Sabtu, 18 April 2020

Belajar Membatik di Taman Pintar Yogyakarta: Alternatif Berlibur Penuh Makna


Belajar Membatik di Taman Pintar Yogyakarta:
Alternatif Berlibur Penuh Makna
Ina Salma Febriany

           
Libur (akan) segera tiba nih! By the way, sudah ada to-go-list untuk libur panjang akhir tahun ini? Jika belum, mungkin Taman Pintar Yogyakarta bisa menjadi pilihan. Terletak di pusat kota yang dilalui oleh Trans Yogya, Taman Pintar Yogyakarta (TPY) nyaris tak pernah sepi pengunjung. Siang terik itu menjadi jawaban betapa tempat ini sangat laris dipenuhi banyak pendatang baik anak-anak sekolah maupun masyarakat sekitar yang sengaja ingin menghabiskan libur akhir pekan di tempat penuh makna ini! Kenapa sih, tempat ini layak masuk ke dalam holiday-list?


Adalah Taman Pintar Yogyakarta, tempat wisata rekreatif yang menyajikan banyak wahana edukatif; sesuai keinginan dan minat bakat anak. Gerbang Taman Pintar Yogyakarta yang terletak di depan jalan tak jauh dari Benteng Vredeburg, Jalan Panembahan, Senopati, menyambut kedatangan kami. Bendera merah putih terkibar megah melawan panas siang itu. Meski terik, TPY siang tadi tetap membludak. Anak-anak usia SMP SMA mulai memadati tempat itu dari beberapa sekolah yang ada di Yogyakarta. Terlihat sekitar sepuluh bis besar terparkir tepat di seberang TPY. Btw, mengapa disebut Taman Pintar?

Ada tujuan tersendiri mengapa wahana edukatif ini dinamai Taman Pintar. Alasan utamanya adalah agar anak-anak pra-sekolah sampai sekolah menengah bisa dengan leluasa memperdalam pemahaman soal pelajaran di sekolah sambil berekreasi. Dengan demikian, pemerintah daerah DI Yogyakarta sangat concern terhadap pengenalan science dan teknologi sedini mungkin untuk anak-anak agar kreatifitas anak-anak mudah diasah dan mereka bisa memahami perkembangan teknologi melalui alat peraga yang saat ini berjumlah kurang lebih 3500 alat peraga. Luar biasa, bukan?
Memasuki depan gerbang TPY, bagian sebelah kanan ada taman PAUD yang dikhususkan untuk anak usia 3-7 tahun. Tempat ini bersebelahan persis dengan Taman Lalu Lintas. Taman kecil yang didesain agar anak bisa mengendarai mobil sambil mengenal simbol-simbol lalu lintas. Bergeser ke arah kiri, ada wahana lain, Kampung Kerajinan namanya. Di dalam taman ini terdapat empat jenis wahana edukatif; rumah gerabah tempat membuat kerajinan dari tanah liat sekaligus mewarnai gerabah. Kedua, rumah seni melukis kaos dan ketiga rumah membatik! Setiap harga wahana edukatif ini berbeda-beda kisaran 12-45 ribu rupiah saja dan hasil dari kerajinan itu bisa dibawa pulang. Wow, menarik ya! Nah, sebelum masuk ke kawasan Kampung Kerajinan, pastikan kalian sudah membeli tiket di loket yang  tersedia ya. Dari depan gerbang,  kita hanya perlu berjalan lurus dan nanti tertera bacaan Loket Tiket tepat bersebelahan dengan Planetarium.


Nah, kembali ke Kampung Kerajinan. Kegiatan apa yang diajarkan di kampung ini? Selain kegiatan membentuk gerabah menjadi sebuah wadah siap pakai yang terlebih dulu dikeringkan, anak-anak minimal usia 2 tahun boleh ikut mewarnai hasil gerabah yang sudah kering dan siap diberi warna. Pilihan warna disesuaikan dengan keinginan sang anak. Selain membentuk kerajinan dari tanah liat dan mewarnai hasil kerajinan tersebut, seni yang tak kalah menarik yaitu membatik! membatik menjadi wahana edukatif pilihan yang dikhususkan bagi anak-anak di atas usia 8 tahun hingga dewasa. Ibu-ibu, hingga usia kakek-nenek pun diperbolehkan ikut kelas membatik ini.
Mbak Lely, petugas yang melayani kami di Rumah Batik menjelaskan, kelas ini dikhususkan minimal 8 tahun mengingat membatik ini butuh ketelitian dan kehati-hatian. Teliti dalam membuat pola dan hati-hati saat menggunakan canting karena wadah untuk meletakkan lilin cokelat dalam kendi itu terdapat api dan bersifat panas, khawatir melukai anak-anak jika kurang hati-hati. Di pelataran galeri rumah batik yang dipenuhi hasil karya pengunjung di berbagai sudut tembok, Mbak Lely langsung mempersilakan membuat pola pada kain putih kecil dan sebuah pensil lalu boleh memulai membuat pola sederhana. Mbak Lely menganjurkan untuk membuat pola agak besar, bisa motif batik atau lainnya sesuai keinginan. Mengapa harus besar dan tidak perlu detail bagi pemula? Agar memudahkan saat nanti mengaplikasikan lilin pada kain putih yang sudah terpola tadi.




Selesai membuat pola, mbak Lely memandu kami masuk ke dalam galeri. Kursi kecil bercat cokelat  dipersilakan olehnya, Mbak Lely langsung duduk berhadapan dan mengajarkan cara membatik secara perlahan. Pertama-tama, canting (alat untuk meletakkan lilin) dicelupkan perlahan dan diisi oleh lilin secukupnya. Untuk hasil yang tak terlalu tebal, canting boleh disisihkan terlebih dahulu di pinggir kendi, baru diaplikasikan ke dalam kain putih. Sungguh bukan pekara mudah karena berulang kali lilin bertebaran dimana-mana! Ternyata benar, membatik itu butuh ketelitian, ketelatenan, kesabaran dan kehati-hatian. Sekitar lima sampai delapan menit lebih, lilin cokelat sudah menghiasi pinggiran bunga besar yang saya buat. Setelah selesai, Mbak Lely mengajak kami berpindah tempat untuk mewarnai kain putih di bagian luar galeri rumah batik. Waw, mengapa diberi warna?
“Agar lebih hidup hasilnya nanti. Sebab, membatik tak hanya soal mengaplikasikan canting (lilin) itu ke dalam kain putih. Banyak proses yang harus dilakukan, agar hasil batik menjadi lebih bagus. Salah satunya diberi warna,” Saya yang awam dan baru memulai belajar membatik, bertanya penasaran, “Nanti, apa nggak basah Mbak, lilin yang sudah terbentuk di kain putih ini?” Dengan jawaban penuh meyakinkan, Mbak Lely menjelaskan, “Justeru lilin itulah yang menghalangi warna yang kita poles dalam kain ini agar tidak tercampur,” wah, sungguh menarik! Nah, setelah diberi warna, batik terlebih dulu harus dijemur beberapa saat hingga kering, baru boleh dibawa pulang sebagai oleh-oleh membatik di wahana edukatif ini. Nah, bagi kalian yang belum punya rencana liburan, mungkin TPY bisa menjadi wahana alternative pengisi liburan nanti. Sebab di tempat ini, kita bukan hanya dimanjakan oleh banyak mainan rekreatif namun juga sarat nilai-nilai edukatif di dalamnya.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar