Sejenak kekasih Allah itu resah, jiwanya gelisah, pikirannya tak tentu arah, pikirannya kalut, ia berpikir keras; apa yang harus dikatakan kepada anak yang sangat dicintainya itu? Anak yang bebrapa tahun lalu pernah ia tinggalkan di padang tandus tanpa tanaman satu pun bersama sang isteri, Siti Hajar. Adalah suatu yang sangat berat untuk dikatakan, terlebih jauh sebelum perintah ini turun, ia nyaris takut kehilangan anaknya. Namun, atas dasar mahabbah (cinta) kepada Tuhannya, Ibrahim ridha.
Bukan sesuatu yang mudah memang bagi Ibrahim, tapi nampaknya tak sesulit bagi anaknya, Ismail, sebab sedari bayi Allah telah mengajarkannya arti ketegaran, keikhlasan dan kesabaran. Secara tidak langsung, ia merasakan pula bahwa sesuatu ‘besar’ akan menimpa dirinya. Sesuatu itu tak lain adalah pesan Allah yang harus segera ditunaikan.
Maka, atas dasar perintah-Nya melalui mimpi, keesokan harinya, dengan hati yang bergetar, batin yang bergejolak menahan pilu, lidah kaku nan kelu, sang ayah pun mendekat padanya, membisikkan dengan penuh lembut, seraya menahan pedih dan air mata yang tak kuasa ingin tumpah, “Nak, ayah bermimpi menyembelihmu,” begitu tutur sang ayah. Sosok di hadapannya diam terpaku, sejenak ia menatap ayahnya dengan penuh hormat, cinta kasih, memendam rasa takut dengan segenap kemampuan batinnya.
“Ketika anak itu sudah besar, berkata Ibrahim kepadanya: Hai anakku, dalam tidurku bermimpi seolah-olah saya menyembelih kamu, maka perhatikanlah bagaimana menurut pikiranmu?. Sahut anaknya, “Hai Ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada engkau, insya Allah engkau mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar,” (Qs Ash- Shaffat: 102).
Jika saja hal itu terjadi pada masing-masing dari kita, apa yang kita rasakan ketika mendengar kata-kata itu langsung dari seorang ayah yang telah mengasuh, merawat dan membesarkan kita? Takut.
Ya, sebagian besar dari kita akan takut menghadapi kematian. Terlebih jika kematian itu harus dilakukan melalui tangan lelaki yang kita sayang. Namun, Ismail tetaplah Ismail, Nabi Allah yang telah dianugerahi kekuatan yang luar biasa sejak bayi; tak hanya kuatnya menahan panas bumi Makkah, ia juga terbiasa untuk hidup (hanya) bersama hubb (cinta) kepada-Nya.
Hubb (cinta) yang dimiliki Ismail kepada Allah melahirkan ketaatan yang pada akhirnya, ia rela menerima apapun perintah ayahnya jika itu perintah Allah. Menyoal tentang ciinta, atau yang akrab kita sebut dengan mahabbah berasal dari kata ahabba, yuhibbu, mahabbatan, yang secara harfiah berarti mencintai secara mendalam. Dalam mu’jam al-falsafi, Jamil Shaliba mengatakan mahabbah adalah lawan dari al-baghd, yakni cinta lawan dari benci. Al mahabbah dapat pula berarti al wadud yakni yang sangat kasih atau penyayang.
Dalam kajian tasawuf, mahabbah berarti mencintai Allah dan mengandung arti patuh kepada-Nya dan membenci sikap yang melawan kepada-Nya, mengosongkan hati dari segala-galanya kecuali Allah SWT serta menyerahkan seluruh diri kepada-Nya.
Konsep al-hubb (cinta) pertama kali dicetuskan oleh seorang sufi wanita terkenal Rabi’atul Adawiyah (96 H – 185 H), menyempurnakan dan meningkatkan versi zuhud, al khauf war raja’ dari tokoh sufi Hasan Al Bashri. Cinta yang suci murni adalah lebih tinggi dan lebih sempurna daripada al khauf war raja’ (takut dan pengharapan), karena cinta yang suci murni tidak mengharapkan apa-apa dari Allah kecuali ridha-Nya. Menurut Rabi’atul Adawiyah, al hubb itu merupakan cetusan dari perasaan rindu dan pasrah kepada-Nya. Perasaan cinta yang menyelinap dalam lubuk hati Rabi’atul Adawiyah, menyebabkan dia mengorbankan seluruh hidupnya untuk mencintai Allah SWT.
Selayaknya Rabi’ah yang menyerahkan seluruh hidupnya pada Allah, jauh sebelum konsep mahabbah ini lahir, Nabi Ismail telah lebih dulu membuktikan ketulusan cinta-Nya kepada Allah. Ia patuh kepada ayahnya karena kecintaannya pada Allah. Dialog ini termaktub dalam surah ash-shaffat di bawah ini:
“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, nyatalah kesabaran keduanya [103]. Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim”[104]. Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik [105]. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata [106]. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar [107]. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian [108]. (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”[109]. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik [110]. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman [111].
Akhirnya, hanya cintalah yang mampu menjadi alasan dari sekian banyak tujuan hidup kita. Memurnikan cinta kepada-Nya, akan melahirkan keikhlasan dalam beribadah kepada-Nya. Tak cukup berharap surga; namun juga bagaimana memeroleh rahmat-Nya agar selalu mengalir dalam seluruh nafas dan hidup kita.
Selamat hari raya Idul Adha, semoga semangat Adha mampu menggelorakan cinta yang melahirkan kepatuhan pada Tuhan Pengatur Semesta. Aamiin