Senin, 04 Januari 2016

Bersyukur Tanpa Syarat



Cinta tanpa syarat. Begitulah ucapan para pecinta untuk meluluhlantakkan hati yang dicinta sebagai bukti bahwa dia benar-benar mencintai sepenuh hati, tanpa embel-embel, atau syarat barang satupun. Jika cinta saja bisa tanpa syarat, sepatutnya, sebagai muslim kita juga patut menjaga syukur tanpa syarat kepada Sang Pemberi Ni’mat.
Allah Swt dalam beberapa ayat  Al-Qur’an banyak mengajak para hamba-Nya untuk mudah bersyukur. Bukan karena Dia membutuhkan rasa terimakasih dari manusia. Bersyukur ialah sebuah kebutuhan ruhani, baik diucapkan melalui lisan dengan Alhamdulillah, juga berupa perbuatan dengan memberdayakan apa yang kita dapatkan untuk kemaslahatan manusia. Bersyukur juga sebagai bukti kelemahan bahwa kita sama sekali tidak dapat memberikan manfaat dan mudharat bagi diri sendiri, terlebih kepada orang lain. Karena ketidakmampuan itulah, manusia dianjurkan untuk mensyukuri apa yang ia peroleh, baik itu rezeki, kesehatan, ketentraman hidup, kebersamaan bersama orang-orang terkasih, dan masih banyak lagi ni’mat-ni’mat nan terhingga yang tak kuasa menyebutkannya. Itu semua Allah limpahkan kepada manusia karena Allah bersifat Wahhab.
Wahhab berarti Maha Memberi segala sesuatu baik yang dipinta ataupun tidak dipinta hamba-Nya. Imam Ghazali menyebutkan bahwa pemberian Allah bersifat terus-menerus, tiada henti, berkesinambungan, dunia maupun akhirat, kepada siapappun, terlepas si hamba mensyukurinya atau tidak, karena memang pada hakikatnya Allah tidak membutuhkan apapun dari hamba-Nya. Pemberi tanpa pamrih.
Namun, dalam perjalanan hidup, manusia tergolong menjadi dua: golongan syukur dan golongan kufur. Oleh karenanya, tercermin dari surah di atas bahwa janji Allah terlimpah untuk dua golongan manusia, baik yang syukur maupun yang kufur. Jika kita mensyukuri ni’mat Allah apapun bentuknya, seberapapun banyaknya, maka ni’mat itu akan bertambah.
“... jika engkau bersyukur, maka akan Kutambah ni’mat-Ku untukmu. Namun, jika kamu kufur (enggan bersyukur), sungguh adzab-Ku amat pedih,” (Qs. Ibrahim: 7)
Sebagai manusia biasa, terkadang kita alfa. Kita hanya sibuk mensyukuri pemberian-Nya yang enak dan tampak. Namun lupa untuk bersyukur saat memeroleh musibah. Saat musibah datang, yang meluncur dalam doa-doa ialah keluhan dan kesedihan hingga penantian kapan musibah itu hilang. Padahal, dalam terhimpit musibah sekalipun kita dianjurkan untuk tetap bersyukur, sebagai bukti bahwa itu adalah bentuk perhatian dan kasih sayang Allah.
Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan, “Wahai malaikat Jibril, datanglah kepada hambaku dan kirimkanlah ia sebuah musibah, karena Aku rindu akan rintihannya,” (HR Muslim). Hadits ini mengisyaratkan bahwa diuji dengan masalah ialah bukti bahwa Allah merindu rintihan dari para hamba-Nya. Tak inginkah kita dirindu?
Akhirnya, hakikat bersyukur tanpa syarat ialah kita tidak perlu menunggu datangnya ni’mat  lantas bersyukur, tapi, bersyukur sebenarnya ialah senantiasa menjaga ungkapan terimakasih pada Sang Maha Kasih atas segala ni’mat yang telah, sedang dan akan kita dapatkan.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar