Jum’at, 22
November 2019, panas terik siang itu sama sekali tidak menyurutkan langkah ratusan
orang untuk menunaikan shalat Jum’at berjamaah di sebuah masjid bersejarah
kawasan Jalan Jogokariyan, Kec. Mantrijeron, Yogyakarta atau yang
lebih kita kenal dengan Masjid Jogokariyan. Jamaah siang itu cukup membludak. Mereka berdatangan dari luar
Yogya. Bis-bis wisata berjejeran. Selepas shalat Jum’at, jamaah tak lekas
pulang, mereka terlebih dulu mencicipi menu angkringan di pelataran masjid,
kupat tahu di sebelah kiri masjid atau juga sekedar mencoba dan membeli blangkon
yang dijual persis di toko sebelah masjid.
Di balik kegemaran dan kecintaan yang tinggi masyakarat terhadap masjid ini, tahukah Anda bahwa masjid ini sungguh menyejarah! Sejak masjid dibangun, sudah banyak usulan “nama” terhadap masjid yang tengah dalam proses pembangunan yang dimulai pada tanggal 20 September 1966 dikampung Jogokariyan ini. Bahkan hingga hari ini masih selalu saja ada orang yang mempertanyakan tentang nama masjid yang terletak di tengah-tengah kampung ini. Tetapi para Pendiri dan Perintis Dakwah di Jogokariyan telah sepakat memberi nama Masjid ini dengan nama “Masjid Jogokariyan” dengan harapan bahwa masjid diharapkan mampu menjadi perekat dan pemersatu masyarakat Jogokariyan yang sebelumnya terkotak-kotak dalam aliran politik dan gerakan politik dimasa-masa pergolakan sebelum peristiwa 1965.
Masjid
Jogokariyan sebagai saksi bisu bagaimana perubahan atau istilah hijrah
betul-betul teraktualisasi di wilayah ini. Masjid ini pula telah menjadi alat
pemersatu ummat dan masyarakat bebasis kultur kampong “Jogokariyan” sehingga
proses ishlah masyarakat segera
berlangusng melalui masjid pasca terbebasnya masyarakat dimasa-masa kritis Demokrasi
Liberal yang berpuncak tragedi 30 September 1965.
Selain menyejarah, Masjid Jogokariyan
memiliki cara tersendiri untuk PDKT terhadap masyarakat setempat. Setiap kali
ada tamu atau jamaah datang, selalu rutin didata. Untuk masyarakat sekitar yang
kerap berkunjung, data jama’ah tersebut digunakan untuk Gerakan Shubuh
Berjama’ah. Sehingga, pada 2004, dibuat sebuah terobosan program baru agar para
jamaah lebih meramaikan masjid. caranya, yaitu dengan membuat undangan cetak,
layaknya pernikahan. Semua undangan ditulis dengan daftar nama. Undangan itu
dilengkapi hadits-hadits keutamaan Shalat Shubuh. Hasil terobosan program itu
cukup menakjubkan! Ada peningkatan jumlah jamaah secara signifikan. Hal itu
bisa dilihat ketika jumlah jamaah sholat Shubuh, bisa mencapai sepertiga jumlah
jamaah Sholat Jumat. MasyaaAllah..
Masjid Jogokariyan menjadi bukti bahwa
masjid sangat bisa berfungsi dan mengambil peran dalam solusi masalah umat.
Masjid yang diawali dari sebuah
langgar kecil di Kampung Pinggiran Selatan Yogyakarta, Masjid Jogokariyan terus
berusaha membangun ummat dan mensejahterakan masyarakat.
Logo Masjid Jogokariyan terdiri dari tiga bahasa.
Arab, Indonesia, dan Jawa. Ini
adalah wujud dari semangat para takmir, untuk menjadi muslim yang shalih
seutuhnya tanpa kehilangan akar budaya. Sesuai dengan visi masjid ini; terwujudnya masyarakat sejahtera lahir bathin yang
diridhoi Allah melalui kegiatan kemasyarakatan yang berpusat di masjid.
Adapun bebrapa kegiatan yang rutin dilakukan masjid Jogokariyan
ialah; Taman Pendidikan Al-Qur’an, pembinaan Himpunan Anak-anak Masjid (HAMAS)
Jogokariyan setiap hari ba’da maghrib, pengajian anak Sabtu ba’da maghrib.
Untuk remaja, pengajian malam Rabu, pukul 20.00,
tadarus Al-Quran keliling, Jumat pukul 20.00.
Sedangkan untuk umum, ada Majelis Dhuha setiap Kamis 08.00 yang diasuh
oleh Ketua DKM Masjid, Ust. Jazir ASP, Majelis Jejak Nabi, Kamis 16.00 diasuh
oleh Ust. Salim A Fillah, Kajian Tafsir Quran setiap Senin 20.00 oleh Ust Aris
Munandar, Tadabbur Al Quran setiap Jumat 16.00 oleh Ust. Okrizal Eka Putra, Kuliah
Subuh setiap hari ba’da subuh.
Selain itu, sebagai bentuk kepedulian keamanan masyarakat, juga diadakan
ronda tiap malam di Masjid Jogokariyan yang melibatkan masyarakat Jogokariyan.
Setiap harinya, ada 5 – 10 orang yang ronda. Upaya ini mampu menjadikan kawasan
Masjid dan sekitarnya aman dari tindak
dan pelaku kejahatan. Dengan melibatkan masyarakat, kepedulian mereka
kian tinggi hingga program pemberdayaan masyarakat; rutin sodaqoh beras adalah
program social untuk membiasakan warga berbagi dan membantu masyarakat kurang
mampu.
Masjid ini juga memiliki keunikan tersendiri. Dewan Ta’mir
Masjid yang diketuai oleh H.M Jazir mengungkapkan, Masjid Jogokaryan telah membuat
Skenario planning dalam memajukan da’wah di masjid Jogokaryan. Dalam membuat
Skenario Planning, ta’mir membuat 3 periode. Periode pertama pada tahun 2000- 2005.
Periode kedua pada tahun 2005-2010. Dan periode ketiga pada tahun 2010-2015. Skenario
planning pada tiap periode memiliki karakteristik yang berbeda. Tetapi, jika
ditinjau dari jenis dan jumlah program kerjanya tidak jauh berbeda. Gambaran skenario
planning pada setiap periode, antara lain Jogokariyan Islami (2000-2005),
dengan mengubah masyarakat dari kaum abangan menuju islami. Selain itu, pemuda
yang suka mabuk di jalan, diarahkan ke masjid. Warga yang belum shalat diajak
untuk shalat. Mengajak anak kecil beraktivitas di Masjid. Warga yang shalat di
ruma diarahkan shalat di Masjid. Bahkan, menjadikan para pemabuk sebagai
kemaanan Masjid.
Skenario
planning kedua adalah Jogokariyan Darusalam I pada rentang 2005-2010. Yaitu
dengan membiasakan masyarakat untuk berkomunitas di masjid. Jama’ah subuh
menjadi 50% (10 shaf) dari jama’ah shalat jumatan. Menyejahterakan jama’ah
melalui lumbung masjid, memperbanyak pelayanan, membuka poliklinik, memberikan
bantuan beasiswa, memberikan layanan modal bantuan usaha.
Skenario
planning ketiga adalah Jogokariyan Darusalam II (2010-2015), yaitu dengan
meningkatkan kualitas keagamaan masyarakat. Menuntaskan orang yang belum shalat
Jama’ah. Meningkatkan Jama’ah shalat subuh menjadi 75% (14 shaf) dari jama’ah
shalat jumatan. Menjadikan para (eks) pemabuk menjadi bagian dari masjid (BBM
dan relawan Masjid).
Dengan demikian, setiap masjid pasti mempunyai
manajemen sendiri dalam mengelola jamaah. Masjid Jogokariyan salah satu masjid
yang mengelola jamaah nya dengan berorientasi pada pelayanan jamaah. Upaya masjid
ini tidak hanya berpusat pada peningkatan spiritual masyakarat namun juga
menumbuhkan kesadaran dan kepedulian social. Upaya inilah yang akhirnya
menjadikan masyarakat lebih cinta dan mendekat ke masjid, tanpa paksaan. Manajemen
Masjid Jogokariyan— sebagai masjid besar percontohan
Idarah Nasional 2016 oleh Kementerian Agama RI, merupakan manajemen
masjid modern yang berlandaskan pada nilai-nilai masjid
pada zaman Rasulullah SAW— dimana masjid menjadi jantung pokok kegiatan
masyarakat serta bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat sekitar.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar