Mendekati
Sang Pencipta Melalui Sufism Yoga
Ina Salma
Febriany
“Sesungguhnya, dalam penciptaan
langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda
bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri
atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan penciptaan langit
dan bumi (seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini
dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka'.'' (Qs. Ali Imran/3: 190-191).
Bagi
kalangan masyarakat urban, olahraga menjadi kebutuhan yang harus disempatkan
karena padatnya kesibukan. Pilihan olahraga pun semakin beragam. Kita bisa
melihat semakin hari semakin banyak studio berkonsep indoor yang didirikan di sudut ibukota bahkan telah masuk ke pelosok
desa. Olahraga memang seperti kebutuhan biologis lainnya, ia sangat dibutuhkan
demi kesehatan jiwa raga. Terlebih Islam yang menganjurkan pemeluknya untuk
menjaga kesehatan agar kualitas ibadah semakin membaik. Nah, olahraga yang kini
kian digemari masyarakat salah satunya adalah yoga. Konon, yoga ini berasal dari kebudayaan
masyarakat India sejak beribu tahun lampau.
Seiring
waktu, yoga yang lahir sebagai meditasi agama tertentu, kini mulai mengalami
banyak modifikasi. Satu hal mendasar dan penting ialah yoga merupakan aktivitas
harmonisasi antara fisik dan pikiran dengan konsep gerakan dan meditasi. Karena
berasal dari India, gerakan dan meditasi dalam yoga ini berkesan bercampur
dengan tradisi Hindu ataupun Buddha. Yoga ini banyak macamnya, baik berdasarkan
model gerak maupun nilai yang ditekankan. Disebabkan pengaruh impor budaya
yang masif, keberadaan yoga. Karena itu, bagaimana baiknya muslim menyikapi
aktivitas yoga?
Majelis
Ulama Indonesia, dalam perkara yoga ini melakukan riset dan menyampaikan fatwa
seputar pelaksanaan yoga ini. Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia III tahun
2009 yang dilaksanakan di Padang Panjang menghasilkan fatwa seputar yoga, yang
disimpulkan sebagai berikut, pertama, yoga yang berisi ritual dan spiritual
agama selain Islam, hukum melaksanakannya bagi muslim adalah haram. Kedua, Yoga
yang mengandung meditasi dan mantra atau spiritual, dan ritual ajaran agama
lain, sebagai langkah preventif agar tidak melakukan ke perkara yang haram,
maka haram dilakukan. Ketiga, yoga yang murni berupa olahraga untuk kepentingan
kesehatan hukumnya mubah (boleh).
Dalam rilis
fatwa tersebut, MUI menyebutkan telah melakukan pengamatan atas lembaga
penyelenggara yoga di Indonesia. Setidaknya yoga yang dilaksanakan masyarakat
Indonesia digolongkan MUI menjadi tiga: yoga yang berupa ritual; yoga yang
berupa olahraga, namun dengan mantra dan meditasi tertentu; dan terakhir, yoga
yang murni merupakan olahraga.
Adalah Pudjiastuti Sindhu, perempuan berasal dari Bandung, seorang
ibu dari dua anak, sekaligus praktisi yoga & meditasi selama hampir 20
tahun. Dialah yang menginisiasi lahirnya Sufism Yoga atau yoga melalui
pendekatan tasawwuf. Teh Uci, panggilan akrabnya, juga berkiprah sebagai pegiat
sosial serta penulis. Ia adalah pendiri dan direktur Yoga Leaf Indonesia, salah satu pionir komunitas yoga di
Indonesia sejak tahun 2002 yang bertempat di Bandung. Beragam sertifikasi dalam
bidang Yoga telah ia peroleh; seperti RYS200
(Registered Yoga School 200 hours)
dan RPYS (Registered Prenatal Yoga School)
dari Yoga Alliance International. Ia
telah menulis dua buah buku yoga: “Hidup
Sehat dan Seimbang Dengan Yoga” (2006) dan “Yoga Untuk Kehamilan Sehat, Bahagia, Penuh Makna” (2009 ) dan aktif
menjadi pembicara dan pengajar di berbagai seminar dan pelatihan yoga.
Pujiastuti adalah pribadi yang passionate, intuitif, humoris, lembut
namun juga tegas. Ia mengajar kelas Hatha– Yin yang bersifat gentle-but-firm, penuh kesadaran,
membuka wawasan siswa lewat analogi-analogi sederhana dan praktik Yoga Nidra
yang tematik. Seiring perjalanan spiritualnya, pada tahun 2013 Pujiastuti
mendirikan Taman Rumi, sebuah kelompok belajar tasawuf bagi para Sufi pemula.
Sejak itu pula Pujiastuti mulai mengajarkan yoga dengan pendekatan sufisme
(tasawuf).
Sufisme menekankan pada praktik internal dalam hati untuk mengikis
ego kita, yang menjadi masalah utama untuk menjangkau kesadaran diri yang
seutuhnya. Tujuannya ialah agar selalu mengingat Tuhan sebagai salah satu jalan
merasakan kehadiran-Nya di manapun. Yoga Sufisme merupakan praktik yoga yang
menitikberatkan pada disiplin pernapasan dan asana yang lembut dengan
konsentrasi, kontemplasi dan aktivasi Hati (Qalbu) melalui Dzkir (mengingat Tuhan) dan Muraqabat
(meditasi). Meditasi Hati atau Heart
Meditation adalah praktik meditasi hati – Singgasana Ilahi dalam diri. Dalam Sufism yoga, hati adalah objek
dalam meditasi. Karena objek meditasi, maka kita akan merasakan kedamaian
sejati bahwa memang seluruh aktivitas kehidupan bermuara dari hati; sesuai
dengan sabda Rasulullah Saw bahwa jika
hati kita baik, maka baiklah seluruh amalan.
Banyak jalan menuju Roma—seperti halnya banyak cara
mendekati-Nya. Sufisme
yoga menjadi jawaban tersendiri untuk lebih dekat dan mengenal-Nya. Konsep yoga
ini terlahir menjadi yoga dengan konsep baru—yang diinisiasi oleh Teh Uji ini.
Perlu diyakini betul bahwa Islam bukanlah agama yang kaku. Ia bersifat dinamis
sesuai kebutuhan dan perkembangan umat. Sufism yoga menjadi jawaban bahwa yoga
tak hanya sekedar menyelaraskan pernafasan, gerakan dan pikiran (apalagi
mengucap mantra salah satu agama tertentu) tapi melampaui semua itu. Yoga dalam
pendekatan islam/ sufi membutuhkan konsentrasi batin untuk lebih dekat dengan
Allah melalui dzikirullah (mengingat
Allah) dan kebesaran-Nya sesuai dengan perintah pada Qs. Ali Imran/3: 190-191 di atas bahwa dalam segala pose; berdiri, duduk, berbaring (gerakan
inti yang juga ada dalam praktik yoga) tak cukup hanya sekedar bernafas,
bergerak dan meditasi, namun harus bersamaan dengan kontemplasi sejati;
mengingat Allah dan berbagai ayat (tanda-tanda) kebesaran Allah melalui
penciptaan alamnya yang sangat teratur dan sempurna. Semoga melalui Sufism yoga
maupun olahraga lain yang kita lakukan, semakin membuat kita bersyukur atas
kesehatan dan lebih dekat dengan Tuhan. Aamiin.
Wallahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar