Selasa, 24 April 2018

Belitung; Keelokan Surga Dunia yang Sempurna

Belitung? Siapa yang tak kenal. Semenjak novel fenomenal karya anak Belitung, Andrea Hirata ada hingga berhasil diangkat menjadi film, pulau ini seolah memiliki daya magnet tersendiri dan tak henti dikunjungi. Terlebih  saat ini, salah satu ikon wisata terindah di Belitung, Pantai Tanjung Kelayang dijadikan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata. Dilansir dari website dinas pariwisata kabupaten Belitung, akhir tahun 2018 ini saja ada tiga event besar yang akan diadakan. Beberapa di antaranya yaitu pagelaran kolosal yang menampilkan kekayaan dan keberagaman pesona kebaharian, budaya dan olahraga pada 10 hingga 12 Agustus. Kemudian ajang peningkatan kreatifitas masyakat dalam rangka mendukung pengembangan pariwisata daerah pada 08 hingga 14 September 2018 menyusul ajang daya tarik wisata dan budaya pada 15 s.d 19 Nopember 2018.

Bersyukur penuh bahagia, April 2018 ini pun kami berkesempatan mengunjungi pulau bersih nan kaya pantai ini. Selain rihlah akademis workshop disertasi kelas 5000 Doktor Kementerian Agama (2016), Belitung menjadi destinasi yang kami pilih karena memang salah satu kawan kami Bang Iqram—yang lahir dan besar di Pulau Bangka— merekomendasikan Belitung yang dinilai cocok untuk melepas penat kesibukan Ibukota. Setibanya di bandara Tanjung Pandan, mobil jemputan telah siap menunggu. Bus bercat hitam bertuliskan pariwisata itu akan membawa kami berkeliling. Meski jam masih menunjukkan pukul 08.00 pagi, namun terik matahari bersinar cerah bercampur semilir angin menyambut kami di Belitung. Sebelum naik ke dalam bus, sejenak kami sempatkan untuk berfoto ria bersama.

Sambutan hangat nan ramah dari pria berbalut topi merah dan berkacamata hitam, yang tak lain adalah lelaki yang menjemput kami pagi itu nampak riang. Sepanjang jalan, ia tak hentinya berceloteh. Sesekali menjawab pertanyaan  kawan kami, Bang Iqram jika ada informasi yang ingin dibagikan untuk kami. Jalanan pagi itu nampak sangat lenggang, bersih, mulus. Rumah-rumah tanpa pagar menghiasi pandangan kami. Nyaris tanpa halangan jika ingin memandang jauh ke depan. Sebab, masih sedikit mobil yang berlalu lalang. “Kita menuju danau kaolin, ya!”  sahut Bang Iqram memecah kekaguman kami.

Hanya memakan waktu kurang lebih lima belas menit untuk tiba di danau Kaolin. Danau yang mirip dengan Kawah Putih, Ciwidey, Bandung ini. Danau Kaolin adalah sebuah danau yang memiliki warna daratan yang putih bersih dan air yang berwarna biru menyala. Danau ini bukan berasal dari kawah gunung seperti Danau Kawah Putih Ciwidey, danau terbentuk dari bekas tempat pertambangan Kaolin yang telah ditinggalkan dan alam menyempurnakan dengan keindahannya. Kaolin sendiri adalah suatu mineral sebagai bahan industri seperti kosmetik, kertas, makanan, pasta gigi. Sifatnya yang halus, dan putih kian digemari.

Pemandangan Danau Kaolin sungguh menyihir alam pikiran kami. Udara yang panas  tak membuat kami patah semangat untuk mengabadikan gambar di sekeliling Danau Kaolin yang begitu memesona. Timbunan-timbunan galian seperti bukit di sekitar area danau sekilas seperti Gunung Bromo mini yang berwarna putih. Daratan bawah danau yang tertutup oleh air seperti lekukan seekor binatang yang sedang melintas. Di tengah danau nampak sebuah daratan yang seakan menghubungan antar ujung danau. Jika di Kawah Putih, Ciwidey, Bandung sarat dengan bau belerang yang menyengat, maka tidak ada bau belerang di Danau Kaolin ini.

MaasyaAllah..

Tetap ceria berpose meski perut penasaran dengan Mie Belitung.. hihihi

Selesai memanjakan mata di sekeliling Danau Kaolin, Bang Iqram mengajak kami wisata kuliner ke salah satu makanan hits di Belitung. Apakah itu? Mie Belitung! Ya, mie Belitung Atep namanya. Dari kejauhan, warung mie ini selintas kecil. Meja-meja yang terhampar di pandangan kami pun sudah penuh. Akhirnya, sang pemilik warung mempersilakan kami ke dalam rumah yang memang juga sudah disediakan untuk para pengunjung.

Sepanjang pengamatan kami, warung mie yang telah berdiri tahun 1973 ini terbilang unik. Begitu masuk, kami disambut oleh banyak foto artis dan para pejabat politik.  Bukti bahwa warung mie ini sudah banyak didatangi oleh banyak wisatawan. Di sebelah kanan depan rumah difungsikan untuk menyimpan bahan-bahan dan meracik Mie Belitung Atep, sedangkan di bagian kiri dimanfaatkan untuk berjualan berbagai macam roti serta pernak-pernik aksesori telepon genggam.

Tidak sampai menunggu lama, Mie Belitung Atep yang kami nantikan pun datang, bersama dengan datangnya segelas Es Jeruk Kunci, yang banyak dipesan di warung ini. Penasaran, apa sih yang membuat mie Belitung Atep ini terkenal?

Diamati  sekilas, Mie Belitung Atep ini berisikan irisan kentang, potongan tahu goreng, irisan timun segar, bakwan udang yang dipotong seperti dadu, sepotong udang rebus, beberapa emping melinjo kecil, dan kuah kaldu kental yang disiram selagi panas. Adalah kuahnya yang memberi rasa khas dan nikmat pada Mie Atep ini. Keharuman yang khas dari Mie Belitung Atep ini membuat  citarasa yang unik. Sepiring Mie Belitung Atep harganya juga cukup terjangkau. Jika ingin lebih lezat, warung Mie Belitung  Atep ini juga menyediakan cemilan berupa kerupuk ikan, emping sebagai pendamping jika kuah kentalnya yang khas  itu ingin dihabiskan. Selepas kenyang, kami dibuat segar oleh es jeruk racikan warung ini. Udara panas, perut kenyang, es segar;  PAS. J

Kuah kental khas Mie Belitung Atep

Pesan moral dari Mie Belitung Atep

Selepas puas menyantap mie Belitung, kami pun berkesempatan mengunjungi Tugu Batu Satam. Tugu batu satam adalah sebuah tugu agak tinggi dengan batu besar berwarna kehitaman di puncaknya, belakangan kami ketahui bernama Tugu Batu Satam Belitung—yang menarik perhatian kami ketika baru saja turun di depan Mie Belitung Atep, beberapa saat setelah meninggalkan Danau Kaolin. Lokasinya di tengah bundaran di pusat Kota Tanjung Pandan.

Tugu Batu Satam berada di lokasi yang cukup padat kendaraan. Nama Batu Satam masih terdengar asing di telinga, dan tidak pernah pula terekam di dalam ingatan bahwa ada hubungan antara batu yang bernama aneh itu dengan Pulau Belitung. Belitung dalam ingatan kami adalah Laskar Pelangi, tambang timah, dan pantai. Belakangan baru kami temui bahwa Belitung ternyata jauh lebih beragam dan menarik. Beberapa kawan kami berkelakar bahwa batu  satam artinya batu sangat hitam (karena memang warnanya hitam pekat). Ada pula yang bercanda, “Mari thawaf tujuh kali!” Seolah batu satam itu adalah hajar aswad-nya ka’bah. Hehehe...

Bundaran dimana Tugu Batu Satam berada, dihiasi kolam air mancur yang airnya mengucur hidup lengkap dengan jalur jalan pedestrian mulus mengelilinginya. Delapan pilar menyangga dudukan Batu Satam yang ukurannya cukup besar.  Info yang ada dari beberapa website wisata Belitung menyebutkan bahwa satam adalah kata jadian yang berasal dari bahasa Tionghoa. Sa yang berarti pasir, dan Tam yang berarti empedu. Batu Satam ditemukan berada diantara biji timah oleh para penambang timah darat di Belitung, sehingga seolah menjadi empedu pasir meskipun warnanya hitam mengkilat bukan hijau gelap. Batu Satam di Belitung nampaknya hanya yang berwarna hitam mengkilap dengan tekstur yang khas. Tidak ditemukan informasi kapan Tugu Batu Satam Belitung ini diresmikan, namun tampaknya baru setahun atau dua tahun karena masih bagus dan kokoh  berdiri.

Tugu Batu Satam

Setelah bahagia mengabadikan momen di batu satam, Bang Iqram memandu kami menuju homestay yang akan kami tempati selama 2 hari kedepan. Menempuh jarak puluhan menit, kami kembali dimanjakan oleh  pesona alam Belitung. Jalanan mulus  tanpa macet. Tertib dan bersih, menandakan baiknya pengaturan  tata kota di wilayah ini. Di  tengah perjalanan, ada yang masih asyik menikmati pemandangan  di kanan  dan kiri jalan. Ada  pula yang terlelap memasuki alam mimpi. Saya dan  baby salah duanya. Hihihi...

Adalah Jumhadi— pemilik Homestay ‘Pandji dan Vadila’ di kawasan Desa Tanjong Tinggi, Belitung. Lahir dan besar di Belitung membuat ayah beranak tiga ini menguasai betul kapan persisnya Belitung mulai ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun internasional. Dirinya kini mulai fokus melayani jasa penginapan, makan, dan jika dibutuhkan—merangkap menjadi tour guide. Jumhadi dengan bantuan isteri dan beberapa adiknya, fokus memberikan jasa terbaik demi melestarikan pariwisata Belitung. Dengan jerih payahnya yang hampir 18 tahun ini, Jumhadi dengan berbinar menuturkan bahwa homestaynya telah dikunjungi sekitar 38 negara baik beberapa negara Asia, Afrika, Eropa maupun Amerika! Luar biase’....


Ibu Nining (kiri) isteri Pak Jum berfoto bersama kami di depan homestay Pandji dan Vadila

Setelah disambut dengan begitu ramah oleh keluarga Pak Jum—sapaan akrab Pak Jumhadi, kami pun beristirahat sejenak dan makan siang. Kuliner siang itu adalah hidangan laut lezat racikan keluarga Pak Jum. Sambal yang beraneka rasa kaya rempah membuat selera makan kian bertambah J masih lekat dalam ingatan kami, tak hanya hidangan laut yang disediakan Pak Jum, hari kedua, kami dibuat terpesona oleh Mie Belitung asli khas orang Belitung! Apa bedanya dengan Mie Belitung Atep? Jika Mie Belitung Atep berkuah kental dengan mie yang hanya cukup direbus saja, maka Mie Belitung Pak Jum berbeda. Kuahnya lebih bening (tidak mengental) namun mie-nya mengkilap bercampur minyak. Bentuknya juga lebih kecil dari Mie Belitung Atep. Apalagi yang membedakan keduanya? Sambal! Bunda Ryan, dosen kami dibuat takjub oleh racikan sambalnya yang pedas bukan kepalang. Hehehe..

Selepas istirahat dan makan siang, kami bersiap menyebrang pulau dan menikmati keindahan panorama  Belitung. Tujuan utama kami siang itu adalah ke Pantai Tanjung Kelayang.

Sesampainya di dermaga, kami disambut  oleh  papan bertuliskan ‘Welcome to Belitung’ dan  Pantai  Tanjung  Kelayang. Tak mau rugi, dengan  penuh sukacita kami mulai mengatur posisi. Mengambil angle yang  pas untuk diabadikan. “Harus foto sekarang. Kalau nanti, mukanya udah jelek!” canda Abang berkacamata hitam yang tak lain adalah pengemudi mobil jemputan  kami. Setelah bantu memotret kami, ia pamit. Di hari ketiga nanti, ia kembali akan menemani destinasi kami ke wilayah penulis novel Laskar Pelangi yang melegenda.


Ibu dan bayi yang bahagia bisa foto disini..

Kembali ke pantai Tanjung Kelayang, pantai ini berpasir putih, lautan biru jernih dan dihiasi puluhan batuan granit raksasa yang tertancap ajaib. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah birunya air laut yang sangat jernih. Kami menghirup udara dalam-dalam. Sangat bersih, sejuk, mendamaikan dan jauh dari polusi. Pasir di sepanjang Pantai Tanjung Kelayang tampak putih berseri, halus bak tepung terigu. Susunan batuan granit yang terhampar di pantai ini sungguh unik. Jika dilihat secara seksama bentuknya mirip dengan Kepala Burung Garuda.


Beberapa kali Pantai Tanjung Kelayang mendapat sorotan dan perhatian publik, yaitu saat menjadi lokasi syuting Film Laskar Pelangi. Tentu kita semua akrab dengan pemandangan cantik pantai ini. Kemudian, pantai ini juga dijadikan lokasi perhelatan Sail Wakatobi Belitong pada tahun 2011 silam. Luar biasa bukan?



Setelah memanjakan mata ke Pantai Tanjung Kelayang, kami menyebrang ke Pulau Lengkuas yang merupakan salah satu primadona pariwisata di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pulau ini merupakan satu dari ratusan pulau yang mengelilingi Pulau Belitung. Daya tarik utama di pulau ini adalah sebuah mercusuar tua yang dibangun oleh pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1882. Hingga saat ini, mercusuar tersebut masih berfungsi dengan baik sebagai penuntun lalu lintas kapal yang melewati atau keluar masuk Pulau Belitung.

Semoga semangat calon Doktor sekokoh mercusuar itu, hehehe....

Lokasi dari Pulau Lengkuas ini berada di sebelah utara Pantai Tanjung Kelayang, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung. Keindahan panoramanya yang dihiasi dengan banyaknya batu granit yang unik, pasir putih dan air laut yang jernih menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Pulau Belitung. Pulau kecil yang bisa dikelilingi dalam waktu 20 menit ini, bisa didatangi dengan perahu sewaan dari Tanjung Binga maupun Tanjung Kelayang.

Di Pulau Lengkuas, selain menikmati pemandangan pantai yang indah, biasanya pengunjung tidak akan melewatkan kesempatan menikmati pemandangan bawah laut dengan snorkeling atau diving. Di depan perairan Pulau Lengkuas, terdapat spot-spot diving yang bagus. Penjaga mercusuar juga memelihara Penyu hijau. Karena Pulau Lengkuas tidak terlalu luas, untuk menjaga kebersihan dan keberlanjutan lingkungan, pengunjung disarankan untuk membawa persediaan air minum atau air tawar serta selalu membawa pulang kembali sampah yang dihasilkan selama beraktivitas si Pulau, untuk di buang di tempat sampah di daratan Pulau Belitung.
Menikmati panorama bawah laut bersama Prof. Darwis Hude

Satu hal  yang masih membuat kami penasaran adalah, wisata pantai di daerah Belitung ini sarat dengan bebatuan granit besar. Dilansir dari sebuah blog  yang pernah ditulis oleh Ketua Program Studi Teknik Geologi ITB, Budi Brahmantyo. (http://blog.fitb.itb.ac.id), dalam tulisan itu disebutkan, batu granit di Pulau Belitung sebenarnya adalah bagian dari batuan dasar Indonesia bagian barat yang disebut sebagai Batolit. Sebarannya tidak hanya di Bangka Belitung saja, tapi juga muncul di Kepulauan Riau hingga Semenanjung Malaysia. Umur Batuan Granit di Pulau Belitung diperkirakan mencapai 65-200 juta tahun yang lalu. Sebaran batu ini juga sudah dipetakan sejak 1995 oleh Baharuddin dan Sidarto.

Berpose di salah satu bongkahan batu granit di area pantai Tanjung Kelayang

Batuan ini, menurut Budi, merupakan hasil pembekuan magma yang bersifat asam, yaitu dengan kandungan silika yang tinggi lebih dari 65%. Dari peta geologi terlihat bahwa granit tertua berumur Trias (Triassic) tersebar di Belitung bagian barat laut, termasuk di Pantai Tanjung Tinggi, Pulau Kepayang dan Pulau Lengkuas. Penyelidikan oleh Priem et al 1975 menyebutkan umur absolut dari granit Belitung di bagian barat laut yakni 208-245 juta tahun dan termasuk dalam Zaman Trias.

Budi juga memaparkan asal usul unculnya bongkah-bongkah granit ke permukaan. Kemunculan bongkahan itu diawal dari pembekuan granit di bawah permukaan bumi pada kedalaman puluhan kilometer. Pembekuan ini digolongkan sebagai batuan beku dalam yang membentuk Batolit. Batuan-batuan ini mengalami proses tektonik berupa pengangkatan, bahkan beberapa mengalami pematahan dan peretakan. Akibat dari proses tektonik tersebut, batu granit yang tadinya berasal jauh di bawah permukaan Bumi akhirnya muncul ke permukaan Bumi. Selama proses pengangkatan granit dari bawah Bumi, tubuh granit mengalami retak-retak atau deformasi.

Ketika tubuh granit yang retak-retak ini muncul di permukaan Bumi, proses pelapukan dan erosi atau abrasi mengikisnya. Proses pelapukan dan erosi ini berlangsung selama ribuan tahun. Akibatnya, batu granit yang muncul di permukaan seolah-olah merupakan bongkah batuan yang terpisah-pisah. Budi menambahkan informasi dari para penyelam di sekitar Belitung yang  menyatakan bahwa jurang-jurang bawah laut terdiri dari lereng-lereng terjal. Lereng batu granit itu menyambung antara satu pulau dengan pulau lainnya. Dari informasi para penyelam ini, informasi geologi terkonfirmasi bahwa pada kenyataannya, semua tubuh granit yang tersebar di Bangka-Belitung, Kepulauan Riau, Singapura, Semenanjung Malaysia, di bawah Selatan Karimata dan Laut Cina Selatan, Pulau Natuna dan sebagain Kalimantan Barat, menyatu. Dalam geologi dikenal sebagai batolit seperti telah diterangkan di awal.

Setelah puas dimanjakan oleh beragam panorama bahari yang begitu sempurna, kami pun kembali ke homestay dengan berjalan kaki yang cukup jauh namun mengasyikkan. Wisata kuliner dan pengalaman menyelam hari menambah semangat kami. Kebahagiaan kami kian lengkap karena selain liburan, esok harinya, kami bersiap menyantap hidangan ilmu materi penulisan disertasi yang akan diampu oleh kedua pengajar yang turut setia menemani perjalanan kami; Prof. Dr. M. Darwis Hude, MA juga Ibu Dr. Nur Arfiyah Febriani, MA.

Terimakasih yang tak terhingga untuk Prof Darwis dan Bunda Ryan...

Keesokan harinya yang merupakan hari ketiga di Pulau Belitung, kami bersiap pulang ke Jakarta. Sebelum pulang, kami menyempatkan diri untuk mengunjungi replika sekolah Laskar Pelangi (SD Muhammadiyah Gantong), Rumah Keong, melintasi rumah penulis novel Laskar Pelangi, hingga dibuat terkesima oleh interior Museum Kata Andrea Hirata. Takjub!


Sekolah Replika Laskar Pelangi

Exterior Museum Kata Andrea Hirata; warnawarni bak pelangi :) 

The Next Andrea Hirata, Aamiin.. J

Tiga hari di Belitung, ternyata kota ini tak sekedar keindahan pantai. Keragaman budaya, kuliner, bahari, sastra, panorama, keramahan penduduknya menyatu dengan sempurna. Maha suci Allah yang telah menciptakan segalanya tanpa sia-sia hingga menjelma menjadi harmoni yang sungguh indah dirasa. Ah, Belitung, kau adalah keelokan surga dunia yang sempurna....

Selamat berpetualang!

-Insaf