Sabtu, 18 April 2020

Angkringan dan Budaya yang Harus Dilestarikan



            Angkringan? Tentu kita tak asing lagi mendengar kata ini. Beberapa  hal yang terbayang adalah makan dengan harga murah dengan menu utama ialah nasi (sego) dengan porsi kecil (atau yang akrab disebut nasi kucing terselip sambal teri), lengkap dengan sate usus, telur puyuh, aneka gorengan dan kerupuk. Tak lupa, penghangat perut biasanya disajikan wedang jahe dan teh nasgitel (panas, legit, kenthel) maupun es jeruk.

Istilah Angkringan sendiri berasal dari kata ‘ngangkring’ atau istilah betawi- yang lebih kita  kenal ‘nangkring’—rutinitas duduk santai sambil menyilangkan kaki dan istilah ini pula yang lekat dalam angkringan. Angkringan terlahir sebagai romantisme potret masyarakat menengah ke bawah yang gemar makan di pinggir jalan, merasakan semilir angin sembari berdiskusi ringan dengan pembeli lain. Meski kini perkembangan teknologi sudah merambah hingga urusan makan dan minum yang dipesan secara online, angkringan tetap diminati. Lihat di Kawasan Tugu Yogyakarta, misalnya. Angkringan berjejer rapi; memotret kebersamaan dan kesederhanaan dengan sungguh sempurna. Semua kalangan dari berbagai latar belakang, makan bersama. Tak peduli strata sosial dan pendidikan mereka; angkringan menyatukan mereka. Namun demikian, bagaimana sebenarnya awal mula angkringan itu ada?

Adalah Mbah Pairo, seorang pendatang dari Cawas, Klaten yang memelopori adanya angkringan di Yogyakarta sejak tahun 1950-an. Cawas yang secara adminstratif termasuk wilayah Klaten Jawa Tengah merupakan daerah tandus terutama di musim kemarau. Tidak adanya lahan subur yang bisa diandalkan untuk menyambung hidup, membuat Mbah Pairo memutar otak. Ia pun memutuskan untuk mengadu nasib ke Yogyakarta dan mulai membuka usaha angkringan (dulu dengan dipikul belum berbentuk gerobak menetap). Tahun demi tahun berlalu, usaha Mbah Pairo membuahkan hasil. Racikan khas menu angkringannya menetap di lidah para penggemarnya. Akhirnya usaha ini dilanjutkan oleh puteranya, Lik Man, sejak sekitar tahun 1969. Lik Man membuka usahanya di Tugu Yogyakarta lalu diikuti oleh banyak angkringan lain di sekitarnya. Sehingga, tak afdhol rasanya jika ke Yogya kalau tidak mencicipi empuknya sego kucing dan lezatnya menu sate-satean juga harumnya racikan teh hangat.

Kekhasan Angkringan yang begitu membudaya di pusat Kota Yogyakarta sampai juga ke pelosok desa di Jalan Sukun, Banguntapan, Bantul Yogyakarta. Yuk Marni namanya, beliau sudah berprofesi sebagai pedagang angkringan selama lima tahun terakhir. Jika angkringan lain  biasanya mulai ramai di waktu sore hingga dini hari, maka Yuk Marni sudah mulai membuka lapaknya sejak pukul enam pagi dan tutup sore hari. Tak perlu ragu racikan Yuk Marni. Sego kucingnya empuk dan tanek. Cita rasa khas sego yang masih betul-betul dijaga. Sambel teri dan  tempe oreg terselip dalam sego kucingnya. Dalam sehari, Yuk Marni membuat hampir 50 lebih nasi dan habis disantap. Tadi, kami berkesempatan mencicipi angkringan Yuk Marni. Heum, sego kucing dua bungkus, sate usus dua, sate puyuh satu, dua tempe goreng dan dua nasi jeruk; hanya cukup membayar 16ribu saja!  Harga yang sangat ekonomis untuk ukuran backpacker.





Pembeli hari itu yang didominasi oleh laki-laki, tak membuat perempuan maupun ibu-ibu enggan membeli. Ada yang membeli satu atau dua sego lengkap dengan lauk dengan dibawa  pulang (dibungkus), ada pula yang lebih memilih untuk menikmati lezatnya menu angkringan di tempat itu sembari bercengkrama dengan sesama pembeli. Sungguh kebiasaan yang langka terjadi di kota metropolitan.



Lezat dan cara masyarakat menikmati menu angkringan mengingatkan kita pada satu hal yang sangat berkesan; angkringan bukan hanya soal makan tapi juga ada budaya yang harus dilestarikan yaitu kesederhanaan dan kesahajaan—mengedepankan adat ketimuran melalui budaya ramah-tamah (makan bersama sambil bertegur sapa) dan tuntunan Rasulullah untuk makan dalam porsi yang cukup. Ukuran nasi kucing yang memang disediakan dalam bungkusan mini memungkinkan pembeli menyantap nasi sesuai dengan kapasitas perut masing-masing. Sehingga, ukuran mini nasi sego ini mengurangi kemubadziran makanan karena rata-rata pembeli mampu melahap satu porsi sego kucing. Sehingga, dengan ukuran yang pas; dua kebutuhan lain bisa terlaksana dengan baik yaitu minum dan bernafas; sesuai dengan sabda Rasulullah Saw, “Tidak ada bejana yang diisi oleh manusia yang lebih buruk dari perutnya, cukuplah baginya memakan beberapa suapan sekedar dapat menegakkan tulang punggungnya (memberikan tenaga), maka jika tidak mau, maka ia dapat memenuhi perutnya dengan sepertiga makanan, sepertiga minuman dan sepertiga lagi untuk nafasnya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad (IV/132), Ibnu Majah (no. 3349), al-Hakim (IV/ 121).

Dengan cara tersebut di atas, potret kesahajaan dan kesederhanaan budaya angkringan secara tidak langsung mengikuti sunnah Rasulullah yang semoga mampu kita teladani bersama-sama. Demikianlah, angkringan; bukan hanya soal makan namun ada sunnah Rasulullah yang harus dilakukan dan budaya ketimuran yang harus dilestarikan. Wallahu a’lam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar