Marah; siapa
yang tak mengenal istilah ini? Sebagai makhluk yang dibekali hawa nafsu, tentu
semua manusia pernah mengalami sebab marah juga termasuk luapan emosi. Marah
juga merupakan satu bentuk ekspresi manusia ketika ada seseorang yang berbuat
salah maupun sesuatu yang tidak dikehendakinya. Marah adalah manusiawi, namun
ketika luapan emosi ini tak sanggup mengontrol diri, maka akibat yang kurang
baik pun akan sangat mungkin menghampiri.
Semua orang
mampu marah sebab marah itu sangatlah mudah. Namun, marah terhadap orang yang
tepat, dalam situasi yang benar, dengan cara yang sesuai, tentu bukanlah
perkara yang mudah, demikian uraian filsuf Yunani, Aristoteles. Karena mudah
itulah, banyak manusia tergelincir dan berlomba mengumbar amarahnya kendati
kesalahan itu kecil.
Dalam surah surat Ali Imran, Allah
berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik pada waktu
lapang maupun sempit, serta orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan
(kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS Ali Imran [3]: 134)”
Disebutkan dalam firman Allah SWT mengenai lafadz wa al-kâzhimîn al-ghayzh (dan
orang-orang yang menahan amarahnya). Kalimat ini ma’thûf (bersambung) dengan kalimat sebelumnya.
Adanya perubahan shîghah dari
yang sebelumnya berbentuk al-fi’l menjadi al-fâ’il mengandung
makna li al-istimrâr,
yakni keadaan yang berlangsung terus-menerus. Artinya,
perilakunya yang dapat menahan marah itu tidak hanya dilakukan sekali
atau dua kali, namun telah menjadi bagian dari karakter yang melekat pada diri
mereka.
Menurut sebagian besar para mufassir, kata al-ghayzh berarti al-ghadhab (marah). Hayyan
al-Andalusi dalam Tafsîr al-Bahr
al-Muhîth, mengatakan bahwa Perasaan marah biasanya dilampiaskan
dalam bentuk ucapan seperti umpatan, celaan, dan semacamnya; atau dalam bentuk
perbuatan seperti memukul, menendang, dan semacamnya. Menahan marah berarti
menahan diri dari ucapan atau perbuatan yang menjadi bentuk pelampiasan marah
tersebut.
Al-Khazin menjelaskan, kata al-kazhm berarti
menahan sesuatu ketika sesuatu itu telah penuh. Dengan demikian, ungkapan al-kâzhimîn al-ghayzh memberikan
makna bahwa ketika seseorang dipenuhi oleh kemarahan, maka kemarahan itu hanya
tertahan dalam rongga perutnya; tidak ditampakkan dalam ucapan dan perbuatan;
tetap bersabar dan diam atasnya. Artinya, ayat ini mengandung makna, “Mereka menahan diri untuk
melampiaskan kemarahannya dan mampu menahan kemarahan hanya dalam rongga
perutnya. Ini adalah salah satu jenis sifat sabar dan al-hilm (sabar, murah
hati).”
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa suatu saat ada seorang
laki-laki yang datang kepada Rasulullah saw. untuk meminta nasihat. Beliau pun
bersabda, “Lâ taghdhab (Jangan
marah)!” Ketika pertanyaan itu diulangi, Beliau pun memberikan jawaban yang
sama. Dengan demikian, menahan marah merupakan akhlak terpuji yang
diperintahkan. Sebagai balasannya, pelakunya dijanjikan mendapat pahala yang
amat besar. Sahal bin Muadz, dari Anas al-Jahni, dari bapaknya, menuturkan
bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Siapa saja yang menahan marah, padahal dia mampu melampiaskannya,
maka Allah akan memanggilnya pada Hari Kiamat di atas kepala para makhluk
hingga dipilihkan baginya bidadari yang dia sukai (HR
at-Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah)”.
Berkenaan dengan marah, Islam tak hanya memerintahkan umatnya untuk
menahannya. Lebih dari itu, syariah juga mengajarkan metode untuk meredakan
kemarahan. Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya marah itu dari setan dan sesungguhnya setan itu
diciptakan dari api, sementara api bisa dipadamkan oleh air. Karena itu, jika
salah seorang di antara kalian sedang marah, hendaklah dia berwudhu (HR
Abu Dawud dari Athiyah)”.
Rasulullah saw.
juga bersabda: “Apabila
salah seorang di antara kalian sedang marah dalam keadaan berdiri, hendaklah
dia duduk jika kemarahan itu dapat hilang. Apabila (kemarahan) itu tidak
hilang, hendaklah dia berbaring (HR Abu Dawud dari Abu Dzar)”.
Menahan marah itu memang
tidak mudah mengingat sumber amarah itu berasal dari setan. Namun, kabar
baiknya, selain menyehatkan badan dan pikiran, menahan marah mampu mendatangkan
barakah.. Seperti kata-kata Umar bin Khattab, “Aku mencari keberkahan dari sebagian besar
pintu-pintu rezeki dan tidaklah kutemukan keberkahan itu selain dari sabar, “ (Umar bin Khattab ra).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar