Sabtu, 04 Juni 2016

Lactacyd Baby: Sahabat Ibu dan Bayi

#LactacydBaby Sahabat Ibu dan Bayi
Ina Salma Febriany

Assalaamu'alaikum, Selamat malam, para Ibu dimanapun berada, semoga kita semua senantiasa sehat dan semangat dalam merawat buah hati tercinta ya, Aamiin...

Malam ini (5/6) saat saya sedang asyik berselancar di dunia maya mencari beberapa event lomba menulis, tiba-tiba tatapan saya langsung tertuju pada #LactacydBaby. Bukan, bukan karena saya yakin ini sebuah lomba yang hadiahnya cukup menjanjikan, hehe, bukan. Tapi, gambar (foto) lactacyd-lah yang telah mampu memikat hati saya hingga hati ini tak ingin berpindah hati lagi selain lactacyd baby (cieh, hehehe...)

Ibu-Ibu,
Ada cerita panjang mengapa (pada akhirnya) saya jatuh hati dan memutuskan lactacyd baby untuk perawatan kulit puteri pertama saya, Hafiyya Shidqin 'Aliyya. Puteri yang sangat luar biasa (cobaanya, hehe) karena dari sejak lahir, hingga kini 18 bulan masih diberi keistmewaan dan kespesialan (kulit) dari Yang Maha Menciptakan :) 

Saya yakin dan percaya tidak ada ibu di dunia ini yang menghendaki hal yang tidak baik untuk anaknya. Semua ibu yang baik, pasti menghendaki hal-hal yang baik-baik untuk buah hatinya. Tak terkecuali saya. Memutuskan untuk menikah di usia 24 tahun, dengan bekal parenting yang apa adanya (karena Ibu dan mertua saya cenderung memberi kebebasan dan tidak superior dalam pengasuhan), membuat saya belajar banyak hal; termasuk masalah kulit bayi.

Sebelum saya mengulas mengapa akhirnya saya memilik lactacyd baby, info yang saya peroleh dari dokter spesialis langganan suami, juga dokter super spesial kulit saya (hehe..) alergi kulit itu rupanya faktor genetik. Mengingat riwayat saya dan suami pernah mengalami eksim basah (penyakit kulit berupa bercak merah, basah, mengeluarkan bau --malah sempat mengeluarkan darah kotor-- sifatnya mudah menyebar jika digaruk, dan gatalnya sangat luar biasa), membuat kami super hati-hati dalam merawat kulit Hafiyya.

Ketika Hafiyya masih bayi, kulit halus mulusnya hanya bertahan tak lebih dari sebulan. Saya yang waktu itu masih minim informasi, mencoba beragam produk yang ternyata tak bertahan lama dalam memulihkan bercak-bercak merah yang timbul di kemaluan, dubur, hingga bagian punggungnya. Kondisi ini diperparah saat saya coba-coba (buat anak kok coba-coba? hehe) sebuah merk cream yang saya yakini mampu menyembuhkan dan menghilangkan bercaknya. Bukannya menghilang, bercak justeru menyebar; terlebih di dua bulan pertama kelahiran-- saat saya mulai mencoba diapers-- bercak makin timbul banyak, merah dimana-mana yang menyebabkan Hafiyya sering menangis mungkin menahan perih. Berbekal informasi dari Ibu, beliau menyarankan minyak kelapa agar kulitnya tidak kering dan bersisik. Saya sempat coba dan ternyata memang sedikit ampuh walau tidak 100% mengobati, ya.

Akhirnya, saya ada di fase PASRAH, hiks :(

Ya, saya mulai letih. Kira-kira apa yang menyebabkan Hafiyya terus-terusan muncul bercak merah seperti ini? Ya, kalaulah memang genetik dari kami, duh kasihan sekali. Kalau orang dewasa saja kewalahan menahan gatal (terlebih ayahnya Hafiyya saat eksimnya kambuh, hingga ingin menangis menahan gatal dan perih), bagaimana dengan Hafiyya yang kala itu masih bercak belum positif mengidap penyakit kulit tertentu?

Akhirnya saya ubah pola makan' stop telur, stop ikan, stop makanan-makanan yang berprotein tinggi. Sampai Hafiyya memasuki MPASI pun saya ekstra hati- hati. Nah, di usia 6-7 bulan memasuki usia 8 bulan, berkah dari kehati-hatian itu, Alhamudlillah membuahkan hasil, Bercak di kulit Hafiyya mulai berkurang, meski jika mandi, ia masih menggaruk-garuk samping kanan kini pahanya :( tapi sudah ada kemajuan dan kala itu saya mulai mencoba memberinya telur, keju, ayam, ikan dan teman-teman proteinnya yang lain. Dan apa yang terjadi?

Tepat di usia 8 bulan; tiba-tiba ia terus-terusan menggaruk telapak tangan. Kala saya lihat, disana ada sejenis bintil-bintil kecil, mengandung sedikit air dan berkoloni (banyak) hingga menyebar ke seluruh tangan! Oh, Rabb... kenapa ini?

Tak cukup di jemari, bintil itu menjalar ke bagian pergelangan, dan tumbuh hingga kaki! Tak mampu saya duga, penyebaran alergi itu berlangsung cepat dan membesar, memerah dan -maaf- berubah menjadi darah kotor (nanah). Ia pun menjadi rewel siang dan malam, dengan kondisi tangan yang mulai membengkak merah, ia menangis dan kesal karena tangan yang biasanya menggenggam, nyaris tak bisa digerakkan karena kaku di kedua tangannya. Oh, Hafiyyaku :(

Ini waktu Hafiyya terkena penyakit kulit di seluruh ruas jemari tangannya

Mandi dengan lactacyd baby :)

Tak cukup di rumah, kemanapun kami pergi, Lactacyd menyertai :)



Akhirnya, kami langsung ke dokter spesialis kulit daerah Guntur, Setiabudi, Jakarta Selatan, dokter sepuh, seorang Profesor yang saat kami check up Hafiyya, hanya berujar, "Ini genetik, Pak, Bu. Bapak dan Ibu juga punya riwayat sakit kulit?" katanya menebak. Kami serempak menjawab, "Betul, Dok," lalu kami jelaskan kronologinya. Selepas check up, dokter memberikan informasi bahwa Hafiyya termasuk anak yang (sangat) alergi (hypersensitive) hingga dirinya harus menjauhi bulu-bulu (boneka, karpet dan sejenisnya), juga menjauhkan diri dari debu, panas matahari yang berlebihan, dan sebagainya. Kami pun keluar dalam keadaan lega, meski ratusan ribu keluar hanya untuk periksa yang tak lebih dari 20 menit (karena antrian panjang), setidaknya kami mendapatkan resep dari sang dokter dengan harapan Hafiyya segera sembuh. Lantas, apa yang terjadi??

Ternyata Tuhan Yang Maha Baik belum memberi kami waktu untuk penyembuhan Hafiyya 1 minggu setelah obat hampir habis. Hingga akhirnya kami pun mencari second opinion, dokter spesialis kulit di Rumah Sakit daerah Tebet yang sebelumnya check up rujukan dari dokter spesialis anak. Tak jauh berbeda; SAMA. Penyakit kulit Hafiyya masuk dalam kategori eksim yang diperparah oleh kutu (kasur, debu, udara panas juga makin memicu) dan lagi-- kami diresepi obat lagi (salep dan obat racik minum). Sedih sekali, di usianya yang kurang dari 2 tahun harus terus menerus menenggak obat. Namun demi kesembuhan? Kami lakukan....

Dua minggu setelah berobat, luka Hafiyya cukup mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Luka dan gatalnya mulai mengering tapi masih ada sisa-sisa gatal; terbukti ia masih sering menggaruk. Hampir sebulan merawat Hafiyya dengan penuh sukacita (hehehe..) ternyata membuat saya kelelahan (baca: agak stress karena lelah, imun menurun dan kondisi tubuh drop) dan memicu penularan yang sangat cepat. Hafiyya baru mau sembuh, lalu gatal-gatal itu MENULAR ke saya :(

Saya betul-betul sedang disayang Tuhan Yang Maha Baik kala itu; hanya itu yang mampu saya yakini hingga hampir dua minggu saya tidak mampu merawat Hafiyya karena luka pedih dan perih di jemari saya menyebabkan tangan saya kaku. Jangankan memandikan, menggendong saja sakit luar biasa. Dari sinilah saya mulai mengevaluasi diri dan menyadari bahwa SEHAT ITU MAHAL dan HARUS DIJAGA. Akhirnya saya evaluasi lagi alat-alat mandi Hafiyya; sabunnya, handuknya, airnya, hingga.....suatu ketika saya ke sebuah apotik bayi, saya dan suami mendiskusikan ke kepala apotik setempat sabun apa yang aman dan ampuh untuk meringankan gatal-gatal pada bayi (bukan merk yang telah saya coba dan ternyata untuk saat ini belum cocok untuk Hafiyya). Dan kepala apotik menyarankan #LactacydBaby pada kami. Saat itu, bermodal basmalah, saya pun mantap dan mulai mengikrarkan diri hanya untuk lactacyd saja untuk Hafiyya.

Apakah ada perubahan?
Karena penyakit kulit kami ini memang tidak bisa sembuh total (akan kambuh jika ada faktor yang memicu), maka kami menjaganya dengan lactacyd. Ternyata, fungsi lactacyd sendiri bagi Hafiyya tak hanya sekedar untuk perawatan karena ruam popok, tapi juga penggunaan sehari-hari untuk alergi kulit yang dideritanya. Sebab, selain karena PH balance 3,4 yang dikandung lactacyd ini baik dan diformulasikan khusus untuk anak/ orang yang berkulit sensitif, maka lactacyd adalah solusi bagi alerginya baby-- juga kami. Selain cairan lactacyd dapat kami tuang ke dalam bak mandi, cairan lactacyd juga bisa langsung diaplikasikan (digosokkan) ke seluruh tubuh, dapat pula dijadikan shampoo dan tentu juga aman untuk wajah bayi. Dengan wangi yang lembut alami (tidak menyengat), lactacyd benar-benar mampu menjadi pilihan.

Bagai seorang sahabat yang rela dan tulus bersanding di dekat sahabatnya; Lactayd baby juga seperti sahabat untuk kami. Kini, Hafiyya rutin menggunakan lactacyd setiap mandi dan bercak merah di belakang punggungnya? Alhamdulillah berangsur hilang.

Selain untuk ruam popok dan alergi; Hafiyya juga menggunakan lactacyd untuk wajahnya yang sering memerah karena keringat


Semoga pengalaman saya ini mampu menginspirasi para Ibu untuk tidak ragu memilih lactacyd sebagai sabun perawatan bayi dan keluarga Anda.

Terimakasih, Lactacyd Baby
Terimakasih, semua!
Wassalaam...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar