Belajar
Membatik di Taman Pintar Yogyakarta:
Alternatif
Berlibur Penuh Makna
Ina Salma
Febriany
Libur
(akan) segera tiba nih! By the way, sudah
ada to-go-list untuk libur panjang
akhir tahun ini? Jika belum, mungkin Taman Pintar Yogyakarta bisa menjadi
pilihan. Terletak di pusat kota yang dilalui oleh Trans Yogya, Taman Pintar
Yogyakarta (TPY) nyaris tak pernah sepi pengunjung. Siang terik itu menjadi
jawaban betapa tempat ini sangat laris dipenuhi banyak pendatang baik anak-anak
sekolah maupun masyarakat sekitar yang sengaja ingin menghabiskan libur akhir
pekan di tempat penuh makna ini! Kenapa sih, tempat ini layak masuk ke dalam holiday-list?
Adalah
Taman Pintar Yogyakarta, tempat wisata rekreatif yang menyajikan banyak wahana edukatif;
sesuai keinginan dan minat bakat anak. Gerbang Taman Pintar Yogyakarta yang
terletak di depan jalan tak jauh dari Benteng Vredeburg, Jalan Panembahan,
Senopati, menyambut kedatangan kami. Bendera merah putih terkibar megah melawan
panas siang itu. Meski terik, TPY siang tadi tetap membludak. Anak-anak usia
SMP SMA mulai memadati tempat itu dari beberapa sekolah yang ada di Yogyakarta.
Terlihat sekitar sepuluh bis besar terparkir tepat di seberang TPY. Btw,
mengapa disebut Taman Pintar?
Ada tujuan tersendiri mengapa wahana
edukatif ini dinamai Taman Pintar. Alasan utamanya adalah agar anak-anak
pra-sekolah sampai sekolah menengah bisa dengan leluasa memperdalam pemahaman
soal pelajaran di sekolah sambil berekreasi. Dengan demikian, pemerintah daerah
DI Yogyakarta sangat concern terhadap pengenalan science dan teknologi sedini mungkin untuk anak-anak agar
kreatifitas anak-anak mudah diasah dan mereka bisa memahami perkembangan
teknologi melalui alat peraga yang saat ini berjumlah kurang lebih 3500 alat
peraga. Luar biasa, bukan?
Memasuki depan gerbang TPY, bagian sebelah
kanan ada taman PAUD yang dikhususkan untuk anak usia 3-7 tahun. Tempat ini
bersebelahan persis dengan Taman Lalu Lintas. Taman kecil yang didesain agar
anak bisa mengendarai mobil sambil mengenal simbol-simbol lalu lintas. Bergeser
ke arah kiri, ada wahana lain, Kampung Kerajinan namanya. Di dalam taman ini
terdapat empat jenis wahana edukatif; rumah gerabah tempat membuat kerajinan
dari tanah liat sekaligus mewarnai gerabah. Kedua, rumah seni melukis kaos dan
ketiga rumah membatik! Setiap harga wahana edukatif ini berbeda-beda kisaran
12-45 ribu rupiah saja dan hasil dari kerajinan itu bisa dibawa pulang. Wow, menarik ya! Nah, sebelum masuk ke
kawasan Kampung Kerajinan, pastikan kalian sudah membeli tiket di loket
yang tersedia ya. Dari depan
gerbang, kita hanya perlu berjalan lurus
dan nanti tertera bacaan Loket Tiket tepat bersebelahan dengan Planetarium.
Nah,
kembali ke Kampung Kerajinan. Kegiatan apa yang diajarkan di kampung ini? Selain
kegiatan membentuk gerabah menjadi sebuah wadah siap pakai yang terlebih dulu
dikeringkan, anak-anak minimal usia 2 tahun boleh ikut mewarnai hasil gerabah
yang sudah kering dan siap diberi warna. Pilihan warna disesuaikan dengan
keinginan sang anak. Selain membentuk kerajinan dari tanah liat dan mewarnai
hasil kerajinan tersebut, seni yang tak kalah menarik yaitu membatik! membatik
menjadi wahana edukatif pilihan yang dikhususkan bagi anak-anak di atas usia 8
tahun hingga dewasa. Ibu-ibu, hingga usia kakek-nenek pun diperbolehkan ikut
kelas membatik ini.
Mbak Lely, petugas yang melayani kami
di Rumah Batik menjelaskan, kelas ini dikhususkan minimal 8 tahun mengingat
membatik ini butuh ketelitian dan kehati-hatian. Teliti dalam membuat pola dan
hati-hati saat menggunakan canting karena wadah untuk meletakkan lilin cokelat
dalam kendi itu terdapat api dan bersifat panas, khawatir melukai anak-anak
jika kurang hati-hati. Di pelataran galeri rumah batik yang dipenuhi hasil
karya pengunjung di berbagai sudut tembok, Mbak Lely langsung mempersilakan
membuat pola pada kain putih kecil dan sebuah pensil lalu boleh memulai membuat
pola sederhana. Mbak Lely menganjurkan untuk membuat pola agak besar, bisa
motif batik atau lainnya sesuai keinginan. Mengapa harus besar dan tidak perlu
detail bagi pemula? Agar memudahkan saat nanti mengaplikasikan lilin pada kain
putih yang sudah terpola tadi.
Selesai
membuat pola, mbak Lely memandu kami masuk ke dalam galeri. Kursi kecil bercat
cokelat dipersilakan olehnya, Mbak Lely
langsung duduk berhadapan dan mengajarkan cara membatik secara perlahan.
Pertama-tama, canting (alat untuk meletakkan lilin) dicelupkan perlahan dan
diisi oleh lilin secukupnya. Untuk hasil yang tak terlalu tebal, canting boleh
disisihkan terlebih dahulu di pinggir kendi, baru diaplikasikan ke dalam kain
putih. Sungguh bukan pekara mudah karena berulang kali lilin bertebaran
dimana-mana! Ternyata benar, membatik itu butuh ketelitian, ketelatenan,
kesabaran dan kehati-hatian. Sekitar lima sampai delapan menit lebih, lilin
cokelat sudah menghiasi pinggiran bunga besar yang saya buat. Setelah selesai,
Mbak Lely mengajak kami berpindah tempat untuk mewarnai kain putih di bagian
luar galeri rumah batik. Waw, mengapa
diberi warna?
“Agar
lebih hidup hasilnya nanti. Sebab, membatik tak hanya soal mengaplikasikan
canting (lilin) itu ke dalam kain putih. Banyak proses yang harus dilakukan, agar
hasil batik menjadi lebih bagus. Salah satunya diberi warna,” Saya yang awam
dan baru memulai belajar membatik, bertanya penasaran, “Nanti, apa nggak basah
Mbak, lilin yang sudah terbentuk di kain putih ini?” Dengan jawaban penuh
meyakinkan, Mbak Lely menjelaskan, “Justeru lilin itulah yang menghalangi warna
yang kita poles dalam kain ini agar tidak tercampur,” wah, sungguh menarik! Nah, setelah diberi warna, batik terlebih
dulu harus dijemur beberapa saat hingga kering, baru boleh dibawa pulang
sebagai oleh-oleh membatik di wahana edukatif ini. Nah, bagi kalian yang belum
punya rencana liburan, mungkin TPY bisa menjadi wahana alternative pengisi
liburan nanti. Sebab di tempat ini, kita bukan hanya dimanjakan oleh banyak
mainan rekreatif namun juga sarat nilai-nilai edukatif di dalamnya.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar