“Dan
barang siapa yang berjihad maka sesungguhnya ia berjihad untuk dirinya sendiri.
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya dari seluruh alam,” (Qs
Al-Ankabut: 6)
Jihad adalah satu kata yang berhasil membuat
deskripsi pada benak manusia tentang seseorang yang bersemangat membawa alat
perang, melawan orang-orang kafir di medan peperangan. Penggambaran tentang
jihad seperti itu ialah potret minor dari makna jihad. Sedangkan jika kita
memaknai jihad dari lingkup yang lebih luas adalah usaha diri untuk melawan
hal-hal yang tidak baik—boleh jadi hal tersebut bersumber dari dalam diri
(internal) maupun dari sisi eksternal yang datang dari godaan dan gangguan
orang-orang kafir maupun munafik.
Dalam suatu hadits yang diriwayatkan
oleh Abu Sa’id Al Khudry ra, ia berkata, seorang laki-laki datang kepada
Rasulullah Saw lalu bertanya, “Siapakah manusia yang paling utama?” Rasulullah
Saw pun menjawab, “Seorang mukmin yang berjihad di jalan Allah Swt dengan jiwa
dan hartanya....” (HR Bukhari dan Muslim). Menurut Dr Musthafa Sa’d Al-Khiin
dalam Nuzhatul Muttaqiina Syarhu
Riyaadhis Shaalihiina, hadits ini merupakan hadiah dari Allah betapa
orang-orang yang berjihad adalah seutama-utamanya manusia. Sebab tentu saja,
bagi sebagian besar orang, jihad itu tidaklah mudah—terlebih jihad melawan hawa
nafsu diri sendiri.
Mengenai jihad, Syaikh Ibnul Qayyim
Al-Jauziyah dalam Zaadul Ma’aadi fii
Hadyi Khayril Ibaadi, menguraikan bahwa jihad terbagi menjadi empat
tingkatan yaitu pertama, jihad melawan
hawa nafsu, yang terdiri atas empat tingkatan pula; yaitu memerangi hawa
nafsu dengan petunjuk agama yang benar, berjihad melawan hawa nafsu dengan amal
setelah ilmu, berjihad melawan hawa nafsu dengan mendalami ilmu dan
mengajarkannya kepada oranglain dan terakhir ialah berjihad melawan hawa nafsu
dengan cara bersabar menghadapi kesulitan dakwah kepada Allah dan gangguan
manusia. Jika empat tingkatan ini telah terwujud dengan sempurna dalam diri
seseorang, maka dia termasuk Rabbaniyyiin
sehingga dia mengetahui kebenaran dan mengamalkannya.
Kemudian, jihad tingkatan kedua yakni jihad melawan
setan; terdiri atas dua tingkatan yaitu berjihad melawan setan
dengan cara menolak apa-apa yang disusupkan kepada seorang hamba seperti syubhat dan keraguan yang dapat menodai
keimanan. Kedua, berjihad melawan setan dengan menolak keinginan-keinginan
nafsu yang buruk, Jihad yang pertama menghasilkan keyakinan sementara jihad
yang kedua menghasilkan kesabaran.
Ketiga, Jihad
melawan orang-orang kafir. Keempat,
Jihad melawan orang-orang munafik. Kedua jenis jihad ini terdiri atas empat
tingkatan yaitu memerangi mereka dengan hati, lisan, harta dan jiwa. Jihad
melawan orang kafir lebih khusus menggunakan tangan sedangkan jihad melawan
orang munafik lebih khusus menggunakan lisan.
Hamba yang paling sempurna di sisi Allah
Swt ialah mereka yang menyempurnakan seluruh tingkatan jihad ini. Oleh
karenanya, manusia tingkatan pertama yang mampu menyempurnakan seluruh jihad
ini adalah para Nabi dan Rasul dan yang paling sempurna dari di antara mereka adalah
Rasulullah Saw. Beliau sanggup menyempurnakan semua jenis tingkatan jihad ini.
Beliau telah diperintahkan berjihad setelah diabgkat menjadi Rasul hingga
meninggal dunia.
Lalu bagaimana dengan kita hamba
Allah yang masih banyak melakukan dosa? Jihad adalah salah satu upaya untuk
meraih ridha dan ampunan-Nya. Memang sulit, tapi kesulitan itu insyaAllah
berbuah pahala dan ketenangan yang luar biasa.
Mari, sempurnakan jihad.. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar