Sabtu, 18 April 2020

Mendekati Sang Pencipta Melalui Sufism Yoga


Mendekati Sang Pencipta Melalui Sufism Yoga
Ina Salma Febriany


            Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka'.'' (Qs. Ali Imran/3: 190-191).

            Bagi kalangan masyarakat urban, olahraga menjadi kebutuhan yang harus disempatkan karena padatnya kesibukan. Pilihan olahraga pun semakin beragam. Kita bisa melihat semakin hari semakin banyak studio berkonsep indoor yang didirikan di sudut ibukota bahkan telah masuk ke pelosok desa. Olahraga memang seperti kebutuhan biologis lainnya, ia sangat dibutuhkan demi kesehatan jiwa raga. Terlebih Islam yang menganjurkan pemeluknya untuk menjaga kesehatan agar kualitas ibadah semakin membaik. Nah, olahraga yang kini kian digemari masyarakat salah satunya adalah yoga. Konon, yoga ini berasal dari kebudayaan masyarakat India sejak beribu tahun lampau.
Seiring waktu, yoga yang lahir sebagai meditasi agama tertentu, kini mulai mengalami banyak modifikasi. Satu hal mendasar dan penting ialah yoga merupakan aktivitas harmonisasi antara fisik dan pikiran dengan konsep gerakan dan meditasi. Karena berasal dari India, gerakan dan meditasi dalam yoga ini berkesan bercampur dengan tradisi Hindu ataupun Buddha. Yoga ini banyak macamnya, baik berdasarkan model gerak maupun  nilai yang ditekankan. Disebabkan pengaruh impor budaya yang masif, keberadaan yoga. Karena itu, bagaimana baiknya muslim menyikapi aktivitas yoga?
Majelis Ulama Indonesia, dalam perkara yoga ini melakukan riset dan menyampaikan fatwa seputar pelaksanaan yoga ini. Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia III tahun 2009 yang dilaksanakan di Padang Panjang menghasilkan fatwa seputar yoga, yang disimpulkan sebagai berikut, pertama, yoga yang berisi ritual dan spiritual agama selain Islam, hukum melaksanakannya bagi muslim adalah haram. Kedua, Yoga yang mengandung meditasi dan mantra atau spiritual, dan ritual ajaran agama lain, sebagai langkah preventif agar tidak melakukan ke perkara yang haram, maka haram dilakukan. Ketiga, yoga yang murni berupa olahraga untuk kepentingan kesehatan hukumnya mubah (boleh).
Dalam rilis fatwa tersebut, MUI menyebutkan telah melakukan pengamatan atas lembaga penyelenggara yoga di Indonesia. Setidaknya yoga yang dilaksanakan masyarakat Indonesia digolongkan MUI menjadi tiga: yoga yang berupa ritual; yoga yang berupa olahraga, namun dengan mantra dan meditasi tertentu; dan terakhir, yoga yang murni merupakan olahraga.
Adalah Pudjiastuti Sindhu, perempuan berasal dari Bandung, seorang ibu dari dua anak, sekaligus praktisi yoga & meditasi selama hampir 20 tahun. Dialah yang menginisiasi lahirnya Sufism Yoga atau yoga melalui pendekatan tasawwuf. Teh Uci, panggilan akrabnya, juga berkiprah sebagai pegiat sosial serta penulis. Ia adalah pendiri dan direktur Yoga Leaf Indonesia, salah satu pionir komunitas yoga di Indonesia sejak tahun 2002 yang bertempat di Bandung. Beragam sertifikasi dalam bidang  Yoga telah ia peroleh; seperti RYS200 (Registered Yoga School 200 hours) dan RPYS (Registered Prenatal Yoga School) dari Yoga Alliance International. Ia telah menulis dua buah buku yoga: “Hidup Sehat dan Seimbang Dengan Yoga” (2006) dan “Yoga Untuk Kehamilan Sehat, Bahagia, Penuh Makna” (2009 ) dan aktif menjadi pembicara dan pengajar di berbagai seminar dan pelatihan yoga.
Pujiastuti adalah pribadi yang passionate, intuitif, humoris, lembut namun juga tegas. Ia mengajar kelas Hatha– Yin yang bersifat gentle-but-firm, penuh kesadaran, membuka wawasan siswa lewat analogi-analogi sederhana dan praktik Yoga Nidra yang tematik. Seiring perjalanan spiritualnya, pada tahun 2013 Pujiastuti mendirikan Taman Rumi, sebuah kelompok belajar tasawuf bagi para Sufi pemula. Sejak itu pula Pujiastuti mulai mengajarkan yoga dengan pendekatan sufisme (tasawuf).
Sufisme menekankan pada praktik internal dalam hati untuk mengikis ego kita, yang menjadi masalah utama untuk menjangkau kesadaran diri yang seutuhnya. Tujuannya ialah agar selalu mengingat Tuhan sebagai salah satu jalan merasakan kehadiran-Nya di manapun. Yoga Sufisme merupakan praktik yoga yang menitikberatkan pada disiplin pernapasan dan asana yang lembut dengan konsentrasi, kontemplasi dan aktivasi Hati (Qalbu) melalui Dzkir (mengingat Tuhan) dan Muraqabat (meditasi). Meditasi Hati atau Heart Meditation adalah praktik meditasi hati – Singgasana Ilahi dalam diri. Dalam Sufism yoga, hati adalah objek dalam meditasi. Karena objek meditasi, maka kita akan merasakan kedamaian sejati bahwa memang seluruh aktivitas kehidupan bermuara dari hati; sesuai dengan sabda Rasulullah Saw bahwa jika hati kita baik, maka baiklah seluruh amalan.
Banyak jalan menuju Roma—seperti halnya banyak cara mendekati-Nya. Sufisme yoga menjadi jawaban tersendiri untuk lebih dekat dan mengenal-Nya. Konsep yoga ini terlahir menjadi yoga dengan konsep baru—yang diinisiasi oleh Teh Uji ini. Perlu diyakini betul bahwa Islam bukanlah agama yang kaku. Ia bersifat dinamis sesuai kebutuhan dan perkembangan umat. Sufism yoga menjadi jawaban bahwa yoga tak hanya sekedar menyelaraskan pernafasan, gerakan dan pikiran (apalagi mengucap mantra salah satu agama tertentu) tapi melampaui semua itu. Yoga dalam pendekatan islam/ sufi membutuhkan konsentrasi batin untuk lebih dekat dengan Allah melalui dzikirullah (mengingat Allah) dan kebesaran-Nya sesuai dengan perintah pada Qs. Ali  Imran/3: 190-191 di atas bahwa dalam segala pose; berdiri, duduk, berbaring (gerakan inti yang juga ada dalam praktik yoga) tak cukup hanya sekedar bernafas, bergerak dan meditasi, namun harus bersamaan dengan kontemplasi sejati; mengingat Allah dan berbagai ayat (tanda-tanda) kebesaran Allah melalui penciptaan alamnya yang sangat teratur dan sempurna. Semoga melalui Sufism yoga maupun olahraga lain yang kita lakukan, semakin membuat kita bersyukur atas kesehatan dan lebih dekat dengan Tuhan. Aamiin.
Wallahu a’lam.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar