Bubur
Ayam Khas Bandung di Jogja ini Laris Banget!
Apa
sih Rahasianya?
Ina Salma Febriany
Pagi
hari di akhir pekan, pengujung November ini sangat berkesan! Selain udara di
sudut kota Jogja ini sejuk sekali lengkap dengan keramahtamahan penduduknya, kesan
lainnya, kami berkesempatan ke sebuah pesantren terbesar di kawasan Jalan KH
Ali Maksum, KrapyakWetan, Yogyakarta. Kota santri dengan segala kekhasannya;
berpeci, bersarung, membawa kitab—terasa segala hiruk pikuk di kota ini sungguh berkualitas. Belum lagi, masjid
Jogokriyan yang dengan segala aktivitas tak
pernah berhenti hingga larut malam tiba, kawasan ini tetap banyak yang
berjaga (ronda). Ada lagi kekhasan daerah ini. Apa itu? Kuliner! So, disini
kami tak perlu takut lapar. Kanan kiri homestay yang kami tempati, dikelilingi
aneka ragam kuliner. Kupat tahu, nasi ayam opor, angkringan, nasi goreng
seafood, nasi telur, nasi goreng tahajjud (unik sekali penamaannya, ya!), one
day one jus (sajian es jus buah) juga jajanan milenial kekinian (cheese tea,
sozis, bakso bakar dan banyak lagi!). Nah, kalau kawan-kawan rindu sajian
lokal, kita bisa loh menikmati bubur ayam khas Bandung! Lho kok Bandung? Kenapa nggak bubur khas Jogja, ya?

Adalah
Bapak-Ibu paruh baya sepasang suami isteri yang memulai usaha bubur ayam ini sejak
15 tahun yang lalu. Ibu Murti (bukan nama sebenarnya) asli Jogja yang kemudian
dinikahi oleh suaminya, berdarah Bandung. Keduanya akhirnya bersepakat untuk
memulai usaha kuliner mengingat pangsa pasar yang sedemikian strategis disini;
dikelilingi pesantren besar, Al-Munawwir Krapyak dan sekolah SMP, SMK dan SMA
KH. Ali Maksum. Kesempatan ini tak disia-siakan oleh pasutri yang sangat ramah
ini. Kalau kuliner Joga mungkin terlalu mainstream,
maka mereka memelopori kuliner khas
Bandung! Tak hanya bubur ayamnya yang menggoyang lidah. Kupat tahu, lontong
sayur Bandung dan beberapa sajian sate maupun gorengan raos pisan! So, bagi kamu warga Bandung yang menetap or lagi
liburan ke Jogja, jangan khawatir, bubur ayam ini teh ngangenin!
Sekilas dari luar warung ini sudah eye catching. Bercat orang dan tulisan
baliho besar ‘Bubur Ayam’ menarik pandangan kami untuk berkunjung masuk,
membeli dan mencicipi bubur ayam ini. Heum,
harumnya bubur, ramainya pembeli pagi itu, kesibukan pramusaji yang hampir tak
pernah berhenti; membuat kami yakin cita rasa bubur ini pasti enak! Begitu
kami masuk, kami langsung menyasar kursi bagian pojok, sebab hanya itu yang masih
kosong. Selebihnya, semua kursi terisi pembeli yang sedang menikmati sajian
bubur ini. Karena kursi kurang satu, seorang pembeli lekas memboyong satu kursi
untuk kami. Ibu Murti tersenyum pada kami dan mempersilakan kami duduk. Sejurus
kemudian, sang suami, mendekati kami dan bertanya ramah, “Sudah terlayani,
Teteh?” seraya tersenyum. Tak butuh waktu tunggu yang lama, kami langsung
mendapatkan dua porsi bubur di mangkuk ukuran cukup besar (bukan mangkuk ayam
ya, hehe), plus dua bowl plastik
berisi kerupuk.
“Silahkan, Teh. Itu kecap manisnya,
kecap asinnya di botol kuning, sambel, tisu, daun bawang, semua ada disitu.
Silahkan dicampur sesuai selera, yah!” ucap beliau ramah, senyuman tersungging
tulus dari bapak berpeci dan berkacamata itu.
Sekilas tampak, bubur
ini sama seperti bubur pada umumnya. Pembedanya hanya daun bawang yang teriris
besar dan kerupuk yang disediakan pada mangkuk terpisah. Seporsi bubur ayam cukup
merogoh kocek Rp. 8000 saja, gorengan 2000 rupiah/ 3 buah, sajian usus maupun
telur puyuh yang masih terjangkau, minuman beragam variasi di bawah 5000
rupiah, harga terjangkau inilah yang membuat warung bubur ini tak pernah sepi
pembeli. Namun, tak cukup hanya soal harga sebenarnya! Ada rahasia lain yang
dipraktikkan betul-betul oleh sepasang suami isteri ini agar warung khas
Bandungnya ini selalu laris manis! Apa ya? Keramahan!
Keramahan atau sikap
mau menyapa dan menservis pembeli dengan baik terkadang bukan dianggap hal
penting oleh pedagang. Padahal, jika pedagang ramah dan melayani pembeli dengan
sebaik mungkin juga jujur (amanah) seperti yang dipraktikkan cara berniaga
Rasulullah, itu bisa menjadi nilai ‘lebih’ bagi usaha tersebut. Terlebih, jika
cita rasa kuliner yang dijual pun lezat, itu bisa menjadi nilai tambah yang
membuat pembeli enggan ke lain hati. Nah, pagi tadi, kami berkesempatan
mengobrol dengan Bapak penjual bubur yang malu-malu hingga enggan menyebutkan
namanya. Beliau mengaku, warung buburnya buka setiap hari. Ia isteri dan ketiga
karyawan laki-lakinya mulai menjajakan buburnya sejak jam 6 pagi hingga jam 12
siang. Semua kalangan dari mulai anak sekolah, masyarakat umum, mahasiswa, santri,
anak-anak, guru, backpacker,
menyantap bubur ini karena ramah penjualnya dan tentu… ramah di kantong!
Nah, bagi kalian yang memang
berkecimpung dalam usaha kuliner atau apapun jenis usahanya (baik usaha offline
terlebih online), keramah tamahan Bapak-Ibu penjual bubur khas Bandung ini
patut dicontoh nih! Percayalah, bahwa keramahan (juga tentu kejujuran) terhadap
orang lain nggak ada ruginya. Malah bikin kita untung terus. Selain bisa
menggaet pembeli untuk repeat order,
dagangan kita insyaAllah akan berkah
terus karena banyak lisan dan jari jemari yang tulus merekomendasi! Di akhir
pertemuan, Bapak memohon doa dan berterimakasih kepada kami, “Haturnuhun,
Alhamdulillah. Doakeun ya Neng,”




Tidak ada komentar:
Posting Komentar