Selasa, 12 Januari 2016

Menyempurnakan Jihad



Dan barang siapa yang berjihad maka sesungguhnya ia berjihad untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya dari seluruh alam,” (Qs Al-Ankabut: 6)
 Jihad adalah satu kata yang berhasil membuat deskripsi pada benak manusia tentang seseorang yang bersemangat membawa alat perang, melawan orang-orang kafir di medan peperangan. Penggambaran tentang jihad seperti itu ialah potret minor dari makna jihad. Sedangkan jika kita memaknai jihad dari lingkup yang lebih luas adalah usaha diri untuk melawan hal-hal yang tidak baik—boleh jadi hal tersebut bersumber dari dalam diri (internal) maupun dari sisi eksternal yang datang dari godaan dan gangguan orang-orang kafir maupun munafik.
Dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al Khudry ra, ia berkata, seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw lalu bertanya, “Siapakah manusia yang paling utama?” Rasulullah Saw pun menjawab, “Seorang mukmin yang berjihad di jalan Allah Swt dengan jiwa dan hartanya....” (HR Bukhari dan Muslim). Menurut Dr Musthafa Sa’d Al-Khiin dalam Nuzhatul Muttaqiina Syarhu Riyaadhis Shaalihiina, hadits ini merupakan hadiah dari Allah betapa orang-orang yang berjihad adalah seutama-utamanya manusia. Sebab tentu saja, bagi sebagian besar orang, jihad itu tidaklah mudah—terlebih jihad melawan hawa nafsu diri sendiri.
Mengenai jihad, Syaikh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dalam Zaadul Ma’aadi fii Hadyi Khayril Ibaadi, menguraikan bahwa jihad terbagi menjadi empat tingkatan yaitu pertama, jihad melawan hawa nafsu, yang terdiri atas empat tingkatan pula; yaitu memerangi hawa nafsu dengan petunjuk agama yang benar, berjihad melawan hawa nafsu dengan amal setelah ilmu, berjihad melawan hawa nafsu dengan mendalami ilmu dan mengajarkannya kepada oranglain dan terakhir ialah berjihad melawan hawa nafsu dengan cara bersabar menghadapi kesulitan dakwah kepada Allah dan gangguan manusia. Jika empat tingkatan ini telah terwujud dengan sempurna dalam diri seseorang, maka dia termasuk Rabbaniyyiin sehingga dia mengetahui kebenaran dan mengamalkannya.
Kemudian, jihad tingkatan kedua yakni jihad melawan  setan; terdiri atas dua tingkatan yaitu berjihad melawan setan dengan cara menolak apa-apa yang disusupkan kepada seorang hamba seperti syubhat dan keraguan yang dapat menodai keimanan. Kedua, berjihad melawan setan dengan menolak keinginan-keinginan nafsu yang buruk, Jihad yang pertama menghasilkan keyakinan sementara jihad yang kedua menghasilkan kesabaran.
Ketiga, Jihad melawan orang-orang kafir. Keempat, Jihad melawan orang-orang munafik. Kedua jenis jihad ini terdiri atas empat tingkatan yaitu memerangi mereka dengan hati, lisan, harta dan jiwa. Jihad melawan orang kafir lebih khusus menggunakan tangan sedangkan jihad melawan orang munafik lebih khusus menggunakan lisan.
Hamba yang paling sempurna di sisi Allah Swt ialah mereka yang menyempurnakan seluruh tingkatan jihad ini. Oleh karenanya, manusia tingkatan pertama yang mampu menyempurnakan seluruh jihad ini adalah para Nabi dan Rasul dan yang paling sempurna dari di antara mereka adalah Rasulullah Saw. Beliau sanggup menyempurnakan semua jenis tingkatan jihad ini. Beliau telah diperintahkan berjihad setelah diabgkat menjadi Rasul hingga meninggal dunia.
Lalu bagaimana dengan kita hamba Allah yang masih banyak melakukan dosa? Jihad adalah salah satu upaya untuk meraih ridha dan ampunan-Nya. Memang sulit, tapi kesulitan itu insyaAllah berbuah pahala dan ketenangan yang luar biasa.
Mari, sempurnakan jihad.. J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar