Sabtu, 17 Desember 2016, Pagi
Alhamdulillah, semalam bisa istirahat dengan baik-- karena ada bonus si cantik bisa bobo deket-deket tapi tanpa nenen (Uhuu ini bonus keajaiban banget, tiba-tiba dia plek ngantuk, hehehe). Usai beberes dan sarapan, langsunglah saya meluncur ke Ballroom, tempat konferensi diadakan. Suami dan anak biasa; mereka happy berdua at the bed room, hihihi..
Disana sudah disambut dengan lagu-lagu rohani yang syahdu dan tepat jam 09.00 konferensi dibuka. Disayangkan, Menteri Agama Lukman Saifudin berhalangan hadir, juga tamu pembicara dari Brunei Darussalam yang dijadwalkan hadirpun absen :( karena isteri beliau sakit dan dirawat. Pun Ketua MUI Ma'ruf Amin berhalangan hadir diganti oleh staff pilihannya. Hmm, baiklah, berharap acara ini tetap khidmat dan bermanfaat..
Memasuki sesi presentasi dari para narasumber, MUI, KPK dan salah satu dosen Malaysia yang orangtuanya berdarah Pekalongan, Dr. Rawdhah Firdaus kondisi ballroom semakin khusyu'. Bapak Emirsyah dari MUI lebih menjelaskan secara teknis mengenai Revolusi Mental, Pembicara dari KPK lebih berbicara lepas mengenai kondisi negeri ini tentang korupsi yang makin menggurita dan memprihatinkan. Sedangkan Dr. Rawdhah dengan bahasa Inggrisnya yang fasih, lebih menjelaskan Revolusi Mental dalam tinjauan Al-Quran maupun Hadits, berdasarkan pengalaman di negara tempat beliau tinggal. Jika diamati seksama, materi beliau-beliau saling melengkapi. Secara sadar, saya mulai memahami bahwa mundurnya negeri ini bukan karena SDA kita miskin, SDM kita kurang cerdas, dan peluang kerja yang tidak banyak. Namun lebih ke KESADARAN SPIRITUAL yang masih tergolong rendah. Contoh nyatanya saja korupsi. Ketika korupsi sudah menjadi lifestyle-- kebiasaan or bahkan ikut-ikutan, dampaknya akan sangat buruk ke anak-cucu-generasi mendatang. Nyontek dianggap hal lumrah, pungli dianggap hal biasa, curang dianggap hal yang wajar terjadi, dan lain-lain, akan melemahkan kesadaran spiritual kita tentang keberadaan Tuhan. Ketika deg-degan or dalam bahasa ini 'nurani' sudah gak bermain saat kita berbuat dosa, atau bahkan hilang sama sekali, maka rasa takut kepada Tuhan pun akan berangsur hilang sama sekali. Miris bukan?
Karenanya, untuk membangun Revolusi Mental, diperlukan kerjasama yang menyeluruh baik dari lapisan masyarakat terlebih diri sendiri. Sehingga, tak perlu berkoar revolusi mental di jalan-jalan dengan demonstrasi dan lain sebagainya; cukup bercermin, berkaca diri, lakukan perubahan BAIK dimulai dari DIRI SENDIRI....
Berikut keseruan acara konferensi internasional di Pekalongan 17 Des 2016 kemarin :)
***
Break Zuhur kira-kira lewat jam 13.00, kami dipersilakan ISHOMA dan mencari ruangan untuk presentasi masing-masing sesuai bidang keilmuan presentator. Kira-kira, ada sekitar 35 pembicara dari berbagai kampus di Indonesia maupun luar negeri. Kebetulan saya mengambil tema Al-Quran dan Ilmu Sosial, maka saya dan 15 orang lainnya ditempatkan di suatu meetingroom kecil di lantai 3, ruang Harmony..
Memasuki sesi presentasi dari para narasumber, MUI, KPK dan salah satu dosen Malaysia yang orangtuanya berdarah Pekalongan, Dr. Rawdhah Firdaus kondisi ballroom semakin khusyu'. Bapak Emirsyah dari MUI lebih menjelaskan secara teknis mengenai Revolusi Mental, Pembicara dari KPK lebih berbicara lepas mengenai kondisi negeri ini tentang korupsi yang makin menggurita dan memprihatinkan. Sedangkan Dr. Rawdhah dengan bahasa Inggrisnya yang fasih, lebih menjelaskan Revolusi Mental dalam tinjauan Al-Quran maupun Hadits, berdasarkan pengalaman di negara tempat beliau tinggal. Jika diamati seksama, materi beliau-beliau saling melengkapi. Secara sadar, saya mulai memahami bahwa mundurnya negeri ini bukan karena SDA kita miskin, SDM kita kurang cerdas, dan peluang kerja yang tidak banyak. Namun lebih ke KESADARAN SPIRITUAL yang masih tergolong rendah. Contoh nyatanya saja korupsi. Ketika korupsi sudah menjadi lifestyle-- kebiasaan or bahkan ikut-ikutan, dampaknya akan sangat buruk ke anak-cucu-generasi mendatang. Nyontek dianggap hal lumrah, pungli dianggap hal biasa, curang dianggap hal yang wajar terjadi, dan lain-lain, akan melemahkan kesadaran spiritual kita tentang keberadaan Tuhan. Ketika deg-degan or dalam bahasa ini 'nurani' sudah gak bermain saat kita berbuat dosa, atau bahkan hilang sama sekali, maka rasa takut kepada Tuhan pun akan berangsur hilang sama sekali. Miris bukan?
Karenanya, untuk membangun Revolusi Mental, diperlukan kerjasama yang menyeluruh baik dari lapisan masyarakat terlebih diri sendiri. Sehingga, tak perlu berkoar revolusi mental di jalan-jalan dengan demonstrasi dan lain sebagainya; cukup bercermin, berkaca diri, lakukan perubahan BAIK dimulai dari DIRI SENDIRI....
Berikut keseruan acara konferensi internasional di Pekalongan 17 Des 2016 kemarin :)
***
Break Zuhur kira-kira lewat jam 13.00, kami dipersilakan ISHOMA dan mencari ruangan untuk presentasi masing-masing sesuai bidang keilmuan presentator. Kira-kira, ada sekitar 35 pembicara dari berbagai kampus di Indonesia maupun luar negeri. Kebetulan saya mengambil tema Al-Quran dan Ilmu Sosial, maka saya dan 15 orang lainnya ditempatkan di suatu meetingroom kecil di lantai 3, ruang Harmony..
Aduh, BLURRRRR diambilin sama mbak-mbak :(
but i'm Happy because i give her my book, 'Al-Quran vs Violence
Presentasi Kelompok 1; Ada yang berbicara tentang Mentalitas, Wayang, Dakwah Muslimah Center sampe tentang Kosmologi Islam
Presentasi kelompok 2: Kekerasan Seksual, Ekonomi Islam, Trafficking dan Tentang Sistem Perekrutan Ketenagakerjaan
------------------------------- ***------------------------------------
Apa hasil akhir dari konferensi ini? Ada beberapa rekomendasi dari seluruh pemateri tentang makalah yang kami tulis. Karena semua makalah berbasis al-Quran, maka kalau makalah saya pribadi merekomendasikan bahwa jika ingin melakukan perubahan yang sempurna dan menyeluruh, tak perlu jauh-jauh. Kita bisa dan mampu mulai dulu dari institusi terkecil yakni 'KELUARGA', sesuai dengan isyarat al-Quran, mengapa pencegahan kekerasan terhadap anak harus dari keluarga? Sebab dari keluargalah seorang anak PERTAMA KALI belajar tentang kasih sayang, perilaku, kejujuran, dan banyak hal. Keluarga pulalah yang bisa membentuk karakter seorang anak di kemudian hari. Karenanya, upaya preventif harus kita mulai dulu dari keluarga :)
Berbicara tentang keluarga, maka inilah sesi foto keluarga kecil kami, hehehe..
***
Minggu, 18 Desember 2016, 10.00 Wib
Selesailah acara konferensi ini, tiba saatnya berkeliling Setono, memburu oleh-oleh.. hihi. Anw, saya kira pasar Setono itu semacam pasar besar tanpa kios ya, as a fact, ternyata mereka berkios-kios gitu dan ada pula kios VIP dan tentu batik-batiknya juga lebih mahal. hehe.. sepenglihatan saya kemarin sih, batik-batiknya ternyata gak jauh beda sama yang di Tn Abang, tapi jelas, kalau beli BATIK dalam bentuk BAHAN, disini memang lebih banyak pilihan dan lebih terjangkau. and the last, Alhamdulillah, bumil kesampean juga ngidam ke Pekalongan, hahaha :)
Berikut hasil narsis kami dari mobil antar jemput bersama mas-mas Hotel, sampai di lokasi Pasar Grosir Setono, hehehu...
Okay, sehabis belanja, kita balik ke hotel, istirahat sebentar, mandi, ngemil-ngemil, check out jam 12 lewat dan diantar lagi sama mas-mas hotel, hehehe..
Back to Jakarta with KA Ekonomi Tawang Jaya... yeyeyeye **
Alhamdulillah..
Thank you, Dears ..
---- The End ----






Tidak ada komentar:
Posting Komentar