Belitung?
Siapa yang tak kenal. Semenjak novel fenomenal karya anak Belitung, Andrea
Hirata ada hingga berhasil diangkat menjadi film, pulau ini seolah memiliki
daya magnet tersendiri dan tak henti dikunjungi. Terlebih saat ini, salah satu ikon wisata terindah di
Belitung, Pantai Tanjung Kelayang dijadikan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
Pariwisata. Dilansir dari website dinas pariwisata kabupaten Belitung, akhir tahun
2018 ini saja ada tiga event besar yang akan diadakan. Beberapa di antaranya
yaitu pagelaran kolosal yang menampilkan kekayaan dan keberagaman pesona
kebaharian, budaya dan olahraga pada 10 hingga 12 Agustus. Kemudian ajang
peningkatan kreatifitas masyakat dalam rangka mendukung pengembangan pariwisata
daerah pada 08 hingga 14 September 2018 menyusul ajang daya tarik wisata dan
budaya pada 15 s.d 19 Nopember 2018.
Bersyukur
penuh bahagia, April 2018 ini pun kami berkesempatan mengunjungi pulau bersih
nan kaya pantai ini. Selain rihlah akademis workshop disertasi kelas 5000 Doktor Kementerian Agama (2016), Belitung menjadi destinasi yang
kami pilih karena memang salah satu kawan kami Bang Iqram—yang lahir dan besar
di Pulau Bangka— merekomendasikan Belitung yang dinilai cocok untuk melepas
penat kesibukan Ibukota. Setibanya di bandara Tanjung Pandan, mobil jemputan telah
siap menunggu. Bus bercat hitam bertuliskan pariwisata itu akan membawa
kami berkeliling. Meski jam masih menunjukkan pukul 08.00 pagi, namun terik
matahari bersinar cerah bercampur semilir angin menyambut kami di Belitung.
Sebelum naik ke dalam bus, sejenak kami sempatkan untuk berfoto ria bersama.
Sambutan hangat
nan ramah dari pria berbalut topi merah dan berkacamata hitam, yang tak lain
adalah lelaki yang menjemput kami pagi itu nampak riang. Sepanjang jalan, ia
tak hentinya berceloteh. Sesekali menjawab pertanyaan kawan kami, Bang Iqram jika ada informasi
yang ingin dibagikan untuk kami. Jalanan pagi itu nampak sangat lenggang,
bersih, mulus. Rumah-rumah tanpa pagar menghiasi pandangan kami. Nyaris tanpa
halangan jika ingin memandang jauh ke depan. Sebab, masih sedikit mobil yang
berlalu lalang. “Kita menuju danau kaolin, ya!”
sahut Bang Iqram memecah kekaguman kami.
Hanya
memakan waktu kurang lebih lima belas menit untuk tiba di danau Kaolin. Danau yang
mirip dengan Kawah Putih, Ciwidey, Bandung ini. Danau Kaolin adalah sebuah
danau yang memiliki warna daratan yang putih bersih dan air yang berwarna biru
menyala. Danau ini bukan berasal dari kawah gunung seperti Danau Kawah Putih
Ciwidey, danau terbentuk dari bekas tempat pertambangan Kaolin yang telah
ditinggalkan dan alam menyempurnakan dengan keindahannya. Kaolin sendiri adalah
suatu mineral sebagai bahan industri seperti kosmetik, kertas, makanan, pasta
gigi. Sifatnya yang halus, dan putih kian digemari.
Pemandangan Danau
Kaolin sungguh menyihir alam pikiran kami. Udara yang panas tak membuat kami patah semangat untuk
mengabadikan gambar di sekeliling Danau Kaolin yang begitu memesona. Timbunan-timbunan
galian seperti bukit di sekitar area danau sekilas seperti Gunung Bromo mini
yang berwarna putih. Daratan bawah danau yang tertutup oleh air seperti lekukan
seekor binatang yang sedang melintas. Di tengah danau nampak sebuah daratan
yang seakan menghubungan antar ujung danau. Jika di Kawah Putih, Ciwidey,
Bandung sarat dengan bau belerang yang menyengat, maka tidak ada bau belerang di
Danau Kaolin ini.
Tetap ceria
berpose meski perut penasaran dengan Mie Belitung.. hihihi
Selesai
memanjakan mata di sekeliling Danau Kaolin, Bang Iqram mengajak kami wisata
kuliner ke salah satu makanan hits di Belitung. Apakah itu? Mie Belitung! Ya,
mie Belitung Atep namanya. Dari kejauhan, warung mie ini selintas kecil.
Meja-meja yang terhampar di pandangan kami pun sudah penuh. Akhirnya, sang
pemilik warung mempersilakan kami ke dalam rumah yang memang juga sudah
disediakan untuk para pengunjung.
Sepanjang
pengamatan kami, warung mie yang telah berdiri tahun 1973 ini terbilang unik.
Begitu masuk, kami disambut oleh banyak foto artis dan para pejabat
politik. Bukti bahwa warung mie ini
sudah banyak didatangi oleh banyak wisatawan. Di sebelah kanan depan rumah difungsikan
untuk menyimpan bahan-bahan dan meracik Mie Belitung Atep, sedangkan di bagian
kiri dimanfaatkan untuk berjualan berbagai macam roti serta pernak-pernik
aksesori telepon genggam.
Tidak sampai
menunggu lama, Mie Belitung Atep yang kami nantikan pun datang, bersama dengan
datangnya segelas Es Jeruk Kunci, yang banyak dipesan di warung ini. Penasaran,
apa sih yang membuat mie Belitung Atep ini terkenal?
Diamati sekilas, Mie Belitung Atep ini berisikan irisan kentang, potongan tahu goreng, irisan timun segar, bakwan udang yang dipotong seperti dadu, sepotong udang rebus, beberapa emping melinjo kecil, dan kuah kaldu kental yang disiram selagi panas. Adalah kuahnya yang memberi rasa khas dan nikmat pada Mie Atep ini. Keharuman yang khas dari Mie Belitung Atep ini membuat citarasa yang unik. Sepiring Mie Belitung Atep harganya juga cukup terjangkau. Jika ingin lebih lezat, warung Mie Belitung Atep ini juga menyediakan cemilan berupa kerupuk ikan, emping sebagai pendamping jika kuah kentalnya yang khas itu ingin dihabiskan. Selepas kenyang, kami dibuat segar oleh es jeruk racikan warung ini. Udara panas, perut kenyang, es segar; PAS. J
Selepas puas
menyantap mie Belitung, kami pun berkesempatan mengunjungi Tugu Batu Satam.
Tugu batu satam adalah sebuah tugu agak tinggi dengan batu besar berwarna
kehitaman di puncaknya, belakangan kami ketahui bernama Tugu Batu Satam Belitung—yang
menarik perhatian kami ketika baru saja turun di depan Mie Belitung Atep,
beberapa saat setelah meninggalkan Danau Kaolin. Lokasinya di tengah bundaran
di pusat Kota Tanjung Pandan.
Tugu Batu Satam berada di lokasi yang cukup padat kendaraan. Nama Batu Satam masih terdengar asing di telinga, dan tidak pernah pula terekam di dalam ingatan bahwa ada hubungan antara batu yang bernama aneh itu dengan Pulau Belitung. Belitung dalam ingatan kami adalah Laskar Pelangi, tambang timah, dan pantai. Belakangan baru kami temui bahwa Belitung ternyata jauh lebih beragam dan menarik. Beberapa kawan kami berkelakar bahwa batu satam artinya batu sangat hitam (karena memang warnanya hitam pekat). Ada pula yang bercanda, “Mari thawaf tujuh kali!” Seolah batu satam itu adalah hajar aswad-nya ka’bah. Hehehe...
Bundaran dimana Tugu Batu Satam berada, dihiasi kolam air mancur yang airnya mengucur hidup lengkap dengan jalur jalan pedestrian mulus mengelilinginya. Delapan pilar menyangga dudukan Batu Satam yang ukurannya cukup besar. Info yang ada dari beberapa website wisata Belitung menyebutkan bahwa satam adalah kata jadian yang berasal dari bahasa Tionghoa. Sa yang berarti pasir, dan Tam yang berarti empedu. Batu Satam ditemukan berada diantara biji timah oleh para penambang timah darat di Belitung, sehingga seolah menjadi empedu pasir meskipun warnanya hitam mengkilat bukan hijau gelap. Batu Satam di Belitung nampaknya hanya yang berwarna hitam mengkilap dengan tekstur yang khas. Tidak ditemukan informasi kapan Tugu Batu Satam Belitung ini diresmikan, namun tampaknya baru setahun atau dua tahun karena masih bagus dan kokoh berdiri.
Tugu Batu Satam
Setelah
bahagia mengabadikan momen di batu satam, Bang Iqram memandu kami menuju homestay
yang akan kami tempati selama 2 hari kedepan. Menempuh jarak puluhan menit, kami
kembali dimanjakan oleh pesona alam
Belitung. Jalanan mulus tanpa macet. Tertib
dan bersih, menandakan baiknya pengaturan
tata kota di wilayah ini. Di tengah perjalanan, ada yang masih asyik
menikmati pemandangan di kanan dan kiri jalan. Ada pula yang terlelap memasuki alam mimpi. Saya dan baby salah duanya. Hihihi...
Adalah Jumhadi— pemilik Homestay ‘Pandji dan Vadila’ di kawasan Desa Tanjong Tinggi, Belitung. Lahir dan besar di Belitung membuat ayah beranak tiga ini menguasai betul kapan persisnya Belitung mulai ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun internasional. Dirinya kini mulai fokus melayani jasa penginapan, makan, dan jika dibutuhkan—merangkap menjadi tour guide. Jumhadi dengan bantuan isteri dan beberapa adiknya, fokus memberikan jasa terbaik demi melestarikan pariwisata Belitung. Dengan jerih payahnya yang hampir 18 tahun ini, Jumhadi dengan berbinar menuturkan bahwa homestaynya telah dikunjungi sekitar 38 negara baik beberapa negara Asia, Afrika, Eropa maupun Amerika! Luar biase’....
Setelah
disambut dengan begitu ramah oleh keluarga Pak Jum—sapaan akrab Pak Jumhadi, kami
pun beristirahat sejenak dan makan siang. Kuliner siang itu adalah hidangan
laut lezat racikan keluarga Pak Jum. Sambal yang beraneka rasa kaya rempah
membuat selera makan kian bertambah J masih lekat
dalam ingatan kami, tak hanya hidangan laut yang disediakan Pak Jum, hari
kedua, kami dibuat terpesona oleh Mie Belitung asli khas orang Belitung! Apa bedanya
dengan Mie Belitung Atep? Jika Mie Belitung Atep berkuah kental dengan mie yang
hanya cukup direbus saja, maka Mie Belitung Pak Jum berbeda. Kuahnya lebih
bening (tidak mengental) namun mie-nya mengkilap bercampur minyak. Bentuknya juga
lebih kecil dari Mie Belitung Atep. Apalagi yang membedakan keduanya? Sambal! Bunda
Ryan, dosen kami dibuat takjub oleh racikan sambalnya yang pedas bukan
kepalang. Hehehe..
Selepas istirahat dan makan siang, kami bersiap menyebrang pulau dan menikmati keindahan panorama Belitung. Tujuan utama kami siang itu adalah ke Pantai Tanjung Kelayang.
Sesampainya di dermaga, kami disambut oleh papan bertuliskan ‘Welcome to Belitung’ dan Pantai Tanjung Kelayang. Tak mau rugi, dengan penuh sukacita kami mulai mengatur posisi. Mengambil angle yang pas untuk diabadikan. “Harus foto sekarang. Kalau nanti, mukanya udah jelek!” canda Abang berkacamata hitam yang tak lain adalah pengemudi mobil jemputan kami. Setelah bantu memotret kami, ia pamit. Di hari ketiga nanti, ia kembali akan menemani destinasi kami ke wilayah penulis novel Laskar Pelangi yang melegenda.
Ibu dan bayi
yang bahagia bisa foto disini..
Kembali ke pantai
Tanjung Kelayang, pantai ini berpasir putih, lautan biru jernih dan dihiasi puluhan
batuan granit raksasa yang tertancap ajaib. Sejauh mata memandang, yang
terlihat hanyalah birunya air laut yang sangat jernih. Kami menghirup udara
dalam-dalam. Sangat bersih, sejuk, mendamaikan dan jauh dari polusi. Pasir di
sepanjang Pantai Tanjung Kelayang tampak putih berseri, halus bak tepung
terigu. Susunan batuan granit yang terhampar di pantai ini sungguh unik. Jika
dilihat secara seksama bentuknya mirip dengan Kepala Burung Garuda.
Beberapa kali Pantai Tanjung Kelayang mendapat sorotan dan perhatian publik, yaitu saat menjadi lokasi syuting Film Laskar Pelangi. Tentu kita semua akrab dengan pemandangan cantik pantai ini. Kemudian, pantai ini juga dijadikan lokasi perhelatan Sail Wakatobi Belitong pada tahun 2011 silam. Luar biasa bukan?
Setelah
memanjakan mata ke Pantai Tanjung Kelayang, kami menyebrang ke Pulau Lengkuas
yang merupakan salah satu primadona pariwisata di Provinsi Kepulauan Bangka
Belitung. Pulau ini merupakan satu dari ratusan pulau yang mengelilingi Pulau
Belitung. Daya tarik utama di pulau ini adalah sebuah mercusuar tua yang
dibangun oleh pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1882. Hingga saat ini,
mercusuar tersebut masih berfungsi dengan baik sebagai penuntun lalu lintas
kapal yang melewati atau keluar masuk Pulau Belitung.
Semoga
semangat calon Doktor sekokoh mercusuar itu, hehehe....
Lokasi dari
Pulau Lengkuas ini berada di sebelah utara Pantai Tanjung Kelayang, Kecamatan
Sijuk, Kabupaten Belitung. Keindahan panoramanya yang dihiasi dengan banyaknya
batu granit yang unik, pasir putih dan air laut yang jernih menjadi daya tarik
tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Pulau Belitung. Pulau kecil yang
bisa dikelilingi dalam waktu 20 menit ini, bisa didatangi dengan perahu sewaan
dari Tanjung Binga maupun Tanjung Kelayang.
Di Pulau Lengkuas, selain menikmati pemandangan pantai yang indah, biasanya pengunjung tidak akan melewatkan kesempatan menikmati pemandangan bawah laut dengan snorkeling atau diving. Di depan perairan Pulau Lengkuas, terdapat spot-spot diving yang bagus. Penjaga mercusuar juga memelihara Penyu hijau. Karena Pulau Lengkuas tidak terlalu luas, untuk menjaga kebersihan dan keberlanjutan lingkungan, pengunjung disarankan untuk membawa persediaan air minum atau air tawar serta selalu membawa pulang kembali sampah yang dihasilkan selama beraktivitas si Pulau, untuk di buang di tempat sampah di daratan Pulau Belitung.
Menikmati
panorama bawah laut bersama Prof. Darwis Hude
Satu
hal yang masih membuat kami penasaran
adalah, wisata pantai di daerah Belitung ini sarat dengan bebatuan granit
besar. Dilansir dari sebuah blog yang pernah
ditulis oleh Ketua Program Studi Teknik Geologi ITB, Budi Brahmantyo. (http://blog.fitb.itb.ac.id), dalam tulisan itu disebutkan, batu granit
di Pulau Belitung sebenarnya adalah bagian dari batuan dasar Indonesia bagian
barat yang disebut sebagai Batolit. Sebarannya tidak hanya di Bangka Belitung
saja, tapi juga muncul di Kepulauan Riau hingga Semenanjung Malaysia. Umur
Batuan Granit di Pulau Belitung diperkirakan mencapai 65-200 juta tahun yang
lalu. Sebaran batu ini juga sudah dipetakan sejak 1995 oleh Baharuddin dan
Sidarto.
Berpose di salah
satu bongkahan batu granit di area pantai Tanjung Kelayang
Batuan ini,
menurut Budi, merupakan hasil pembekuan magma yang bersifat asam, yaitu dengan
kandungan silika yang tinggi lebih dari 65%. Dari peta geologi terlihat bahwa
granit tertua berumur Trias (Triassic) tersebar di Belitung bagian barat laut,
termasuk di Pantai Tanjung Tinggi, Pulau Kepayang dan Pulau Lengkuas. Penyelidikan
oleh Priem et al 1975 menyebutkan umur absolut dari granit Belitung di bagian
barat laut yakni 208-245 juta tahun dan termasuk dalam Zaman Trias.
Budi juga
memaparkan asal usul unculnya bongkah-bongkah granit ke permukaan. Kemunculan
bongkahan itu diawal dari pembekuan granit di bawah permukaan bumi pada
kedalaman puluhan kilometer. Pembekuan ini digolongkan sebagai batuan beku
dalam yang membentuk Batolit. Batuan-batuan ini mengalami proses tektonik
berupa pengangkatan, bahkan beberapa mengalami pematahan dan peretakan. Akibat
dari proses tektonik tersebut, batu granit yang tadinya berasal jauh di bawah
permukaan Bumi akhirnya muncul ke permukaan Bumi. Selama proses pengangkatan
granit dari bawah Bumi, tubuh granit mengalami retak-retak atau deformasi.
Ketika tubuh granit yang retak-retak ini muncul di permukaan Bumi, proses pelapukan dan erosi atau abrasi mengikisnya. Proses pelapukan dan erosi ini berlangsung selama ribuan tahun. Akibatnya, batu granit yang muncul di permukaan seolah-olah merupakan bongkah batuan yang terpisah-pisah. Budi menambahkan informasi dari para penyelam di sekitar Belitung yang menyatakan bahwa jurang-jurang bawah laut terdiri dari lereng-lereng terjal. Lereng batu granit itu menyambung antara satu pulau dengan pulau lainnya. Dari informasi para penyelam ini, informasi geologi terkonfirmasi bahwa pada kenyataannya, semua tubuh granit yang tersebar di Bangka-Belitung, Kepulauan Riau, Singapura, Semenanjung Malaysia, di bawah Selatan Karimata dan Laut Cina Selatan, Pulau Natuna dan sebagain Kalimantan Barat, menyatu. Dalam geologi dikenal sebagai batolit seperti telah diterangkan di awal.
Setelah puas dimanjakan oleh beragam panorama bahari yang begitu sempurna, kami pun kembali ke homestay dengan berjalan kaki yang cukup jauh namun mengasyikkan. Wisata kuliner dan pengalaman menyelam hari menambah semangat kami. Kebahagiaan kami kian lengkap karena selain liburan, esok harinya, kami bersiap menyantap hidangan ilmu materi penulisan disertasi yang akan diampu oleh kedua pengajar yang turut setia menemani perjalanan kami; Prof. Dr. M. Darwis Hude, MA juga Ibu Dr. Nur Arfiyah Febriani, MA.
Keesokan harinya
yang merupakan hari ketiga di Pulau Belitung, kami bersiap pulang ke Jakarta. Sebelum
pulang, kami menyempatkan diri untuk mengunjungi replika sekolah Laskar Pelangi
(SD Muhammadiyah Gantong), Rumah Keong, melintasi rumah penulis novel Laskar
Pelangi, hingga dibuat terkesima oleh interior Museum Kata Andrea Hirata. Takjub!
Exterior Museum Kata Andrea
Hirata; warnawarni bak pelangi :)
The Next Andrea Hirata,
Aamiin.. J
Tiga hari di
Belitung, ternyata kota ini tak sekedar keindahan pantai. Keragaman budaya,
kuliner, bahari, sastra, panorama, keramahan penduduknya menyatu dengan
sempurna. Maha suci Allah yang telah menciptakan segalanya tanpa sia-sia
hingga menjelma menjadi harmoni yang sungguh indah dirasa. Ah, Belitung, kau
adalah keelokan surga dunia yang sempurna....
Selamat berpetualang!
-Insaf
















Tidak ada komentar:
Posting Komentar