Galau?
aih, kata kata yang lagi nge-hits banget. tapi sebenarnya ya, wajar nggak sih kita punya perasaan Gegana alias Gelisah Galau Merana?
yaa,, wajar doong. itukan salah satu sifat manusia ya? yang terpenting, kalau hati dirundung resah, jiwa dilanda gelisah, yaa harus cari tu penyebabnya dan cari pula OBATNYA. mau tau? yuk, ah cekidooot :)
Obat Mujarab Penghilang Galau :)
v “Dan Kami turunkan dari Al Quran
suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu
tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al Isra’: 82)
v “Al Quran itu adalah obat dan penawar bagi orang-orang beriman.” (QS. Fushilat: 44)
v
“Hai manusia sesungguhnya
telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh
bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada." (QS.Yunus :57)
Tiga
ayat di atas, dengan lembut menyuarakan bahwa Al-Quran dianalogikan selayaknya
obat. Obat, dengan segala fungsinya menyembuhkan penyakit yang diderita pasien,
meski terkadang rasanya pahit, namun tetap diidamkan oleh para penderita yang
ingin sembuh dari penyakit. Begitupun juga Al-Quran, hanya orang-orang yang
beriman yang tidak merasakan pahitnya cobaan karena dekat, membaca, mempelajari
dan mengamalkan nilai-nilai Al-Quran. Al-Quran pun dapat menjadi obat
ketenangan paling mujarab bagi siapapun orang-orang beriman yang hatinya sempit
dirundung duka, galau dihimpit derita, dan gelisah dikelilingi nestapa.
Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyebutkan
adanya dua pendapat ulama tentang penyakit yang bisa disembuhkan oleh Al
Qur’an.
Pendapat pertama, bahwa Al
Qur’an itu menyembuhkan hati (القلوب) dari penyakit kebodohan dan keraguan.
Pendapat kedua,
menyembuhkan penyakit-penyakit jasmani dengan cara ruqyah, ta’awwudz dan
sejenisnya. Pendapat ini didasarkan pada Hadits Rasulullah saw yang berasal
dari Abu Sa’id Al Khudri ra, bahwa pada suatu saat Rasulullah saw mengutus dia
bersama 30 pasukan ke sebuah peperangan. Ketika sampai di pemukiaman salah satu
suku Arab mereka meminta dijamu, akan tetapi suku tersebut enggan. Tiba-tiba
ketua suku tersebut disengat kalajengking. Lalu datanglah utusan mereka menemui
para sahabat dan bertanya: “Apakah di antara kalian ada yang bisa mengobati
sengatan kalajengking?” “Ya. Akan tetapi kalian harus memberi kami imbalan.”
Jawab sahabat. Mereka berkata: “Kami akan memberi kalian 30 ekor kambing.”
Abu Sa’id
pun meruqyahnya dengan surah Al Fatihah sebanyak tujuh kali,
dan sembuh. Lalu mereka mengambil imbalan 30 ekor kambing dan membawanya kepada
Rasulullah saw. Kepada mereka beliau bersabda: “Makanlah dan berilah kami makan
dari kambing itu”
Menanggapi dua perbedaan pendapat yang dikemukakan Al Qurthubi di atas,
Muhammad Sayyid Thanthawi menengahi dengan mengatakan: “(Pendapat) yang
menenangkan jiwa adalah bahwa membaca Al Qur’an Al Karim dan mengamalkan hidayah,
petunjuk dan syari’at yang ada di dalamnya… semuanya – dengan izin Allah SWT –
dapat menjadi penyembuh bagi penyakit-penyakit hati dan jasmani.”
Muhammad Sayyid Thanthawi juga menjelaskan lebih rinci contoh penyakit hati
yang bisa disembuhkan oleh Al Qur’an, antara lain: was-was,
bingung, nifaq, iri hati, rakus, menyimpang dari jalan yang
benar, dan lain-lain.
Sang Penyembuh pada akhirnya adalah jawaban atas segala permasalahan.
Selain sebagai obat, ribuan ayat Al-Quran bak mutiara yang
memancarkan cahaya dari segala sisi, Al-Quran selalu menyinari hati orang-orang
yang mengharapkan hidayah di sanubari. Cahaya Al-Quran juga semakin terlihat
jelas karena jawaban segala permasalahan kehidupan.
Selayaknya bayi yang perlu diimunisasi
agar daya tahan tubuhnya kebal, begitupun dengan hati-nya orang dewasa yang
rentan terhadap kegelisahan, ketidaknyamanan, kesedihan, dan kegalauan.
Sehingga, imunisasi hati melalui pesan-pesan dan nasihat Al-Quran menjadi
jawaban tersendiri, karena hati yang sifatnya rentan terhadap perubahan, mudah
dihinggapi kemalasan, juga sukar diberikan nasihat dan pelajaran, maka,
Al-Quran ialah solusi, bahwa dari ribuan ayat yang Dia turunkan, mengandung
banyak hikmah, pesan, pelajaran, juga tentu-- obat penyembuh dari segala luka
nestapa.
Akhirnya, kepada Allah-lah penulis
memohon, agar mutiara pesan-pesan Al-Quran yang tertuang menjadi untaian
tulisan ini mampu menjadi pelajaran, rahmat, obat, dan sumber ketenangan bagi
pembaca sekalian. Aamiin