Assalaamu'alaikum, Selamat siang semuanya!
Tulisan kali ini akan sedikit berkisar tentang review singkat film AISYAH- Biarkan Kami Bersaudara (ABKB) yang dibintangi oleh Laudya Cynthia Bella (LCB). Kali ini agak unik ya, biasanya nonton hanya bertiga sama suami dan baby; kali ini hampir ajak sekeluarga! hehehe..
Awalnya sih karena adik ketiga ngajak nobar premiere. Sekilas saya lihat poster via IG LCB, saya putuskan untuk, "Oke, pesen 4 tiket,". Adik di kampus nun jauh disana melongo (kayaknya), "Buat siapa aja?" saya juga nggak tau saat itu siapa aja ya, hehe. Tapi yang ada dalam bayangan sementara bakalan nonton sama adik pertama, ketiga dan mama. Lho, mama? --- iya, kali ini unik karena saya bawa MAMA. Perempuan idealis yang anti perpilman (karena yang ada dalam bayangan beliau itu terlalu foya-foya dan kurang mendekatkan diri kepada Allah, mungkin--- haiaaaah, hehe). Akhirnya, sesaat setelah memesan, saya ajak beliau bicara empat mata, "Mah, nonton yuk!" beliau diam dan terheran, "Nonton apa?" saya jawab singkat, "Film islami, insyaAllah bagus, Ma, ya? Mau ya?" beliau masih bengong lebih tepatnya sih memerah gitu (rona ketakutan kayaknya, hikhikhik-- inget naik pesawat dulu ampe nangis2an). "Kan ngajar De," (oh iya senen malam jadwal anak remaja sini mengaji memang), saya tenangkan beliau, "Libur dulu ya, Mah? Sekali iniiiii, aja..." (teteup yaa ngerayu maah, hihi). Akhirnya beliau mengangguk! FIX kita insyaallah nonton berempat plus BABY DUA, hahaha...
----------------------------------
16 Mei 2016, Epicentrum Walk Kuningan
Huah molor jadwalnya, yang sebelumnya 18.25 berubah jadi ba'da isya. Bener ajakan Mama langsung badmood gitu, haha. Pas masuk bioskop jam 19.00 langsung pengen keluar shalat isya (yang padahal belum isyakan ya?) sedangkan baby najmi udah bobo pules. Tepat saat masuk bioskop pun Mamah mah main duduk aja, "Disini De depan De biar enak cepet keluar," Etttt dah mamah, itu kursi udah ada yang punya, haha kita cekikikan berempat. Nah setelah ketemu seat, kami pun tenang sambil cemal cemil diantara orang-orang yang sibuk banget foto-foto bareng artis, lah kitamah apa atuh? Titi Kamal sebelah kita aja kita cuek bae, hehe. Bukan foto-foto sama artis sih tujuannya, murni mau dapet inspirasi dan pelajaran dari nonton.. hehe..
AOVERALL filmya KEREN!
Tapi koreksi saya:
1. Saat kekeringan dan LCB tayammum, kok tangannya nggak ya? Cuma muka doang...
2. Kang Jaya yang tiba2 muncul buat jemput, agak aneh bg saya, hehe
Review berikutnya ada di judul setelah ini yaaa!
Selasa, 17 Mei 2016
Short Review Film Aisyah; Sebuah Catatan Cinta Untuk Mamah
"Sudah, Mah... nggak usah khawatir, Aisyah bukan anak kecil lagi," rengek Aisyah (Laudya Cynthia Bella) kepada Mamahnya yang diperankan oleh (Lydia Kandou).
Akh! tepat banget momennya yang kali ini-- perdana-- ngajak Mamah nonton (kudu dirayu dulu biar mau dan pake ngegalau kyk mau pulang begitu ada penundaan jam penayangan, huah!) pas di acara nobar premiere Aisyah Biarkan Kami Bersaudara. Film berlatar di Derok, Atampua, NTT tentang kisah seorang guru muslim yang dikirim menuju NTT untuk mengajar anak-anak yang beragama kristen. Udah ketebak dong issue apa yang bakal terjadi? Ya, beberapa kalangan yang anti terhadap Islam (dalam film ini diperankan oleh pamannya Lordis-- anak yang nggak tau ortunya kemana, dia tinggal sama pamannya yang kejam, kasar, bengis, galak, hingga diapun tersinggung saat first meeting sekolah ditanya nama orangtua dan kerjaan orangtua)..
Kira-kira percakapan Mamah Lydia Kandou sama LCB juga tentang kasarnya Lordis ke Bella yang lebih saya SOROT. Bukan tentang masalah Islamphobianya.. hehe
Duh, kayaknya sih Mamah nangis pas Bella terlempar ke NTT, turun tengah jalan, tanpa pohon, gersang, yang jemput (Pedro; sumpah kocak nih orang-- diperanin sama Arie Kiting), sampe ngantuk-ngantuk, akhirnya Bella dianter kerumah kepala dusun..
Saya jadi ingat lima tahun lalu saat saya melemparkan diri ke Pare, Kediri, hihi... segitu kangennya kali ya Mamah? Ya, saya sorot angle ini karena BETAPA SUSAHNYA BETA TANPAMU, MAMAH. Tanpa Appa (Ayah) juga. Tapi, yang namanya dulu jauh dari orangtua, tanpa uang sepeserpun dari mereka (karena sebenernya mereka berat ngelepasin, saya masih single, dan pergi jauh ke Jatim pertama kali; mereka psti khawatir) dan MALUnya yaa saat nggak punya uang, MALU buat ngabarin dan NELPON. Yap! ortu sama anak itu memang hakikatnya nggak bisa saling berjauhan! Kita punya keterikatan yang KUAT sama orangtua. Sebab dari didikan itulah akan membentuk KARAKTER kita. Pun Lordis di atas, itu anak kasaaaar banget karena nggak pernah dapet kasih sayang orangtuanya (kalau ditinjau dari sisi psikologis ya), ditambah dia diasuh sama pamannya yang bengis itu, hiks SEDIH! dan saya ikut nangis saat Lordis dirawat karna jatuh dan teman-temannya juga Aisyah nemenin total di RS. Aisyah juga ngebayarin Lordis dan scene ini ngegambarin akhirnya Aisyah HAMPIR ga bisa pulkam ke Bandung karna uangnya menipis. Tapi buat ngabarin mamahnya? PASTI nggak TEGA. Ngeri kepikiran dll..
Dan sekarang, Mamah nggak pernah kuat jauh-jauh lagi dari anaknya, hehe..
Tapi, berkat film ini SEMOGA aja mamah jadi punya pikiran yang berbeda; bahwa anak adalah amanah Allah. Ketika anak sudah mengambil pilihan yang benar (menikah dengan lelaki berakhlak dan shaleh misalnya tapi dia jauh dari Jakarta), yaaaaa kudu ikhlas, Mah :(
Hehe, ini edisi adik saya yang sebentar lagi kayaknya akan pergi jauh dari mamah karena ikut suaminya nanti. Tapi, satu hal yang perlu mamah ingat, kita takkan pernah lupa dan meninggalkan mamah. InsyaAllah... WE love you, Mamah, Appa. Semoga Allah selalu menyehatkan kalian!
Aamiin
Akh! tepat banget momennya yang kali ini-- perdana-- ngajak Mamah nonton (kudu dirayu dulu biar mau dan pake ngegalau kyk mau pulang begitu ada penundaan jam penayangan, huah!) pas di acara nobar premiere Aisyah Biarkan Kami Bersaudara. Film berlatar di Derok, Atampua, NTT tentang kisah seorang guru muslim yang dikirim menuju NTT untuk mengajar anak-anak yang beragama kristen. Udah ketebak dong issue apa yang bakal terjadi? Ya, beberapa kalangan yang anti terhadap Islam (dalam film ini diperankan oleh pamannya Lordis-- anak yang nggak tau ortunya kemana, dia tinggal sama pamannya yang kejam, kasar, bengis, galak, hingga diapun tersinggung saat first meeting sekolah ditanya nama orangtua dan kerjaan orangtua)..
Kira-kira percakapan Mamah Lydia Kandou sama LCB juga tentang kasarnya Lordis ke Bella yang lebih saya SOROT. Bukan tentang masalah Islamphobianya.. hehe
Duh, kayaknya sih Mamah nangis pas Bella terlempar ke NTT, turun tengah jalan, tanpa pohon, gersang, yang jemput (Pedro; sumpah kocak nih orang-- diperanin sama Arie Kiting), sampe ngantuk-ngantuk, akhirnya Bella dianter kerumah kepala dusun..
Saya jadi ingat lima tahun lalu saat saya melemparkan diri ke Pare, Kediri, hihi... segitu kangennya kali ya Mamah? Ya, saya sorot angle ini karena BETAPA SUSAHNYA BETA TANPAMU, MAMAH. Tanpa Appa (Ayah) juga. Tapi, yang namanya dulu jauh dari orangtua, tanpa uang sepeserpun dari mereka (karena sebenernya mereka berat ngelepasin, saya masih single, dan pergi jauh ke Jatim pertama kali; mereka psti khawatir) dan MALUnya yaa saat nggak punya uang, MALU buat ngabarin dan NELPON. Yap! ortu sama anak itu memang hakikatnya nggak bisa saling berjauhan! Kita punya keterikatan yang KUAT sama orangtua. Sebab dari didikan itulah akan membentuk KARAKTER kita. Pun Lordis di atas, itu anak kasaaaar banget karena nggak pernah dapet kasih sayang orangtuanya (kalau ditinjau dari sisi psikologis ya), ditambah dia diasuh sama pamannya yang bengis itu, hiks SEDIH! dan saya ikut nangis saat Lordis dirawat karna jatuh dan teman-temannya juga Aisyah nemenin total di RS. Aisyah juga ngebayarin Lordis dan scene ini ngegambarin akhirnya Aisyah HAMPIR ga bisa pulkam ke Bandung karna uangnya menipis. Tapi buat ngabarin mamahnya? PASTI nggak TEGA. Ngeri kepikiran dll..
Dan sekarang, Mamah nggak pernah kuat jauh-jauh lagi dari anaknya, hehe..
Tapi, berkat film ini SEMOGA aja mamah jadi punya pikiran yang berbeda; bahwa anak adalah amanah Allah. Ketika anak sudah mengambil pilihan yang benar (menikah dengan lelaki berakhlak dan shaleh misalnya tapi dia jauh dari Jakarta), yaaaaa kudu ikhlas, Mah :(
Hehe, ini edisi adik saya yang sebentar lagi kayaknya akan pergi jauh dari mamah karena ikut suaminya nanti. Tapi, satu hal yang perlu mamah ingat, kita takkan pernah lupa dan meninggalkan mamah. InsyaAllah... WE love you, Mamah, Appa. Semoga Allah selalu menyehatkan kalian!
Aamiin
Minggu, 15 Mei 2016
Pahawang: Amazing Island From The Great One
Pa-ha-wang.. Hmmm, dengarnya saja sudah terkesan ke-China-cinaan yaa? Hahaha, kalau saya mah. Anw, ada cerita unik kenapa tiba-tiba saja saya mau menuliskan tentang Trip saya, suami, baby (first trip baby nih hehe) dan tim Bakrie Amanah juga keempat pemenang kontes fotorgrafi dalam rangka hari kartini dan hari bumi yang diadakan oleh YBA (Yayasan Bakrie Amanah bulan April 2016 lalu...
KOK BISA MENANG?
hahaha, saya akui memang hasil jepretan saya masih sangat-sangat amatir (wekwek). Tapi kalau Gusti Allah sudah berkehendak memenangkan, kumaha atuh nya? rejeki etamah.. :)
Nah berawal dari info adek yang memang aktif di dunia sosial semacam Bakrie Amanah dan Rumah Zakat, dia kasih tau kalau Bakrie Amanah (BA) lagi ngadain kontes lomba dalam rangka hari kartini, DUA hari sebelum DEADLINE. Saya mikir "Ikut nggak ya?" ----- kalau ada kesempatan, kenapa nggak? saya baca dululah ketentuannya. Ternyata cukup mudah dan BOLEH pakai kamera handphone (Wkwkwkw, meski bukan Epel, tapi kamera HP saya yang sudah retak meski baru berusia seminggu Alhamdulillah bisa jepret dengan hasilnya seenggaknya keliatan tu gambar, hihihi). Okelah, dua hari berlalu, saya nyaris tanpa persiapan ditambah LUPA (no hunting, no catching), hadowwwhh, malam hari, di hari terakhir pengiriman karya..... hmmm itu jam 22.00 sedangkan batas terakhir jam 24.00 kalau nggak salah; SAYA NEKAD, hahaha. bismillah, kirim aja dulu, menang kalah urusan keseribu.. wkkwkw
Bulan berganti, tibalah saatnya mengumumkan pemenangnya. And Theeeeeeeen, surprise banget!
baru pulang dines-dinesan sekeluarga ke Madura (wkwkw, rempong sayamah kemana mana mesti bawa dua bayi: bayi guedheee dan bayi kecil, hihi), dipampanglah foto saya (foto dua murid saya sedang sima'an; saling mendengarkan hafalan surah pendek yang saya candid waktu mereka khusyu' hafalan); THATS ALL! ini REJEKI Allah banget. Bukan betapa HEBATnya saya :( dan Entah kenapa pula saya mengirimkan foto mereka. Setidaknya, adem, sejuk, tenang, memandang mereka hafalan tanpa perlu diarahkan gayanya. NATURAL CANDID.. Nah, pas saya tau bahwa saya menang; bukan berarti saya BEBAS pergi tanpa Visa dong ya karena sudah berimam sekarangmah (hihi). Saya pun izin dengan suami. Daaaaaan, beliau SENAAAANG SEKALI (yayaya meski harus bayar pribadi lho, masa iyo gretongan, hahaha). Thank you Abba!!!
--------------------------------------
GO TO PAHAWANG
Jum'at Malam (13 Mei 2016)
Sengaja diberangkatkan malam (menurut ahli perjalanan dari BA yakni Bapak Juhri; hehe Bapak yang sudah tidak lagi muda tapi kuatnya luar biasooo karena biasa Trip kemana-mana, hehe) karena mengantisipasi kemacetan dan full-nya di Bakauheni. Trip malam juga dirasa lebih adeeeeem ketimbang panasnya siang-siang; yaaah, tapi kasian supirnya juga yah kalau ngantuk, hihi (Btw supirnya masih muda, tapi bawa mobilnya wuuussssssshhhh dengan jamaah 7 orang berasa lancar bangeeeet di jalan)
Berangkatlah kita. Kuningan (Bakrie Tower) sampai Pelabuhan Merak kuranglebih memakan waktu dua jam (22.00-24.00 Wib). Setelah mengantri sebentar di pelabuhan Merak dan mobil avanza putih kami pun meluncur halus ke dalam kapal. Alhamdulillah kondisi di kapal RUAMEE PISAN bah! dan gimana itu anak bayi (bayi saya maksudnyaaa) HUAHHH NANGISSSS pemirsa! hiks, so that dia baru kali ya naik kapal, banyak orang, VIP full, rameee orang, bapak-bapak ngerokok, ibu-ibu pada ngorok, anak-anak balita juga pada paduan suara. Oh yaa Rabb! Gimana ini? (seriusan saya badmood, letih, rasanya pen turun aja dari kapal. HAH? nyebbur gitu?? wkwkwk) nah, karena baby letih menangis, nekad bin nekad deh dg kondisi masih syesyenggukkan, saya bawa keluar kapal merasakan semilir angin (cie!) alhamdulillah diem. Karena dingin bgt, saya masukan lagi ke dalam ruangan ekonomi, HUAH nangis lagi. Obatnya cuma satu, nangkring di jendela sambil kegirangan jejingkrakkan -_- (( malu Nak, amma Nak. maluuu :( )) haha..Itu bener ya, sampe akhirnya kita semua naik ke kapal, karena fokus urus anak rungsing sampe saya ga sadar itu kapal udah berangkat. Its really pengalaman yang suangaaaat meletihkan! haha tapi asik..
Alhamdulillah alarm berbunyi kencang pertanda kapal kami sudah mendekati Bakauheni. Sampailah kami dan turunlah perlahan sambil ngantri dulu pasti. setelah tim lengkap, kami pun masuk mobil dan BERANGKAAAAAT dengan mata-mata yang masih memerah dan sempoyongan pula (ngantuk pasti) haha, dan siap-siap lagi kami akan melewati jalur darat pemirsa, masih 3 jam lagi lhoo... hiks, (alah so hikshiks orang tinggal duduk dan tidur kok, supir noh kasian: haha)
Di perjalanan menuju Dermaga Ketapang, kami pun menunaikan shalat subuh dulu di masjid mungil untuk kemudian meneruskan kembali perjalanan. Nggak terasa lama juga (hahaha karena bobo) kami pun sampai di dermaga di pagi hari yang masih sejuuuuuuuk sekali. Konon Guide Tour kami menunggu di sana. Akhirnya kami parkir dan bersiap untuk sarapan dulu (hmmm makanannya tetep sama dong; NASI UDUK pake telor) hehehe... selesai makan, agak lumayan lama, kami menunggu GT datang. Kamipun acara bebas, menatap pantai, merasakan semilir angin, berselfie ria, membeli topi dan segala pernak pernik menuju pantai nanti dan tak lupa pula; ketawa ketiwi, hihi. Sepenglihatan saya, pantai dan laut ini sangat terawat. BUKTINYA? semua warga sadar akan kebersihan dan mereka betul-betul ikut turut serta memajukan wisata pulau-pulau yang ada di sekitar. Di dermaga ketapang ini misalnya, kawasan bersih banget (meski ya, ada anjing entah buat apa pada berkeliaran yang hamppir membuat sarapan saya jadi eneug -_-) tapi makan juga sih---- wkwkwk.. dan fasilitas ibadah (masjid), fasilitas kesehatan (posyandu dan bidan) sangat mudah didapat. Warganya juga ramah-ramah dan helpful. Semua rumah (yang jika ingin) mereka menyediakan kamar mandi, ruang ganti, berjualan souvenir, tempat makan, sekedar istirahat, dan sebagainya.
Tepat pukul 9, GT kami datang. Kami disambut dan diarahkan menuju kapal. Ternyata tidak kami berdelapan saja, ada rombongan di Jakarta Barat yang juga ikut bersama kapal kami. Mereka satu kantor yang ingin refreshing juga ke Pulau Pahawang. Kami pun berangkaaaaaaaaaat. Nyebrang pulau! yeay! udah berasa lamaaaaa banget nggak ngeliat laut (tepat pas hamil, melahirkan dan setahun setelahnya belum pernah lagi liat pantai, ini bibir rasanya nggak pernah cukup mengucap syukur! Thank ALLAH, We are HERE!
Setelah satu jam di atas kapal, kami pun dilepas (lho?) ya!! kami snorkling di tengah LAUT persis dekat dengan Pulau Kelagian. Di pulau ini serius ASRI sekali. Bersih, pasir masih apa adanya dari Allah, nggak dikotorin manusia. Sejuk (meski panas menyengat), haduhhh berasa haruuum pantainya! Lalu, apakah emak emak beranak satu kayak saya ikutan snorkling juga? anak gimana anak? Yes, ikutan dong, ganti-gantianlah sama Abbanya ya, biar nggak ngerepotin orang, toh baby juga ikut basah karena kegirangan main air. Serius giraaaaang banget baby, Alhamdulillah!
------------------------------------
Pahawang Island, 14 Mei 2016, 13.00
Setelah puas nyelem-nyeleman di tengah laut, kami pun menuju pulau pahawang!! wow, ternyata masih lumayan dari Kelagian ke Pahawang. Di tengah-tengah laut kami kedinginan. Same as my baby (Hafiyya), baju di koper, dan saya hanya balur dia dengan minyak telon dan baju kering milik saya (berharap dia akan baik-baik saja dan anti masuk angin, hihi aamiin). Setelah perahu mendarat, kami pun menuju homestay salah satu penduduk setempat, kesan pertama saya di pulau ini; SEMUA WARGA TURUT ANDIL MELAYANI TAMU YANG DATANG. ya, semua terlihat berkegiatan, sibuk dan tentu saja setiap rumah yang disewakan ada saja isinya meski minggu lalu longweekend 4 hari, minggu ini tetap tidak sepi tamu yang ingin berlibur di pulau ini. AMAZING!
Tibalah kami di homestay yang cukup (cukup untuk menampung 16 orang, hehe) ada dua kamar di rumah ini. Tiga sebanarnya, tapi satu untuk keluarga tersebut. Dan selebihnya kawan-kawan kami ikhlas tidur di ruang tivi beralaskan kasur King Koil (haseeek, hihi). Akhirnya, setelah kenyang mengisi perut, mandi, shalat, kami pun dijadwalkan akan nyelem lagi (Galaaaau; kayaknya baby sudah keletihan) dan kamipun memutuskan untuk absen snorkling tahap dua ini (sedih sih, tapi tetep nggak boleh egois ya sama anak, sabaaar, sabarrr, hehe). Sementara temen-temen semua snorkling, kamipun di hmestay kepanasaaaan! kenapa? karena ternyata listrik padam dan disini ada jam-jam khusus kapan listrik menyala. Warga pun hanya menggunakan diesel agar dapat memakai listrik untuk keperluan rumah tangga. Kebayangkan panasnya di dalam rumah? Hiks, kami pun akhirnya minum es kelapa di bibir pantai. Hampir semua warga membuka usaha jualan disini, harganya juga CUKUP terjangkau dan 'nggak mentang mentang' di Pulau, semua harga makanan dan minuman masih logis (ketimbang di ferry, haha). Dengan cukup membayar 10.000 untuk kelapa segar dan gorengan besar-besar 1.000 rupiah saja, kami pun semangaaat lagi untuk berkeliling-keliling sambil selfie (yah, berasa hanimun bertiga inimah, ya, wkwkwkw)
Setelah letih, kami pulang ke homestay dan alhamdulillah listrik sudah menyala (meski dua puluh menit kedepan mati lagi) dan baby juga bisa dikondisikan untuk tidur. Kami pun istirahat bertiga hingga pukul 16.30 namun teman-teman belum kembali. Tepat menjelang magrib, mereka pulang. Seusai shalat dan istirahat sebentar, kami dijadwalkan makan dan akan bar-be-que an sambil dangdut. Hmmm, di acara ini pula baby -kembali- rungsing. Dia nampak tak bergairah hingga akhirnya saya bawa dia ke rumah salah satu warga yang ternyata beliau orang Serang (kampung orangtua saya) dan memiliki anak-anak. Melihat teman sebayanya, baby jadi semangat dan kantuk bin rungsingnya nampaknya hilang. Kami pun mengobrol tentang keberadaan pulau pahawang. Jadi begini ceritanya.... (berasa horror....) hihi..
----selesai---- (lho, mana ceritanya?) oh iyaaaa,, #intermezzo dikit yaa pemirsa, jangan tegang2, hehe..
Iya, jadi menurut ibu itu, dahulu kala ada asli orang Lampung yang mendiami pulau ini meski masih hutan belantara, kemudian datang satu orang, dan seterusnya, kebun demi kebun dibeli. Lalu salah satu warga membangun rumah diikuti warga lainnya. Cerita lain yang saya dapat dari warga Hanura (bukan partai ya, hehe) bahwa pulau ini adalah milik Pak Awang; dimana beliau adalah asli orang Lampung yang mengabdi penuh dan telah dipercaya oleh majikanya yang berkebangsaan China. Saking sudah percayanya, majikannya menghadiahkan pulau ini untuknya (wow! gak tanggung-tanggung hadiahnya ya, hehe). Dan berdirilah pulau ini. Pulau yang memiliki enam dusun dan kuranglebih satu dusun hanya ditempati oleh 50 kepala keluarga. Sepi, teduh, tapi mereka semua akur beriringan. Cetoleh anak-anak bermain, berlari, berkejaran, sibuk mengaduk pasir, tanpa takut kuman dan kotor, sudah menjadi kebiasaan mereka sehari-hari. Enak melihatnya..
Nah ibu ini melanjutkan bahwa dia sudah berpuluh-puluh tahun menetap di pulau ini dan merasa sangat bersyukur karena semenjak pulau ini dijadikan kawasan wisata, pulau ini menjadi sangat bermanfaat; karena mendatangkan rezeki yang melimpah untuk penduduknya! inilah yang saya maksud dengan Amazing Island dari Great One (Allah)-- dimana Allah akan memberikan balasan yang lebih baik dari usaha mereka yang berusaha melestarikan ciptaan-Nya. Rabbanaa maa khalaqta haadza baathila...
Seusai bercengkrama, kami pun pulang, shalat isya, dan terpaksa absen BBQ karena baby sudah mengantuk (lagi) meski bobo siang. Hmm, sepertinya menyebur di laut sangat menghabiskan energinya ya, hehe.. kami pun pergi ke pulau kapuk! menanti hari esok untuk MENANAM TERUMBU KARANG..
Ya, perjalanan melelahkan (sebab bawa dua bayi) inipun terbayar sudah. Meski kurang puas karena beberapa momen terlewat, setidaknya semua berjalan dengan lancar dan dalam perlindungan Allah. Semoga Allah berkenan membawa saya dan para pembaca semua untuk merasakan dan mensyukuri belahan bumi-Nya di lokasi-lokasi lain yang PASTI SANGAT LEBIH MENDEBARKAN...
Wassalam,
salam kenal,
Ina Salma Febriany (Insaf)
Langganan:
Postingan (Atom)