Ar-rahmaan dan Ar-rahiim, dua asmaaul husna yang akrab di telinga
kita. Dua nama baik Allah yang senantiasa pula kita baca dan kita ulang dalam surah
al-fatihah lima kali sehari semalam.
Itulah mengapa Allah menyebut surah al-faatihah
sebagai sab’ul matsaani yang berarti
tujuh ayat yang (selalu) diulang-ulang. Jika mau diresapi, lafadz bismillahirrahmaanirrahiim memiliki
makna yang teramat luar biasa. Selain penamaan khusus dari diri-Nya bahwa
Dialah Zat Penebar Cinta, belas kasih dan sayang, secara tersirat juga terdapat
keyakinan kuat dari-Nya, bahwa manusia tak perlu risau dan gelisah mengejar
kasih sayang atau cinta dari makhluk; sebab sifat kasih sayang dan cinta-Nya
sudah melampaui kasih sayang dari para makhluk.
Rahmaan dan rahiim kedua-duanya memiliki
energi tersendiri bahwa sifat Allah itulah yang mampu membuat seluruh makhluk
ciptaan-Nya; tak terkecuali manusia masih mampu hidup, bernafas, menghembuskan
udara segar, berkumpul dengan orang-orang terkasih atau bahkan seluruh organ
yang Dia ciptakan berfungsi sebagaimana mestinya. Maka, ni’mat Tuhanmu yang mana lagikah duhai (Jin dan Manusia) yang masih
dapat kalian dustakan? Demikian, Allah ulangi lagi dan lagi firman-Nya
dengan lafadz yang senada dalam surah Ar-Rahmaan
kurang lebih hingga 33 kali sebagai anjuran untuk sepenuhnya menyadari bahwa
apa yang kita miliki dan peroleh adalah benar-benar karena izin, ridha dan
kemurahan-Nya.
Berbicara
tentang cinta; pasti berbicara tentang rasa. Ya, lebih tepatnya ada tiga cinta
di surah Thaha. Surah Thaha, yang terletak di antara surah Maryam dan Al-Anbiya’ ini memiliki 135 ayat yang di dalamnya memuat dukungan
dan keyakinan penuh dari Allah untuk Rasulullah Saw. Cinta kedua, terlimpah
kepada Nabiyallah Musa as hingga dalam beberapa ayat, Allah Swt berfirman
langsung kepada Musa sebagai bukti bahwa Allah takkan pernah meninggalkannya
seorang diri menghadapi kekejaman Fir’aun. Lalu cinta yang ketiga, Allah
limpahkan untuk Nabiyallah Adam as.
Surah
yang diturunkan di Kota Makkah ini disebut surah Thaha (sesuai dengan ayat pertama surah ini) dengan beberapa alasan
yaitu Thaha adalah juga salah satu
nama mulia yang ditujukan kepada Nabi Muhammad. Dipanggil demikian sebagai
penghormatan dan penghibur hati beliau atas segala pertentangan dan
pembangkangan dari kaum kafir Quraisy. Oleh karenanya, surah ini dibuka dengan Thaha sebagai panggilan lembut dari Sang
Pecinta kepada yang dicinta.
“Thaha. Tidaklah Kami menurunkan kepadamu
Al-Quran agar kamu menjadi susah (celaka). Melainkan sebagai peringatan bagi
orang-orang yang takut,” (Qs Thaha 1-3)
Gambaran
cinta surah Thaha dalam ayat 1-3 di atas tentu sangat berpengaruh kepada sisi
psikologis Rasulullah yang saat masa-masa wahyu diturunkan, kerap merasa
ketakutan, gelisah dan khawatir akan keselamatan dirinya dan umat islam saat
itu. Tentu perasaan yang dialami beliau sangatlah wajar. Sama halnya dengan
kondisi psikis kita saat nyawa terancam, kelaparan, kekurangan uang, terlilit
hutang, dan ketakutan-ketakutan manusiawi yang juga sering kita alami.
Dengan
panggilan-Nya yang lembut itulah, Rasulullah Saw kembali yakin dan percaya
bahwa Allah memang tidak pernah meninggalkan dirinya sekedip matapun. Allah
meyakini bahwa proses turunnya Al-Quran sama sekali bukan untuk menyusahkan
beliau, melainkan sebagai basyiiran
(kabar gembira) bagi orang-orang beriman juga nadziiran (peringatan) agar kita menjaga diri dari perilaku yang kurang
baik dan tidak diridhai-Nya.
Bentuk
cinta-Nya yang kedua, yaitu untuk Nabi Musa as, tertera dalam surah Thaha ayat
11-16, Allah berfirman, “Maka ketika ia
datang ke tempat api itu ia dipanggil: Hai Musa. Sesungguhnya Aku inilah
Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di
lembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang
akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan
(yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat
Aku. Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar
supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan. Maka sekali-kali
janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya
dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi
binasa”.
Dialog
luar biasa yang berhasil membuat Musa as gentar kala itu mampu menumbuhkan
keyakinan baru dalam diri Nabi Musa sebab sebelumnya beliau ketakutan karena
sempat membunuh salah satu kaum Bani Israil karena ketidaksengajaannya. Di
lembah Thuwa itulah Allah memperkenalkan diri-Nya sekaligus memproklamirkan pangkat
kenabian untuk Nabi Musa bahwa dirinya telah terpilih menjadi utusan Allah. Kepada
Nabi Musa, Allah juga memberikan peringatan tentang keesaan-Nya sekaligus pula
menegaskan bahwa hari kiamat pasti terjadi.
Pada
ayat berikutnya, yaitu ayat 17-20, ini adalah bentuk dukungan penuh dan
pembekalan langsung dari Allah bagaimana agar kelak Nabi Musa as nanti sanggup
menghadapi Fir’aun dan bala tentaranya, “Apakah
itu yang di tangan kananmu, hai Musa? “Ini adalah tongkatku, aku bertelekan
padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi
keperluan yang lain padanya”. Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” Lalu
dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang
merayap dengan cepat.
Pemberian
cinta dari Allah berupa mu’jizat ini adalah bentuk kebesaran Allah Swt untuk
salah satu hamba-Nya yang terpilih menjadi Nabi agar Nabi Musa pun meyakini
bahwa Allah takkan pernah tinggal diam. Allah pasti akan memberikan dukungan,
pendampingan, kekuatan dan kemampuan untuk menghadapi orang-orang yang zalim.
Namun pertanyaannya, apakah setelah pertemuan
dan dialog di lembah Thuwa Nabi Musa berani total dan tidak lagi ketakutan?
Jawabannya, tidak. Sebab, ketika perhelatan ular digelar—sebagai tantangan dari
Fir’aun atas pembuktian kenabian Musa as—Nabi yang berada dalam pengawasan
Allah sejak ia dihanyutkan ke sungai ini mengalami ketakutan luar biasa. Hingga
akhirnya Allah membisikkan dengan lembut, “... Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamu lebih tinggi (unggul).
Lemparkanlah tongkat yang ada di tangan kananmu, maka ia akan menelan sihir
yang mereka buat, sungguh itu hanyalah tipu daya tukang sihir. Dan tidak
mungkin menang tukar sihir, darimanapun ia datang,”
Sedangkan
bentuk cinta-Nya yang ketiga, ialah terlimpah untuk manusia sekaligus nabi
pertama; Nabi Adam as, “Dan sungguh telah
Kami janjikan kepada Adam agar tidak memakan buah khuldi sejak dahulu. Lalu dia
(Adam) lupa akan janjinya dan tidak kami dapati baginya kemauan yang kuat,”
(Qs Thaha: 115)
Kita
semua tahu bahwasannya iblis menggelincirkan Nabi Adam dari surga karena godaan
dan ajakannya untuk mencicipi buah yang dilarang Allah. Kemudian Nabi Adam
menangis dan bertaubat kemudian ia temukan bahwa Allah Maha Pengampun, sehingga
Dia mengampuni dosa Nabi Adam serta mengutuskan untuk menjadi khalifah di muka
bumi.
Cinta ketiga
inilah sebagai refleksi cinta dari Allah. Bukti cinta yang tertuju tidak hanya
kepada Nabi Adam as berupa pengampunan kesalahan tapi juga kepada umat Nabi
Muhammad. Jika umat-umat terdahulu, sebut saja umat Nabi Luth, Nabi Hud, Nabi
Musa, langsung diazab Allah karena dosa-dosa mereka, maka bukti cinta-Nya untuk
kita (umat akhir zaman) adalah pengampunan; yang jika kita melakukan kesalahan
dan dosa, lalu bertaubat, maka Allah akan hapuskan segala kesalahan, tak peduli
meski dosa sebanyak buih-buih di lautan.
Allahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar