22 Desember menjelang 23 Desember 2016
02.00 Wib
***
'Wal walidaatu yurdi'na awlaadahunna haaulaynii kaamilayni...' dan para ibu, hendaklah mereka menyusui bayi-bayi mereka dua tahun penuh (jika ingin menyempurnakan penyusuan)
(Qs Al-Baqarah: 233)
Terhenti di ayat ini, yakin di tahap ini, kuat mengakhiri fase ini... AHHHHHH, malam ini tepat di hari IBU saya MEWEK luar biasa!
Ah lebay! nyapih nyapih aja keles, ga usah kekeuh ga mau kasih nenennya ini itu, lagian juga udah dua tahun kok anaknya, lagi hamil pula. emang air susunya masih bagus? *negative words mode on* hehehehe...
Semenjak kelahiran Hafiyya, Jumat, 12-12-2014, saya tak pernah memikirkan gimana nanti rasanya menyusui ya? Saya cuma modal yakin bahwa insyaAllah Allah akan kasih STOK ASI yang CUKUP dan saya NGOTOT mau Ng-ASI LANGSUNG dari payudara tanpa perah-perahan. Apa kesampean? Ya, Alhamdulillah kesampean, meski saat itu MASIH inget banget ASI baru keluar H+3 Hafiyya lahir dengan bengkak, nyeri, sakit, ngilu yaaaaaaang teramaaaaaat luar biasaaaaaaa.. (rasanya? kata-kata gak sanggup melukiskannya bro, hehehe)
Iya, keyakinan saya bisa Ng-ASI langsung memang tercapai. Tapi, perbekalan saya tentang ILMU WEANING masih MINIM dan kurang persiapan. Weaning? Yang berarti menyapih bayi yang sudah dirasa cukup mendapatkan ASI, batasan dalam al-Quran dua tahun atau lebih (boleh), selagi tidak ada halangan yang menghentikannya..
Nah, dalam kasus saya, di usia Hafiyya menjelang dua tahun, Alhamdulillah saya diberi amanah kehamilan lagi. Alhamdulillah pula kehamilan kedua ini keluhan-keluhannya masih standar; paling cuma ga kuat kalau udah ngilu punggung dan tulang ekor, hehehe.. tapi ALhamdulillah, masih bisa nyusuin tanpa keluhan kontraksi dan sebagainya di usia kandungan 1-4 bulan jelang 5 bulan ini..
Namuuuuuuun,
malam inilah puncaknya. Entah saya juga sedang lelah sehingga gampang emosi (biasanya engga), NYUSUIN kok rasanya SAKITTTTTT banget, ditambah gigi anak sudah banyak, kan? Masya Allah, rasanyaaaaa mirip seperti awal-awal melahirkan ketika ASI baru mau keluar (SERIUS). Entah kenapa saking gak kuatnya, saya MENANGIS dan meringis kesakitan, Hafiyya tau dan merasakan bahwa saya menangis. Dia pun turut gelisah dengan kondisi payudara tetap dia hisap.
Kurang lebih setelah dua jam, saya tatap anak ini; Hafiyya tak kunjung bobo. Ia masih terbelalak dan seolah hanya ingin dan butuh kehangatan saja. Padahal, ASI pun sepertinya sudah habis stock. Sehingga mungkin inilah kenapa saya merasakan ngilu yang teramat. Saya merasa menyusui tak lagi nikmat. Sedih? SANGAT...
akhirnya, Hafiyya pun terbangun dan kembali gelisah. Lama kelamaan, ia menangis pilu. Mendengar tangisannya, emosi saya hampir meledak. Seraya menahan sakit, juga ngilu mendengar tangisan anak ini yang memang tidak pelan. Ya Rabb... :(
Akhirnya, suami saya mencoba membantu menggendong Hafiyya dan mengajaknya keluar kamar. Saya pun didera kantuk luar biasa dan sepertinya saya tidur cukup puas meski tidak lama.
Saat saya kembali terjaga, Hafiyya sudah di samping saya lagi dan "Neneeeeeen, Ma..." (ya Allah). Akhirnya, saya siasati dengan ngobrol dan hanya bertahan 10 menit untuk mengalihkan perhatiannya dari nenen. ALhasil? Dia kembali minta nenen, menangis, meraung, hingga... Ibu mertua pun datang.. (kebetulan kami sedang menginap). Beliau mencoba menengahi meski tidak berhasil dan akhirnya berkomentar, "Lagi sih ya belum disapih," (hiks, hanya saya yang tau bagaimana drama dan rasanya menyapih), -_-
Akhirnya bermodalkan bismillah, saya kembali susui Hafiyya, kali ini PD yang kiri. Ngilunya tetap sama, dan lama-lama makin sakit, sakit, sakit, perih, nyeri, ngilu, daaaaaaaan... saya kembali menangis. Ditambah malam itu kepekaan suami saya sedang PARAH. Dia asik dengan gadget hingga saya gulingkan bedak ke betisnya dan dia baru paham maksud saya..
*YA, MALAM INI SAYA BAPER LUAR BIASA* hiksssss..
Batin saya hanya berucap, "Ya Rabb, hanya Engkau yang aku punya. Jika engkau yang telah menciptakan dan menitipkan Hafiyya dengan mudahnya pda hamba. Tentu saja, mengendalikan dia dan memberhentikan dari ASI adalah perkara yang sangat mudah, ya Allah, Tolong," sambil meringis saya berdoa sambil beristigfar dan shalawat. Suami saya masih saja memijat kepala saya dengan keras. Nampak dia pun kebingungan dan juga mungkin bosan dan lelah.
"Kamu bisa memijat dengan lebih lembut?" tegas saya padanya. "PEKA dong!" sungut saya. (Aduh, ini lagi ganas, tapi bener-bener ga berdaya) hiks...
Ketidakberdayaan karena: Semakin saya copot *paksa* payudara, maka yang saya rasakan hanyalah NGILU dan LECET. Selain itu, tentu Hafiyya pasti merasa dan MENANGIS LAGI. Maka, saya bersikeras untuk Bertahan dalam Perih meski suami saya tegas ingin mencopot.
Kamipun bersitegang!!
"COPOT AJA! Kamu udah kesakitan itu!"
Saya menggeleng dan menangis, "Biar aja Ba. Mencopot paksa bukan solusi, coba cari cara lain, Bisikin di telinga Hafiyya, Aku yakin dia dengar dan mau ngelepas dengan sendirinya,"
"Iya tapi kamu kesakitan," katanya yang sudah geram melihat airmata saya kian tumpah banyak
"Biar Ba. Sampai aku matipun, aku ga akan lepas. Biar aku yang nahan sakitnya, Kamu bantu pijitin aku dan bisikin kata-kata lembut ke Hafiyya aja," saran saya
---- akhirnya suami saya melakukan apa yang saya pinta ---
"Nak, Kak, nenen Amma sakit sayang, Copot ya Kak. Kasian Amma," katanya. Terus menerus hingga kurang lebih 10 kali dan akhirnyaaaa.....
HAFIYYA LEPASKAN nenen itu TANPA menangis dan MASIH PULAS..
Maasya Allah...
***
Ibu-ibu seperjuangan,
mungkin curhat tak bermakna di blog ini dapat menjadi renungan bersama bahwa menjadi Ibu adalah hal yang sangat luarrrr biasa. Ada yang diberi kemudahan dalam kehamilan dan persalinan, lalu bermasalah saat menyusui atau memberhentikan ASI
Ada yang diberi kesulitan saat hamil dan melahirkan, namun diberikan kemudahan saat ASI dan menyapih..
Itulah dinamika kehidupan menjadi Ibu
Bukan berarti kemudahan itu membuat kita terlena kemudian tak peka terhadap perempuan lain yang mengalami kesulitan. Namun, fase kehamilan-melahirkan-menyusui-menyapih- dan merawat anak adalah fase KENAIKAN PANGKAT di hadapan Allah. Apakah kita mampu LULUS UJIAN dengan nilai SABAR yang baik? Ataukah harus mengakhiri dengan paksa dan menyebabkan trauma berkepanjangan baik bagi ibu dan buah hati?
Karenanya, saya lebih memilih untuk menyusui sesuai anjuran-Nya serta memberhentikan ASI dengan cara-Nya sendiri. Semoga pengalaman menyapih ini menjadi bekal baik untuk menjadi Ibu yang memiliki kesabaran yang lebih baik (lagi) ke depannya nanti..
Ada yang punya pengalaman serupa? Boleh berbagi ya :)
Saya mohon doa, semoga Hafiyya Allah lunakkan hatinya untuk mau berhenti menyusu, tanpa saya harus membohongi dan mencekoki hal-hal yang membuatnya trauma dan bertanya-tanya :(
Terimakasih ibu-ibu,
Salam sayang...



















