kampong “Jogokariyan” sehingga proses ishlah masyarakat segera berlangusng melalui masjid pasca terbebasnya masyarakat dimasa-masa kritis Demokrasi Liberal yang berpuncak tragedi 30 September 1965.
Selain menyejarah, Masjid Jogokariyan memiliki cara tersendiri untuk PDKT terhadap masyarakat setempat. Setiap kali ada tamu atau jamaah datang, selalu rutin didata. Untuk masyarakat sekitar yang kerap berkunjung, data jama’ah tersebut digunakan untuk Gerakan Shubuh Berjama’ah. Sehingga, pada 2004, dibuat sebuah terobosan program baru agar para jamaah lebih meramaikan masjid. caranya, yaitu dengan membuat undangan cetak, layaknya pernikahan. Semua undangan ditulis dengan daftar nama. Undangan itu dilengkapi hadits-hadits keutamaan Shalat Shubuh. Hasil terobosan program itu cukup menakjubkan! Ada peningkatan jumlah jamaah secara signifikan. Hal itu bisa dilihat ketika jumlah jamaah sholat Shubuh, bisa mencapai sepertiga jumlah jamaah Sholat Jumat. MasyaaAllah..
Masjid Jogokariyan menjadi bukti bahwa masjid sangat bisa berfungsi dan mengambil peran dalam solusi masalah umat. Masjid yang diawali dari sebuah langgar kecil di Kampung Pinggiran Selatan Yogyakarta, Masjid Jogokariyan terus berusaha membangun ummat dan mensejahterakan masyarakat. Logo Masjid Jogokariyan terdiri dari tiga bahasa. Arab, Indonesia, dan Jawa. Ini adalah wujud dari semangat para takmir, untuk menjadi muslim yang shalih seutuhnya tanpa kehilangan akar budaya. Sesuai dengan visi masjid ini; terwujudnya masyarakat sejahtera lahir bathin yang diridhoi Allah melalui kegiatan kemasyarakatan yang berpusat di masjid.
Adapun bebrapa kegiatan yang rutin dilakukan masjid Jogokariyan ialah; Taman Pendidikan Al-Qur’an, pembinaan Himpunan Anak-anak Masjid (HAMAS) Jogokariyan setiap hari ba’da maghrib, pengajian anak Sabtu ba’da maghrib. Untuk remaja, pengajian malam Rabu, pukul 20.00, tadarus Al-Quran keliling, Jumat pukul 20.00. Sedangkan untuk umum, ada Majelis Dhuha setiap Kamis 08.00 yang diasuh oleh Ketua DKM Masjid, Ust. Jazir ASP, Majelis Jejak Nabi, Kamis 16.00 diasuh oleh Ust. Salim A Fillah, Kajian Tafsir Quran setiap Senin 20.00 oleh Ust Aris Munandar, Tadabbur Al Quran setiap Jumat 16.00 oleh Ust. Okrizal Eka Putra, Kuliah Subuh setiap hari ba’da subuh.
Selain itu, sebagai bentuk kepedulian keamanan masyarakat, juga diadakan ronda tiap malam di Masjid Jogokariyan yang melibatkan masyarakat Jogokariyan. Setiap harinya, ada 5 – 10 orang yang ronda. Upaya ini mampu menjadikan kawasan Masjid dan sekitarnya aman dari tindak  dan pelaku kejahatan. Dengan melibatkan masyarakat, kepedulian mereka kian tinggi hingga program pemberdayaan masyarakat; rutin sodaqoh beras adalah program social untuk membiasakan warga berbagi dan membantu masyarakat kurang mampu.
Masjid ini juga memiliki keunikan tersendiri. Dewan Ta’mir Masjid yang diketuai oleh H.M Jazir mengungkapkan, Masjid Jogokaryan telah membuat Skenario planning dalam memajukan da’wah di masjid Jogokaryan. Dalam membuat Skenario Planning, ta’mir membuat 3 periode. Periode pertama pada tahun 2000- 2005. Periode kedua pada tahun 2005-2010. Dan periode ketiga pada tahun 2010-2015. Skenario planning pada tiap periode memiliki karakteristik yang berbeda. Tetapi, jika ditinjau dari jenis dan jumlah program kerjanya tidak jauh berbeda. Gambaran skenario planning pada setiap periode, antara lain Jogokariyan Islami (2000-2005), dengan mengubah masyarakat dari kaum abangan menuju islami. Selain itu, pemuda yang suka mabuk di jalan, diarahkan ke masjid. Warga yang belum shalat diajak untuk shalat. Mengajak anak kecil beraktivitas di Masjid. Warga yang shalat di ruma diarahkan shalat di Masjid. Bahkan, menjadikan para pemabuk sebagai kemaanan Masjid.
Skenario planning kedua adalah Jogokariyan Darusalam I pada rentang 2005-2010. Yaitu dengan membiasakan masyarakat untuk berkomunitas di masjid. Jama’ah subuh menjadi 50% (10 shaf) dari jama’ah shalat jumatan. Menyejahterakan jama’ah melalui lumbung masjid, memperbanyak pelayanan, membuka poliklinik, memberikan bantuan beasiswa, memberikan layanan modal bantuan usaha.
Skenario planning ketiga adalah Jogokariyan Darusalam II (2010-2015), yaitu dengan meningkatkan kualitas keagamaan masyarakat. Menuntaskan orang yang belum shalat Jama’ah. Meningkatkan Jama’ah shalat subuh menjadi 75% (14 shaf) dari jama’ah shalat jumatan. Menjadikan para (eks) pemabuk menjadi bagian dari masjid (BBM dan relawan Masjid).
Dengan demikian, setiap masjid pasti mempunyai manajemen sendiri dalam mengelola jamaah. Masjid Jogokariyan salah satu masjid yang mengelola jamaah nya dengan berorientasi pada pelayanan jamaah. Upaya masjid ini tidak hanya berpusat pada peningkatan spiritual masyakarat namun juga menumbuhkan kesadaran dan kepedulian social. Upaya inilah yang akhirnya menjadikan masyarakat lebih cinta dan mendekat ke masjid, tanpa paksaan. Manajemen Masjid Jogokariyan— sebagai masjid besar percontohan Idarah Nasional 2016 oleh Kementerian Agama RI, merupakan manajemen masjid modern yang berlandaskan pada nilai-nilai masjid pada zaman Rasulullah SAW— dimana masjid menjadi jantung pokok kegiatan masyarakat serta bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat sekitar.


Angkringan dan Budaya yang Harus Dilestarikan



            Angkringan? Tentu kita tak asing lagi mendengar kata ini. Beberapa  hal yang terbayang adalah makan dengan harga murah dengan menu utama ialah nasi (sego) dengan porsi kecil (atau yang akrab disebut nasi kucing terselip sambal teri), lengkap dengan sate usus, telur puyuh, aneka gorengan dan kerupuk. Tak lupa, penghangat perut biasanya disajikan wedang jahe dan teh nasgitel (panas, legit, kenthel) maupun es jeruk.

Istilah Angkringan sendiri berasal dari kata ‘ngangkring’ atau istilah betawi- yang lebih kita  kenal ‘nangkring’—rutinitas duduk santai sambil menyilangkan kaki dan istilah ini pula yang lekat dalam angkringan. Angkringan terlahir sebagai romantisme potret masyarakat menengah ke bawah yang gemar makan di pinggir jalan, merasakan semilir angin sembari berdiskusi ringan dengan pembeli lain. Meski kini perkembangan teknologi sudah merambah hingga urusan makan dan minum yang dipesan secara online, angkringan tetap diminati. Lihat di Kawasan Tugu Yogyakarta, misalnya. Angkringan berjejer rapi; memotret kebersamaan dan kesederhanaan dengan sungguh sempurna. Semua kalangan dari berbagai latar belakang, makan bersama. Tak peduli strata sosial dan pendidikan mereka; angkringan menyatukan mereka. Namun demikian, bagaimana sebenarnya awal mula angkringan itu ada?

Adalah Mbah Pairo, seorang pendatang dari Cawas, Klaten yang memelopori adanya angkringan di Yogyakarta sejak tahun 1950-an. Cawas yang secara adminstratif termasuk wilayah Klaten Jawa Tengah merupakan daerah tandus terutama di musim kemarau. Tidak adanya lahan subur yang bisa diandalkan untuk menyambung hidup, membuat Mbah Pairo memutar otak. Ia pun memutuskan untuk mengadu nasib ke Yogyakarta dan mulai membuka usaha angkringan (dulu dengan dipikul belum berbentuk gerobak menetap). Tahun demi tahun berlalu, usaha Mbah Pairo membuahkan hasil. Racikan khas menu angkringannya menetap di lidah para penggemarnya. Akhirnya usaha ini dilanjutkan oleh puteranya, Lik Man, sejak sekitar tahun 1969. Lik Man membuka usahanya di Tugu Yogyakarta lalu diikuti oleh banyak angkringan lain di sekitarnya. Sehingga, tak afdhol rasanya jika ke Yogya kalau tidak mencicipi empuknya sego kucing dan lezatnya menu sate-satean juga harumnya racikan teh hangat.

Kekhasan Angkringan yang begitu membudaya di pusat Kota Yogyakarta sampai juga ke pelosok desa di Jalan Sukun, Banguntapan, Bantul Yogyakarta. Yuk Marni namanya, beliau sudah berprofesi sebagai pedagang angkringan selama lima tahun terakhir. Jika angkringan lain  biasanya mulai ramai di waktu sore hingga dini hari, maka Yuk Marni sudah mulai membuka lapaknya sejak pukul enam pagi dan tutup sore hari. Tak perlu ragu racikan Yuk Marni. Sego kucingnya empuk dan tanek. Cita rasa khas sego yang masih betul-betul dijaga. Sambel teri dan  tempe oreg terselip dalam sego kucingnya. Dalam sehari, Yuk Marni membuat hampir 50 lebih nasi dan habis disantap. Tadi, kami berkesempatan mencicipi angkringan Yuk Marni. Heum, sego kucing dua bungkus, sate usus dua, sate puyuh satu, dua tempe goreng dan dua nasi jeruk; hanya cukup membayar 16ribu saja!  Harga yang sangat ekonomis untuk ukuran backpacker.





Pembeli hari itu yang didominasi oleh laki-laki, tak membuat perempuan maupun ibu-ibu enggan membeli. Ada yang membeli satu atau dua sego lengkap dengan lauk dengan dibawa  pulang (dibungkus), ada pula yang lebih memilih untuk menikmati lezatnya menu angkringan di tempat itu sembari bercengkrama dengan sesama pembeli. Sungguh kebiasaan yang langka terjadi di kota metropolitan.



Lezat dan cara masyarakat menikmati menu angkringan mengingatkan kita pada satu hal yang sangat berkesan; angkringan bukan hanya soal makan tapi juga ada budaya yang harus dilestarikan yaitu kesederhanaan dan kesahajaan—mengedepankan adat ketimuran melalui budaya ramah-tamah (makan bersama sambil bertegur sapa) dan tuntunan Rasulullah untuk makan dalam porsi yang cukup. Ukuran nasi kucing yang memang disediakan dalam bungkusan mini memungkinkan pembeli menyantap nasi sesuai dengan kapasitas perut masing-masing. Sehingga, ukuran mini nasi sego ini mengurangi kemubadziran makanan karena rata-rata pembeli mampu melahap satu porsi sego kucing. Sehingga, dengan ukuran yang pas; dua kebutuhan lain bisa terlaksana dengan baik yaitu minum dan bernafas; sesuai dengan sabda Rasulullah Saw, “Tidak ada bejana yang diisi oleh manusia yang lebih buruk dari perutnya, cukuplah baginya memakan beberapa suapan sekedar dapat menegakkan tulang punggungnya (memberikan tenaga), maka jika tidak mau, maka ia dapat memenuhi perutnya dengan sepertiga makanan, sepertiga minuman dan sepertiga lagi untuk nafasnya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad (IV/132), Ibnu Majah (no. 3349), al-Hakim (IV/ 121).

Dengan cara tersebut di atas, potret kesahajaan dan kesederhanaan budaya angkringan secara tidak langsung mengikuti sunnah Rasulullah yang semoga mampu kita teladani bersama-sama. Demikianlah, angkringan; bukan hanya soal makan namun ada sunnah Rasulullah yang harus dilakukan dan budaya ketimuran yang harus dilestarikan. Wallahu a’lam.


Mendekati Sang Pencipta Melalui Sufism Yoga


Mendekati Sang Pencipta Melalui Sufism Yoga
Ina Salma Febriany


            Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka'.'' (Qs. Ali Imran/3: 190-191).

            Bagi kalangan masyarakat urban, olahraga menjadi kebutuhan yang harus disempatkan karena padatnya kesibukan. Pilihan olahraga pun semakin beragam. Kita bisa melihat semakin hari semakin banyak studio berkonsep indoor yang didirikan di sudut ibukota bahkan telah masuk ke pelosok desa. Olahraga memang seperti kebutuhan biologis lainnya, ia sangat dibutuhkan demi kesehatan jiwa raga. Terlebih Islam yang menganjurkan pemeluknya untuk menjaga kesehatan agar kualitas ibadah semakin membaik. Nah, olahraga yang kini kian digemari masyarakat salah satunya adalah yoga. Konon, yoga ini berasal dari kebudayaan masyarakat India sejak beribu tahun lampau.
Seiring waktu, yoga yang lahir sebagai meditasi agama tertentu, kini mulai mengalami banyak modifikasi. Satu hal mendasar dan penting ialah yoga merupakan aktivitas harmonisasi antara fisik dan pikiran dengan konsep gerakan dan meditasi. Karena berasal dari India, gerakan dan meditasi dalam yoga ini berkesan bercampur dengan tradisi Hindu ataupun Buddha. Yoga ini banyak macamnya, baik berdasarkan model gerak maupun  nilai yang ditekankan. Disebabkan pengaruh impor budaya yang masif, keberadaan yoga. Karena itu, bagaimana baiknya muslim menyikapi aktivitas yoga?
Majelis Ulama Indonesia, dalam perkara yoga ini melakukan riset dan menyampaikan fatwa seputar pelaksanaan yoga ini. Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia III tahun 2009 yang dilaksanakan di Padang Panjang menghasilkan fatwa seputar yoga, yang disimpulkan sebagai berikut, pertama, yoga yang berisi ritual dan spiritual agama selain Islam, hukum melaksanakannya bagi muslim adalah haram. Kedua, Yoga yang mengandung meditasi dan mantra atau spiritual, dan ritual ajaran agama lain, sebagai langkah preventif agar tidak melakukan ke perkara yang haram, maka haram dilakukan. Ketiga, yoga yang murni berupa olahraga untuk kepentingan kesehatan hukumnya mubah (boleh).
Dalam rilis fatwa tersebut, MUI menyebutkan telah melakukan pengamatan atas lembaga penyelenggara yoga di Indonesia. Setidaknya yoga yang dilaksanakan masyarakat Indonesia digolongkan MUI menjadi tiga: yoga yang berupa ritual; yoga yang berupa olahraga, namun dengan mantra dan meditasi tertentu; dan terakhir, yoga yang murni merupakan olahraga.
Adalah Pudjiastuti Sindhu, perempuan berasal dari Bandung, seorang ibu dari dua anak, sekaligus praktisi yoga & meditasi selama hampir 20 tahun. Dialah yang menginisiasi lahirnya Sufism Yoga atau yoga melalui pendekatan tasawwuf. Teh Uci, panggilan akrabnya, juga berkiprah sebagai pegiat sosial serta penulis. Ia adalah pendiri dan direktur Yoga Leaf Indonesia, salah satu pionir komunitas yoga di Indonesia sejak tahun 2002 yang bertempat di Bandung. Beragam sertifikasi dalam bidang  Yoga telah ia peroleh; seperti RYS200 (Registered Yoga School 200 hours) dan RPYS (Registered Prenatal Yoga School) dari Yoga Alliance International. Ia telah menulis dua buah buku yoga: “Hidup Sehat dan Seimbang Dengan Yoga” (2006) dan “Yoga Untuk Kehamilan Sehat, Bahagia, Penuh Makna” (2009 ) dan aktif menjadi pembicara dan pengajar di berbagai seminar dan pelatihan yoga.
Pujiastuti adalah pribadi yang passionate, intuitif, humoris, lembut namun juga tegas. Ia mengajar kelas Hatha– Yin yang bersifat gentle-but-firm, penuh kesadaran, membuka wawasan siswa lewat analogi-analogi sederhana dan praktik Yoga Nidra yang tematik. Seiring perjalanan spiritualnya, pada tahun 2013 Pujiastuti mendirikan Taman Rumi, sebuah kelompok belajar tasawuf bagi para Sufi pemula. Sejak itu pula Pujiastuti mulai mengajarkan yoga dengan pendekatan sufisme (tasawuf).
Sufisme menekankan pada praktik internal dalam hati untuk mengikis ego kita, yang menjadi masalah utama untuk menjangkau kesadaran diri yang seutuhnya. Tujuannya ialah agar selalu mengingat Tuhan sebagai salah satu jalan merasakan kehadiran-Nya di manapun. Yoga Sufisme merupakan praktik yoga yang menitikberatkan pada disiplin pernapasan dan asana yang lembut dengan konsentrasi, kontemplasi dan aktivasi Hati (Qalbu) melalui Dzkir (mengingat Tuhan) dan Muraqabat (meditasi). Meditasi Hati atau Heart Meditation adalah praktik meditasi hati – Singgasana Ilahi dalam diri. Dalam Sufism yoga, hati adalah objek dalam meditasi. Karena objek meditasi, maka kita akan merasakan kedamaian sejati bahwa memang seluruh aktivitas kehidupan bermuara dari hati; sesuai dengan sabda Rasulullah Saw bahwa jika hati kita baik, maka baiklah seluruh amalan.
Banyak jalan menuju Roma—seperti halnya banyak cara mendekati-Nya. Sufisme yoga menjadi jawaban tersendiri untuk lebih dekat dan mengenal-Nya. Konsep yoga ini terlahir menjadi yoga dengan konsep baru—yang diinisiasi oleh Teh Uji ini. Perlu diyakini betul bahwa Islam bukanlah agama yang kaku. Ia bersifat dinamis sesuai kebutuhan dan perkembangan umat. Sufism yoga menjadi jawaban bahwa yoga tak hanya sekedar menyelaraskan pernafasan, gerakan dan pikiran (apalagi mengucap mantra salah satu agama tertentu) tapi melampaui semua itu. Yoga dalam pendekatan islam/ sufi membutuhkan konsentrasi batin untuk lebih dekat dengan Allah melalui dzikirullah (mengingat Allah) dan kebesaran-Nya sesuai dengan perintah pada Qs. Ali  Imran/3: 190-191 di atas bahwa dalam segala pose; berdiri, duduk, berbaring (gerakan inti yang juga ada dalam praktik yoga) tak cukup hanya sekedar bernafas, bergerak dan meditasi, namun harus bersamaan dengan kontemplasi sejati; mengingat Allah dan berbagai ayat (tanda-tanda) kebesaran Allah melalui penciptaan alamnya yang sangat teratur dan sempurna. Semoga melalui Sufism yoga maupun olahraga lain yang kita lakukan, semakin membuat kita bersyukur atas kesehatan dan lebih dekat dengan Tuhan. Aamiin.
Wallahu a’lam.





Perempuan, Safar dan Tafakkur


Perempuan, Safar dan Tafakkur
Ina Salma Febriany

            Dialah yang menjadikan bumi itu mudah (dzalu>la>) bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya, dan hanya kepada-Nyalah kami kembali,” (Qs. al-Mulk/ 67: 15)

Ada dua perintah yang Allah kemukakan dalam Qs. al-Mulk/ 67: 15 di atas yakni peneguhan dari-Nya mengenai bentuk dan fungsi bumi juga perintah untuk ma-syi-ya/ amsyu> (berjalanlah/ amatilah) segala penjuru (bagian bumi-bumi Allah yang luasnya tak terkira ini). Selain itu, ayat tersebut juga merintahkan manusia untuk memakan makanan yang terhidang dari bumi. Secara tersurat, Qs. al-Mulk/ 67: 15 ini masih terkait dengan ayat sebelumnya, yakni ayat 14 yang mengajukan manusia pertanyaan, ‘Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui?’ tanpa objek khusus dan dengan menggunakan kata khalaqa (menciptakan dari yang tiada), maka di ayat 15 ini, Allah menggunakan lafadz ja’ala (menjadikan fungsi tertentu).
Dalam Qs. al-Mulk/67: 15 Allah menggunakan lafadz dzalu>la> sebagai arti mudah yakni Allah yang menjadikan bumi itu mudah bagi manusia (untuk melakukan perjalanan dan mengambil manfaatnya). Selain itu, dzalu>la> secara harfiah berarti juga rendah dan hina. Bumi itu dimudahkan oleh Allah bagi manusia untuk mengadakan perjalanan dan diambil manfaatnya. Makna lain, bumi itu diciptakan berada di bawah harkat dan martabat manusia. Sedangkan manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk termulia yang dijadikan khalifah Allah untuk merawat, melestarikan dan memakmurkan bumi. Dengan demikian, manusia boleh memanfaatkan apapun yang ada di bumi selama ada maslahah (kebaikan) dan manfaat.
Prof. Yunan Yusuf dalam Tafsir Khuluqun ‘Adzhim melihat ayat ini lebih kepada fungsi bumi yaitu jangan menempatkan bumi dan segala apa yang ada di permukaannya di atas martabat manusia dengan cara mempertuhankannya. Namun, di waktu bersamaan, juga tidak merusak dan memperlakukannya semena-mena. Sebab, pasti ada dampak negatif jika kedua hal di atas dilakukan. Dampak pertama, jika menggunakan bumi untuk dipuja dan disembah, maka manusia akan masuk kepada lembah  kemusyrikan. Dampak kedua, jika mengeksploitasi bumi secara aniaya dan semena-mena, manusia akan tertimpa segala jenis kerusakan bumi.
Berbicara mengenai safar, ayat di atas  tidak menyebutkan jenis kelamin tertentu. Lafadz yang tertulis ialah jama mudzakkar salim yang berarti baik laki-laki maupun perempuan termasuk di dalamnya. Kiranya ada delapan ayat yang ‘menyeru’ manusia untuk melakukan perjalanan (safar) ke beberapa belahan bumi Allah yang lain dan kedelapan ayat tersebut termasuk surah al-Mulk/67: 15 tidak  mengkhususkan perintah ini untuk satu jenis kelamin saja, melainkan kalian (seluruh manusia). Dalam surah lain dengan tema yang senada, Qs. Muhammad ayat 10, Allah berfirman, “Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu."
Atau dalam Qs. Yusuf ayat 109, "Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka berpergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya?"
Qs. Ali 'Imran/3: 137 juga berbicara mengenai safar, "Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)." Selanjutnya, dalam surah surah an-naml ayat 69, “Katakanlah: 'Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa'."
Kelima surah di atas yang menganjurkan perintah untuk safar (berpergian) seluruhnya tidak menyebutkan satu jenis kelamin tertentu untuk tidak boleh melakukan safar. Sebaliknya, baik laki-laki maupun perempuan mendapatkan perintah yang sama; famsyu> (maka berpergianlah wahai laki-laki dan perempuan) wanzhuru> (dan perhatikanlah) apa yang terjadi akibat kedustaan kaum-kaum terdahulu. Lantas, bagaimana sebenarnya alqur’an memandang perempuan yang bersafar?
Secara fikih, bab safar masuk dalam bahasan hukum perempuan keluar rumah. Islam sebagai agama yang komprehensif memberikan pengaturan demi perlindungan umatnya. Termasuk dalam urusan seorang wanita bepergian keluar rumah. Wanita pada dasarnya boleh keluar rumah untuk urusan tertentu seizin walinya jika ia masih gadis atau seizin suaminya jika ia sudah menikah.
Para perempuan di zaman Rasulullah SAW juga terbiasa keluar untuk ikut shalat berjamaah di dalam masjid. Dalam sebuah hadis dari Abdullah Bin Umar dia berkata, Nabi SAW bersabda, "Apabila salah seorang perempuan di antara kamu minta izin (untuk berjamaah di masjid) maka janganlah mencegahnya." (HR Bukhari dan Muslim).
Namun demikian, ada perbedaan (ikhtila>f) mengenai hukum perempuan pergi keluar rumah. Golongan pertama memandang sama sekali tidak boleh seorang perempuan keluar rumah tanpa ditemani mahram. Golongan ini mendasarkan pendapatnya pada hadis Ibnu Abbas RA, "Seorang perempuan tidak boleh bepergian tanpa ditemani oleh seorang mahram. Dan dia tidak boleh dikunjungi oleh seorang laki-laki kecuali dia bersama mahramnya." (HR Muttafaq ‘alaih).
Pendapat ulama golongan ini dikuatkan dengan beberapa keterangan jika perempuan keluar rumah lebih dari tiga hari maka ia wajib ditemani mahramnya. Hal ini didasarkan pada hadis dari Ibnu Umar RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Tidak diperbolehkan seorang wanita bepergian selama tiga hari melainkan bersamanya ada seorang muhrim". (HR. Muttafaq ‘alaih).
Hal ini juga berlaku bagi perempuan yang ingin menunaikan ibadah haji. Ia harus ditemani mahramnya, baik keluarga maupun suaminya jika ia sudah menikah. Ada seorang lelaki berkata kepada Rasulullah SAW, "Wahai Rasulullah, istriku keluar rumah untuk menunaikan ibadah haji dan aku bertugas di perang ini dan ini". Beliau SAW pun bertutur. "Pergi dan berhajilah bersama isterimu". (HR Muttafaqalaih).
Pendapat kedua mengatakan sebagian ulama memperbolehkan perempuan untuk bepergian sendirian dengan syarat jalan yang akan ditempuhnya dan daerah yang akan didatanginya dalam kondisi aman. Ulama golongan ini mendasarkan pendapat ini pada hadis dari Adiy bin Hatim RA bahwa Rasulullah SAW bersabda ,"Jika kamu berumur panjang niscaya kamu akan melihat seorang perempuan pergi sendiri dari Hira (wilayah Irak) hingga (sampai Makkah) melakukan tawaf di sekeliling Ka’bah. Dia tidak takut kepada seorang pun kecuali kepada Allah." (HR. Bukhari).
Golongan ulama yang memperbolehkan perempuan keluar sendiri beralasan, berdasarkan hadis di atas maka illat (sebab hukum) dari larangan bepergian yakni faktor keamanan sudah hilang. Jika dipastikan perjalanannya aman dan tujuannya demi kebaikan, maka hukumnya menjadi boleh. Sebab illat dari larangan adalah tidak adanya keamanan selama perjalanan. Meski begitu golongan ulama ini tetap mensyaratkan bagi perempuan yang ingin bepergian sendiri tetap wajib meminta izin dari wali jika ia belum menikah atau suaminya jika ia sudah menikah juga menjaga diri dan menutup aurat sebagai bentuk perlindungan dirinya.
Mendapati perbedaan kedua hadits di atas, kita perlu menyikapinya dengan bijak. Sebab, jika kita tinjau kembali, ayat-ayat perintah berpergian yang telah dipaparkan di atas tak memiliku tujuan fandzhuru> (lihatlah, amatilah) kerusakan dan dampak apa yang terjadi atas ulah umat-umat terdahulu akibat mendustakan ayat-ayat Allah. Sehingga, berpergian (safar/travelling) dalam perspektif al-quran bukan hanya dilihat dari boleh tidaknya/ hukum dasar perempuan atau laki-laki berpergian di muka bumi; tapi lebih dari itu. Allah menghendaki dari safar tersebut ada tujuan yang hendak kita capai salah satunya agar mau ber-tafakkur. Dengan demikian, perintah untuk safar bertujuan untuk menambah keimanan dan rasa syukur atas ni’mat sehat (juga materi) dan berpikir tentang kebesaran Allah. Sehingga, berjalan-jalan bukan hanya sekedar refreshing melepas penat tapi ada makna luhur darinya, yaitu; kian mencintai dan taat pada Allah, sehingga lahirlah upaya kuat untuk melestarikan alam. Semoga!