Rasulullah
Saw bersabda, “Tidaklah seseorang yang
tertimpa musibah lalu dia mengucapkan Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun
serta mengucapkan ‘Ya Allah, berilah aku pahala karena musibah ini dan berilah
aku ganti yang lebih baik darinya,’ melainkan Allah memberikannya pahala atas
musibah itu dan memberikan ganti yang lebih baik,” (HR Ahmad)
Sabda Nabi saw
sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Muslim, menunjukkan bahwa
kalimat yang diajarkan Nabi Saw tersebut merupakan pengobatan yang tepat bagi
orang yang mendapat musibah, bermanfaat baginya di dunia dan di akhirat, yang
apabila benar-benar dipahami maka dia akan terhibur karenanya. Kalimat ini
mengandung dua dasar yang agung: pertama,
seseorang hamba; keluarga dan harta bendanya adalah milik Allah. Semua itu
diberikan kepada hamba sebagai pinjaman dari orang yang dipinjaminya. Kedua, tempat kembalinya hamba ialah
kepada Allah yang berarti dia harus meninggalkan dunia, datang kepada Allah
sendirian, sebagaimana dia menciptakannya pertama kali tanpa harta dan
keluarga. Jika begini keadaannya, maka buat apa dia bergembira karena sesuatu
yang ada dan sedih karena sesuatu yang lepas dari tangannya? demikian penuturan
Ibnul Qayyim Al-Jauziyah.
Pernyataan
Ibnul Qayyim ini diperkuat oleh ayat-ayat Allah dari beberapa surah dalam
Al-Quran dengan sedikit penegasan bahwa dunia adalah sementara dan akhirat
adalah yang utama (Qs Adh-Dhuha: 4). Atau dalam ayat lain menyatakan bahwa alam
akhirat adalah kekal adanya, tidak seperti dunia yang fana keberadaannya (Qs
Al-A’la: 17), yang pada intinya, kedua surah ini memberikan manusia pelajaran
bahwa karena dunia tidak kekal abadi, maka manusia tak perlu bersedih hati—baik
harta yang telah hilang darinya atau sanak saudara yang terlebih dulu
dipanggil-Nya.
Terkadang,
karena begitu indahnya dunia bagi sebagian manusia, ia dibuai dalam kelalaian
terhadap dunia; ia pun terlena dan akhirnya banyak menumpuk harta. Kekayaan menjadi
visi hidup dan akhirnya ia lupa bahwa jika saja yang Maha Memiliki berkehendak
mengambil apa yang ia punya, niscaya Allah sanggup melakukannya. Dari uraian tersebut,
Islam bukan tidak menganjurkan pemeluknya kaya materi, tapi, Islam lebih
menganjurkan agar manusia memiliki kaya hati dan jiwa agar mereka sanggup menerima
dengan lapang dada; cobaan Allah yang datang tak diduga.
Dari Abu
Hurairah ra, Rasulullah Saw bersabda, “Bukanlah
kekayaan itu dengan banyaknya harta dunia akan tetapi kekayaan yang hakiki
adalah kaya akan jiwa,” (HR Bukhari Muslim).
Faishal bin
Abd Aziz dalam Tathriz Riyadhi Shalihiina
Hadits di atas menunjukkan bahwa kaya hakiki bukan banyaknya harta dunia
disertai sikap rakus terhadapnya, tetapi kaya hakiki itu orang yang merasa
cukup dengan sesuatu yang Allah berikan dan merasa rela dengan bagiannya. Kaya
jiwa itu terpuji karena akan menjaga diri dari propaganda kerakusan, sehingga
ia menjadi orang yang lemah.
Berkaitan
dengan kaya, Ibnul Qayyim Al Jauziyah lebih lanjut memaparkan bahwa kaya (al-ghina’) terdiri atas dua macam. Kaya
dengan Allah dan tidak membutuhkan yang lain selain Allah. Sebab, hakikat
kecukupan ialah kaya hati dan jiwa, bukan kaya harta.
Semoga Allah
mengaruniakan kita pahala dari sebuah musibah dan menjadikan hati kita kaya; apapun kondisinya, Aamiin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar