Siapa yang tak suka dipuji? Pada umumnya, manusia bahagia ketika dipuji. Pujian adalah sesuatu yang menyenangkan dan sangat diidamkan manusia pada umumnya. Ketika dipuji atas kebaikan atau prestasi, misalnya, maka hal itu dapat menjadi pemicu kita agar bisa memberikan yang lebih baik. Namun sebaiknya, sebagai makhluk yang tidak mampu berbuat apa-apa selain atas izin-Nya, maka hendaknya kita kembalikan segala bentuk pujian itu kepada Allah; Yang Maha Menghendaki segala hal agar bisa terjadi.
Berbicara tentang pujian, Allah menamai Zatnya sebagai al-Hamid yang berarti Maha Terpuji. Sedangkan dalam banyak ayat, Allah juga menuliskan al-Hamid pada beberapa surah. Di antaranya ialah “Hai manusia, kamulah yang butuh (tergantung) kepada Allah dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji” (QS Faathir: 15). “Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) Yang Maha Terpuji” (QS al-Hajj: 24). “Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS Luqmaan: 12). “Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Mulia” (QS Huud: 73). Juga di surah Al-Kahfi dan Fathir, Allah membuka kedua surah ini dengan pujian atas-Nya atas segala ciptaan dan kehendak-Nya.
Makna al-hamdu (memuji) hampir sama dengan makna asysyukru (bersyukur atau berterimakasih), akan tetapi al-hamdu lebih luas, karena kita bisa memuji seseorang karena sifat-sifat baik yang ada pada dirinya dan pemberiannya, tetapi kita tidak menempatkan asy-syukru pada sifat-sifatnya, seperti diurai dalam kitab An-Nihaayah fii Gariibil hadits wal atsar (1/1043). Atau Imam Ibnul Atsir mengatakan bahwa al-Hamiid berarti (Dia-lah Ta’ala) Yang Maha Terpuji dalam semua keadaan. Sedangkan di dalam Tafsir Ibnu Katsir menguraikan bahwa al-Hamid artinya Dialah yang maha terpuji dalam firman-Nya, perbuatan-Nya, ketentuan syariat-Nya dan ketetapan takdir-Nya.
Karena begitu luar biasa ciptaan dan kehendak-Nya, maka selayaknya kita sebagai makhluk, berusaha dengan tulus memberikan pujian untuk-Nya. Tak hanya memuji ketika kita memeroleh ni’mat dan kesenangan, tapi tetapkanlah pujian ketika kita pun tertimpa hal yang tidak kita inginkan.
Dalam hadits yang diriwayatkan Anas ra, ada kisah menarik tentang malaikat yang saling berebut ketika mereka mendengarkan kalimat pujian yang terlontar dari seorang hamba Allah.
Dari Anas ra ia berkata, seorang laki-laki datang ketika Nabi Saw sedang shalat, lalu lelaki tadi mengucapkan, "Alhamdulillah hamdan katsiran thayyiban mubaarakan fiihi," kemudian, setelah Rasul selesai shalat, beliau bersabda, "Siapakah tadi yg mengucapkan kalimat pujian?" Para sahabat terdiam dan saling tatap hingga Rasul mengulang pertanyaan tersebut tiga kali. Akhirnya, salah seorang sahabat yang mengucapkan kalimat pujian tadi menjawab, "Saya ya Rasul yang tadi mengucapkanya dengan niat untuk kebaikan," kemudian Rasul bersabda, "Tahukah engkau dua belas malaikat saling berebut ingin menuliskan kebaikan itu untukmu hingga merekapun bertanya kepada Allah 'Wahai Allah bagaimana kami harus menulisnya?' Lalu Allah berfirman, "Tulislah sebagaimana yang dikatakan hambaku tadi," (HR Ahmad)
Subhaanallah, begitu luar biasanya kalimat pujian yang tertuju untuk-Nya hingga belasan malaikat pun berebut ingin menuliskannya lebih dulu tapi mereka bingung apa yang harus mereka tuliskan karena teramat berharganya kalimat yang diucapkan sahabat Rasul di atas.
Allahu A'lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar