Sabtu, 18 April 2020

Bubur Ayam Khas Bandung di Jogja ini Laris Banget! Apa sih Rahasianya?


Bubur Ayam Khas Bandung di Jogja ini Laris Banget!
Apa sih Rahasianya?
Ina Salma Febriany


                Pagi hari di akhir pekan, pengujung November ini sangat berkesan! Selain udara di sudut kota Jogja ini sejuk sekali lengkap dengan keramahtamahan penduduknya, kesan lainnya, kami berkesempatan ke sebuah pesantren terbesar di kawasan Jalan KH Ali Maksum, KrapyakWetan, Yogyakarta. Kota santri dengan segala kekhasannya; berpeci, bersarung, membawa kitab—terasa segala hiruk pikuk di  kota ini sungguh berkualitas. Belum lagi, masjid Jogokriyan yang dengan segala aktivitas tak  pernah berhenti hingga larut malam tiba, kawasan ini tetap banyak yang berjaga (ronda). Ada lagi kekhasan daerah ini. Apa itu? Kuliner! So, disini kami tak perlu takut lapar. Kanan kiri homestay yang kami tempati, dikelilingi aneka ragam kuliner. Kupat tahu, nasi ayam opor, angkringan, nasi goreng seafood, nasi telur, nasi goreng tahajjud (unik sekali penamaannya, ya!), one day one jus (sajian es jus buah) juga jajanan milenial kekinian (cheese tea, sozis, bakso bakar dan banyak lagi!). Nah, kalau kawan-kawan rindu sajian lokal, kita bisa loh menikmati bubur ayam khas Bandung! Lho kok  Bandung? Kenapa nggak bubur khas Jogja, ya?






Adalah Bapak-Ibu paruh baya sepasang suami isteri yang memulai usaha bubur ayam ini sejak 15 tahun yang lalu. Ibu Murti (bukan nama sebenarnya) asli Jogja yang kemudian dinikahi oleh suaminya, berdarah Bandung. Keduanya akhirnya bersepakat untuk memulai usaha kuliner mengingat pangsa pasar yang sedemikian strategis disini; dikelilingi pesantren besar, Al-Munawwir Krapyak dan sekolah SMP, SMK dan SMA KH. Ali Maksum. Kesempatan ini tak disia-siakan oleh pasutri yang sangat ramah ini. Kalau kuliner Joga mungkin terlalu mainstream, maka mereka  memelopori kuliner khas Bandung! Tak hanya bubur ayamnya yang menggoyang lidah. Kupat tahu, lontong sayur Bandung dan beberapa sajian sate maupun gorengan raos pisan! So, bagi kamu warga Bandung yang menetap or lagi liburan ke Jogja, jangan khawatir, bubur ayam ini teh ngangenin!
Sekilas dari luar warung ini sudah eye catching. Bercat orang dan tulisan baliho besar ‘Bubur Ayam’ menarik pandangan kami untuk berkunjung masuk, membeli dan mencicipi bubur ayam ini. Heum, harumnya bubur, ramainya pembeli pagi itu, kesibukan pramusaji yang hampir tak pernah berhenti; membuat kami yakin cita rasa bubur ini pasti enak! Begitu kami  masuk, kami  langsung menyasar kursi  bagian pojok, sebab hanya itu yang masih kosong. Selebihnya, semua kursi terisi pembeli yang sedang menikmati sajian bubur ini. Karena kursi kurang satu, seorang pembeli lekas memboyong satu kursi untuk kami. Ibu Murti tersenyum pada kami dan mempersilakan kami duduk. Sejurus kemudian, sang suami, mendekati kami dan bertanya ramah, “Sudah terlayani, Teteh?” seraya tersenyum. Tak butuh waktu tunggu yang lama, kami langsung mendapatkan dua porsi bubur di mangkuk ukuran cukup besar (bukan mangkuk ayam ya, hehe), plus dua bowl plastik berisi kerupuk.
            “Silahkan, Teh. Itu kecap manisnya, kecap asinnya di botol kuning, sambel, tisu, daun bawang, semua ada disitu. Silahkan dicampur sesuai selera, yah!” ucap beliau ramah, senyuman tersungging tulus dari bapak berpeci dan berkacamata itu.




Sekilas tampak, bubur ini sama seperti bubur pada umumnya. Pembedanya hanya daun bawang yang teriris besar dan kerupuk yang disediakan pada mangkuk terpisah. Seporsi bubur ayam cukup merogoh kocek Rp. 8000 saja, gorengan 2000 rupiah/ 3 buah, sajian usus maupun telur puyuh yang masih terjangkau, minuman beragam variasi di bawah 5000 rupiah, harga terjangkau inilah yang membuat warung bubur ini tak pernah sepi pembeli. Namun, tak cukup hanya soal harga sebenarnya! Ada rahasia lain yang dipraktikkan betul-betul oleh sepasang suami isteri ini agar warung khas Bandungnya ini selalu laris manis! Apa ya? Keramahan!





Keramahan atau sikap mau menyapa dan menservis pembeli dengan baik terkadang bukan dianggap hal penting oleh pedagang. Padahal, jika pedagang ramah dan melayani pembeli dengan sebaik mungkin juga jujur (amanah) seperti yang dipraktikkan cara berniaga Rasulullah, itu bisa menjadi nilai ‘lebih’ bagi usaha tersebut. Terlebih, jika cita rasa kuliner yang dijual pun lezat, itu bisa menjadi nilai tambah yang membuat pembeli enggan ke lain hati. Nah, pagi tadi, kami berkesempatan mengobrol dengan Bapak penjual bubur yang malu-malu hingga enggan menyebutkan namanya. Beliau mengaku, warung buburnya buka setiap hari. Ia isteri dan ketiga karyawan laki-lakinya mulai menjajakan buburnya sejak jam 6 pagi hingga jam 12 siang. Semua kalangan dari mulai anak sekolah, masyarakat umum, mahasiswa, santri, anak-anak, guru, backpacker, menyantap bubur ini karena ramah penjualnya dan tentu…  ramah di kantong!

Nah, bagi kalian yang memang berkecimpung dalam usaha kuliner atau apapun jenis usahanya (baik usaha offline terlebih online), keramah tamahan Bapak-Ibu penjual bubur khas Bandung ini patut dicontoh nih! Percayalah, bahwa keramahan (juga tentu kejujuran) terhadap orang lain nggak ada ruginya. Malah bikin kita untung terus. Selain bisa menggaet pembeli untuk repeat order, dagangan kita insyaAllah akan berkah terus karena banyak lisan dan jari jemari yang tulus merekomendasi! Di akhir pertemuan, Bapak memohon doa dan berterimakasih kepada kami, “Haturnuhun, Alhamdulillah. Doakeun ya Neng,” 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar