Sabtu, 18 April 2020

Menyusuri Jejak Sejarah Masjid Jogokariyan; Masjid Sebagai Pusat Peradaban

Jum’at, 22 November 2019, panas terik siang itu sama sekali tidak menyurutkan langkah ratusan orang untuk menunaikan shalat Jum’at berjamaah di sebuah masjid bersejarah kawasan Jalan Jogokariyan, Kec. Mantrijeron, Yogyakarta atau yang lebih kita kenal dengan Masjid Jogokariyan. Jamaah siang itu cukup  membludak. Mereka berdatangan dari luar Yogya. Bis-bis wisata berjejeran. Selepas shalat Jum’at, jamaah tak lekas pulang, mereka terlebih dulu mencicipi menu angkringan di pelataran masjid, kupat tahu di sebelah kiri masjid atau juga sekedar mencoba dan membeli blangkon yang dijual persis di toko sebelah masjid.
            Ada perjalanan panjang mengapa masjid ini seolah memiliki ‘magnet’ sehingga banyak orang dari berbagai penjuru datang; tak tanggung-tanggung mereka menyewa bis-bis besar dengan berbagai macam tujuan. Ada yang sekedar singgah sejenak untuk ikut merasakan kekhusyu’an shalat  jama’ah di masjid bersejarah ini, ada yang ingin hadir menyimak kajian, ada yang ingin berfoto-foto mengabadikan momen bertuliskan ‘Masjid Jogokariyan’ bewarna-warni di depan masjid, bahkan ada yang rela jauh-jauh untuk studi banding, bahkan rutin  mengikuti i’tikaf ramadhan yang diadakan masjid.






Di balik kegemaran dan kecintaan yang tinggi masyakarat terhadap masjid ini, tahukah Anda bahwa masjid ini sungguh menyejarah! Sejak masjid dibangun, sudah banyak usulan “nama” terhadap masjid yang tengah dalam proses pembangunan yang dimulai pada tanggal 20 September 1966 dikampung Jogokariyan ini. Bahkan hingga hari ini masih selalu saja ada orang yang mempertanyakan tentang nama masjid yang terletak di tengah-tengah kampung ini. Tetapi para Pendiri dan Perintis Dakwah di Jogokariyan telah sepakat memberi nama Masjid ini dengan nama “Masjid Jogokariyan” dengan harapan bahwa masjid diharapkan mampu menjadi perekat dan pemersatu masyarakat Jogokariyan yang sebelumnya terkotak-kotak dalam aliran politik dan gerakan politik dimasa-masa pergolakan sebelum peristiwa 1965.
Masjid Jogokariyan sebagai saksi bisu bagaimana perubahan atau istilah hijrah betul-betul teraktualisasi di wilayah ini. Masjid ini pula telah menjadi alat pemersatu ummat dan masyarakat bebasis kultur kampong “Jogokariyan” sehingga proses ishlah masyarakat segera berlangusng melalui masjid pasca terbebasnya masyarakat dimasa-masa kritis Demokrasi Liberal yang berpuncak tragedi 30 September 1965.
Selain menyejarah, Masjid Jogokariyan memiliki cara tersendiri untuk PDKT terhadap masyarakat setempat. Setiap kali ada tamu atau jamaah datang, selalu rutin didata. Untuk masyarakat sekitar yang kerap berkunjung, data jama’ah tersebut digunakan untuk Gerakan Shubuh Berjama’ah. Sehingga, pada 2004, dibuat sebuah terobosan program baru agar para jamaah lebih meramaikan masjid. caranya, yaitu dengan membuat undangan cetak, layaknya pernikahan. Semua undangan ditulis dengan daftar nama. Undangan itu dilengkapi hadits-hadits keutamaan Shalat Shubuh. Hasil terobosan program itu cukup menakjubkan! Ada peningkatan jumlah jamaah secara signifikan. Hal itu bisa dilihat ketika jumlah jamaah sholat Shubuh, bisa mencapai sepertiga jumlah jamaah Sholat Jumat. MasyaaAllah..
Masjid Jogokariyan menjadi bukti bahwa masjid sangat bisa berfungsi dan mengambil peran dalam solusi masalah umat. Masjid yang diawali dari sebuah langgar kecil di Kampung Pinggiran Selatan Yogyakarta, Masjid Jogokariyan terus berusaha membangun ummat dan mensejahterakan masyarakat. Logo Masjid Jogokariyan terdiri dari tiga bahasa. Arab, Indonesia, dan Jawa. Ini adalah wujud dari semangat para takmir, untuk menjadi muslim yang shalih seutuhnya tanpa kehilangan akar budaya. Sesuai dengan visi masjid ini; terwujudnya masyarakat sejahtera lahir bathin yang diridhoi Allah melalui kegiatan kemasyarakatan yang berpusat di masjid.
Adapun bebrapa kegiatan yang rutin dilakukan masjid Jogokariyan ialah; Taman Pendidikan Al-Qur’an, pembinaan Himpunan Anak-anak Masjid (HAMAS) Jogokariyan setiap hari ba’da maghrib, pengajian anak Sabtu ba’da maghrib. Untuk remaja, pengajian malam Rabu, pukul 20.00, tadarus Al-Quran keliling, Jumat pukul 20.00. Sedangkan untuk umum, ada Majelis Dhuha setiap Kamis 08.00 yang diasuh oleh Ketua DKM Masjid, Ust. Jazir ASP, Majelis Jejak Nabi, Kamis 16.00 diasuh oleh Ust. Salim A Fillah, Kajian Tafsir Quran setiap Senin 20.00 oleh Ust Aris Munandar, Tadabbur Al Quran setiap Jumat 16.00 oleh Ust. Okrizal Eka Putra, Kuliah Subuh setiap hari ba’da subuh.
Selain itu, sebagai bentuk kepedulian keamanan masyarakat, juga diadakan ronda tiap malam di Masjid Jogokariyan yang melibatkan masyarakat Jogokariyan. Setiap harinya, ada 5 – 10 orang yang ronda. Upaya ini mampu menjadikan kawasan Masjid dan sekitarnya aman dari tindak  dan pelaku kejahatan. Dengan melibatkan masyarakat, kepedulian mereka kian tinggi hingga program pemberdayaan masyarakat; rutin sodaqoh beras adalah program social untuk membiasakan warga berbagi dan membantu masyarakat kurang mampu.
Masjid ini juga memiliki keunikan tersendiri. Dewan Ta’mir Masjid yang diketuai oleh H.M Jazir mengungkapkan, Masjid Jogokaryan telah membuat Skenario planning dalam memajukan da’wah di masjid Jogokaryan. Dalam membuat Skenario Planning, ta’mir membuat 3 periode. Periode pertama pada tahun 2000- 2005. Periode kedua pada tahun 2005-2010. Dan periode ketiga pada tahun 2010-2015. Skenario planning pada tiap periode memiliki karakteristik yang berbeda. Tetapi, jika ditinjau dari jenis dan jumlah program kerjanya tidak jauh berbeda. Gambaran skenario planning pada setiap periode, antara lain Jogokariyan Islami (2000-2005), dengan mengubah masyarakat dari kaum abangan menuju islami. Selain itu, pemuda yang suka mabuk di jalan, diarahkan ke masjid. Warga yang belum shalat diajak untuk shalat. Mengajak anak kecil beraktivitas di Masjid. Warga yang shalat di ruma diarahkan shalat di Masjid. Bahkan, menjadikan para pemabuk sebagai kemaanan Masjid.
Skenario planning kedua adalah Jogokariyan Darusalam I pada rentang 2005-2010. Yaitu dengan membiasakan masyarakat untuk berkomunitas di masjid. Jama’ah subuh menjadi 50% (10 shaf) dari jama’ah shalat jumatan. Menyejahterakan jama’ah melalui lumbung masjid, memperbanyak pelayanan, membuka poliklinik, memberikan bantuan beasiswa, memberikan layanan modal bantuan usaha.
Skenario planning ketiga adalah Jogokariyan Darusalam II (2010-2015), yaitu dengan meningkatkan kualitas keagamaan masyarakat. Menuntaskan orang yang belum shalat Jama’ah. Meningkatkan Jama’ah shalat subuh menjadi 75% (14 shaf) dari jama’ah shalat jumatan. Menjadikan para (eks) pemabuk menjadi bagian dari masjid (BBM dan relawan Masjid).
Dengan demikian, setiap masjid pasti mempunyai manajemen sendiri dalam mengelola jamaah. Masjid Jogokariyan salah satu masjid yang mengelola jamaah nya dengan berorientasi pada pelayanan jamaah. Upaya masjid ini tidak hanya berpusat pada peningkatan spiritual masyakarat namun juga menumbuhkan kesadaran dan kepedulian social. Upaya inilah yang akhirnya menjadikan masyarakat lebih cinta dan mendekat ke masjid, tanpa paksaan. Manajemen Masjid Jogokariyan— sebagai masjid besar percontohan Idarah Nasional 2016 oleh Kementerian Agama RI, merupakan manajemen masjid modern yang berlandaskan pada nilai-nilai masjid pada zaman Rasulullah SAW— dimana masjid menjadi jantung pokok kegiatan masyarakat serta bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat sekitar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar